Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2-Bab 32


__ADS_3

"Jadi kalau cowok harus banget pake begituan ya? Kalau aku pakai bisa engga?" Reyno memutar posisi tubuhnya, malas.


Sasha sialan. Awas ya, besok. Kau akan mati di tanganku. Gerutunya dalam hati. Ini lagi Jennie, ngapain cewek pakai begituan. Bikin kesal saja.


Pagi menyapa, namun pertanyaan Jennie masih berkutat pada seputar tissu. Benda ajaib yang baru pertama ia temukan setelah sekian taun menikah. Di mana Reyno selalu berhasil menyembunyikannya selama ini.


"Tadinya aku pikir semacam tissu yang buat galon air, soalnya agak mirip gitu, tapi Sasha ngebahas masalah ranjang. Aku jadi bingung." Jennie kembali bertanya untuk kesekian kalinya. Membuat Reyno ingin bersembunyi di dalam goa terpencil.


"Reyn!" panggil Jennie. "Kamu masih kesal sama aku? Lagian aku sudah tidak mempermasalahkan rahasia kamu yang terbongkar. Mau pakai begituan atau engga, aku tidak akan ngejek kamu. Aku cuma penasaran, apakah wajib banget pakai begituan?"


Membalikkan tubuhnya seraya mencebik. Reyno menggigit ujung jari tangan Jennie gemas. "Tapi pertanyaan kamu bikin aku malu, tahu. Seolah aku cowok lemah. Benda itu cuma aku pake di saat-saat tertentu aja."


"Ngapain malu? Kalo kenyataanya kau butuh," kelakar Jennie yang semakin membuat Reyno marah.


"Au akh!" decak Reyno sebal.


"Hehehe," tawa Jennie garing. "Jadi kalau Sasha engga ngasih tau, kamu akan terus nyembunyiin hal itu dari aku ya?"


"Iyalah, aku 'kan malu. Takut diejek cowok lemah sama kamu. Dengerin aku ya, ada benda itu atau tidak, aku tetap kuat dan perkasa," ujarnya membanggakan diri. "Tissu itu aku pakai kalau lagi kurang percaya diri."

__ADS_1


"Nyatanya aku engga ngejek kan?"


Reyno mencebik seraya menarik si bawel Jennie ke dalam dekapannya. "Apaan, kamu nanya-nanya terus seolah lagi ngehina aku. Apa itu gak ngejek namanya."


"Aku nanya karena penasaran, Reyn." Jennie membela diri. Tanggannya mentowel-towel pipi Reyno yang kembang kempis menahan kesal.


"Jadi ini toh, rahasia kamu yang kadang suka berdiam diri di kamar mandi sampai 30 menit lamanya." Berdecak sebal, mulut Jennie masih terdengar mengejek di telinga Reyno. "Besok-besok udah engga kayak gitu lagi, dong. Kan udah ada aku yang bisa bantuin kamu pakai."


"Besok-besok gak akan pakai itu lagi," timpal Reyno cepat. Suaranya melengking jutek. Membuat Jennie menahan tawa di dalam balutan dada Reyno.


"Kamu nyebelin!"


"Jangan malu dong, Sayang. Semalam kita udah janji buat baikkan loh. Ngomong-ngomong siapa yang ngajarin kamu pakai benda itu? Gak mungkinkan, kamu bisa tahu tanpa ada yang memberi tahu," ujar Jennie menekankan pertanyaanya.


"Siapa lagi memang yang suka ngasih tahu hal-hal aneh. Masa kamu gak bisa nebak?" tanya Reyno dengan nada sinis. Masih ngambek ceritanya.


"Si mandor gendut itu ya?" tebak Jennie yang disusul anggukkan konfirmasi dari Reyno.


"Tapi kalau kamu gak pake benda aneh itu bisa kan?"

__ADS_1


Melotot marah. Reyno menggigit bahu polos Jennie sekencang-kencangnya. Jennie mengaduh, menatap Reyno dengan sorot mata bingung.


"Kamu ngeraguin kemampuan aku terus ya. Aku kan sudah bilang jarang pake begituan. Cuma di saat-saat tertentu pas lagi insecure. Dan juga aku ngelakuin itu buat kamu, biar kamu nyaman dan gak ngatakin aku suami payah," gerutu Reyno kesal.


Tertawa garing untuk kesekian kalinya. Jennie menepuk bahu Reyno gemas. Suaminya yang satu ini selalu membuat Jennie geretan karena tingkahnya.


"Makasih ya, sudah peduli sama perasaan aku. Suami aku memang yang terbaik. Selalu memperhatikan kebahagiaan istrinya dalam hal apapun." Ucapan Jennie membuat mood Reyno berubah drastis. Dalam sesaat, bibir manyunnya tertarik. Memamerkan deretan gigi putih dengan sorot mata bahagia.


Begitulah hubungan suami istri yang seharusnya. Sebagai pria, Reyno tidak mau egois dan mementingkan kebutuhan bilogisnya saja. Harus ada timbal balik yang seimbang, di mana kenyaman istri adalah hal yang harus diutamakan.


Kata pak mandor, jangan sampai jadi suami yang habis tancap langsung pergi. Percayalah, hal seperti itu menyakiti hati pasangan kita. Meskipun melayani suami adalah hal yang wajib. Namun bukan berarti suami berhak meminta jatah wajib dengan seenaknya tanpa memperdulikan hati istrinya. Harus ada timbal balik. Kalau bisa ajak ngobrol istri sesudah dan sebelum melakukan hubungan intim. Disayang-sayang, diperhatikan, juga didengarkan segala keluh kesahnya.


Di negara Indonesia sendiri, masih dalam tingkatan kategori miris. Di mana