Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Seratus ribu pertama


__ADS_3

"Biarkan aku memeriksa tubuhmu!" Jennie mencegah Reyno saat ia hendak memakai kaosnya. Cowok itu baru saja mandi, sudah memakai boxer dan kaos dalam dari kamar mandi sebelumnya.


"Tuh kan, alergi kamu kumat!" Jennie terus memutar tubuh Reyno. Memeriksa badanya setiap inci. Ada beberapa bercak merah di kulit tangan Reyno.


"Alergi sedikit, itu wajar. Yang penting ngga sampai parah banget," ujar Reyno sedikit menenangkan kecemasan istrinya. "Nanti minum obat, kan masih ada obat alergi yang Jennie beliin waktu itu."


"Tangan kamu!" Jennie terperanjat saat tak sengaja melihat telapak tangan Reyno. Siniin ngga!" bentak Jennie saat Reyno menyembunyikan telapak tangannya.


Jennie menarik paksa tangan Reyno, membuka kepalan kuat pada dua telapak tangan suaminya. "Ya ampun, tangan kamu kenapa bisa luka-luka begini?" Jennie meringis ngilu, seolah tubuhnya dapat merasakan sakit dan perih yang Reyno rasakan. "Pakai baju kamu, aku ambil obat merah dulu."


Jennie langsung ke luar mengambil obat merah, lalu kembali ke kamar untuk mengobati luka Reyno. Cowok itu sudah menunggu dengan muka polos yang pemperhatikan kekhawatiran Jennie karena melihat luka di telapak tangannya.


"Duduklah, buka kedua telapak tanganmu." Jennie mendorong Reyno hingga duduk di bibir tempat tidur, lalu ikut duduk di atas pangkuan Reyno. Ini mengobati luka versi Jennie, jangan ditiru.


"Sebenarnya badan aku jauh lebih sakit dari pada luka ini," adu Reyno saat Jennie sedang mengobati lukanya. "Nanti malam aku pijitin ya, sampai kamu tidur." Jennie tersenyum, lalu mengobati luka Reyno.


"Selesai ... tunggu lima menit sampai obat merahnya kering." Jennie menutup obat merahnya, lalu merangkulkan dua tangannya memeluk Reyno.


"Kamu curang! Aku ngga bisa ikut meluk kamu, tahu." Reyno manyun. Telapak tangan Reyno masih terbuka sambil direntangkan ke depan, mengikuti perintah tuan putri kesayangannya.


"Sama aja, kan yang penting nempel," balas Jennie tidak tahu diri. Cup! Satu kecupan di pipi Reyno mendarat dengan lembutnya.


"Lagi!" protes Reyno. Kemudian Jennie mengecup pipi sebelahnya lagi. "Lagi yang banyak, biar sakitnya hilang." Ini juga tidak boleh di tiru, ciuman tidak dapat menghilangkan rasa sakit. Hanya merubah suasana hati menjadi lebih baik dari sebelumnya. Adegan ini hanya cocok untuk para budak cinta.


Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup. Jennie menhujani puluhan kecupan di wajah Reyno. Cowok itu tersenyum senang. Sorot matanya seolah sedang mengatakan, enaknya punya istri.


"Cepat sembuh ya, sayangnya aku." Jennie menepuk kedua bahu Reyno pelan, lalu merangkum wajah Reyno dengan kedua tangannya. "Reyn..." lirihnya.

__ADS_1


"Iya, kenapa?" Reyno memandang netra hitam yang ada di depan wajahnya. Keduanya saling memandang dengan binar polos.


"Jangan membohongi diri kamu sendiri." Jennie mengucapkan kata-kata yang langsung membuat Reyno menyerngit bingung. "Tidak ada proses berubah yang sangat drastis seperti kamu, semuanya butuh waktu, jangan terlalu memaksakan diri untuk dewasa. Aku mau lihat kamu jadi Reyno yang apa adanya."


Reyno tertegun sebentar sebelum membalas perkataan Jennie. "Kamu juga berubah jadi manja, sebelumnya kamu engga begini. Tomboy dan galak," ujar Reyno sambil menatap Jennie serius.


"Aku memang asli manja begini, hanya saja aku manja pada Bunda dan Ayahku. Karena sekarang aku hidup sama kamu, jadi sikap manja itu perlahan beralih ke kamu. Memang aku tidak pernah menunjukan sikap ini ke siapapun selain kedua orang tua aku, dan yang terakhir sama suami aku sendiri."


"Bagiamana dengan William? Aku penasaran dengan gaya pacaran kalian berdua." Mulai membahas mantan, biasanya kalau sudah begini, orang yang membahas duluan yang akan ngambek juga.


"William, ya. Dia pacar terakhirku yang cukup spesial. Tetapi aku tidak pernah bermanja-manja seperti ini."


"Hei, beraninya kamu menyebut kakakku sebagi pacar spesialmu. Turun dari pangkuanku sekarang juga!" Mode ngambek Reyno diaktifkan. Cowok itu menggoyangkan tubuhnya agar Jennie mau turun.


"Hahaha!" Jennie tergelak. Apa yang kau pikirkan, dia itu kakakmu." Jennie masih tertawa senang. Rasanya sangat aneh, dulu ia selalu merinding jijik ketika melihat Reyno ngambek dengan bibirnya yang mengerucut seperti itu, tapi sekarang beda, Jennie ingin melihat mode manja Reyno ketika ngambek, bila perlu setiap hari.


"Aku senang melihat kamu cemburu." Satu kecupan lagi mendarat di bibir Reyno. Wajah ngambeknya berubah menjadi rona merah yang memukau. "Hubunganku dengan William sudah usai, nyatanya lelaki di depanku ini adalah masa depanku yang sesungguhnya. Kamu pria terbaik sedunia." Jennie memuji.


"Apa sih, Jennie." Reyno memalingkan wajahnya malu.


"Cie ... cie. Malu, nih," goda Jennie sambil cekikikan. Sudah lama tidak melihat wajah Reyno malu seperti itu.


"Oh, ya... aku punya sesuuatu buat kamu." Reyno merogoh saku celananya. "Terimalah, mungkin nominalnya tidak seberapa, tapi ini sisa dari gaji pertama yang aku dapat hari ini. Gajiku hanya seratus dua puluh lima ribu, mungkin jauh sekali dengan pendapatanmu saat balapan. Tapi aku harapap Jennie tidak membandingkannya dengan penghasilanku yang tidak sebarapa."


Ada yang jatuh, tapi bukan hujan. Tidak terasa air mata Jennie menetes saat Reyno menggenggamkan uang seratus ribu di tangannya. Nominal yang sangat kecil memang, tapi tangan Reyno sampai terluka demi mendapatkan upah yang tidak seberapa itu. Jennie juga bisa membayangkan banyaknya keringat Reyno yang bercucuran saat ia bekerja. Pria delapan belas tahun itu sedang belajar menjalankan perannya sebagai seorang suami.


"Terima kasih, Reyn. Semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk hidup kita kedepannya. Menikah memang seperti ini. Pasti selalu ada saja rintangan di awal pernikahan. Semoga kita dapat melalui kesulitan ini sampai datangnya sinar cerah dikemudian hari. Aku mencintaimu." Jennie memeluk Reyno dengan wajah berseri, linangan airmata masih membasahi pipinya. Air mata bahagia lebih tepatnya.

__ADS_1


"Aku juga cinta kamu, Jennie."


Krukk ... krukk. Suara perut Jennie mengganggu suasana romantis di anatara mereka. Pelukan hangat itu terlepas bersamaan dengan kecanggungan dari wajah Jennie.


"Lapar?"


"Ia, hehehe." Jennie menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


"Ayo makan, aku tadi beli makanan di luar."


"Makan apa?" Jennie bertanya karena masih canggung gara-gara perutnya yang tidak dapat dikondisikan.


"Makan samyang sambil kayang."


"Hah? Emang bisa?" dahinya mengkerut bingung."


"I Love u sayang."


"Buahahaha." Jennie tergelak kencang. "Aku udah serius banget loh, kamu malah ngelawak."


"Bagus kan, pantun aku?"


"Jelek! Gak nyambung," kilah Jennie sambil memalingkan wajahnya.


***


500 like dong ... hahaha.

__ADS_1


__ADS_2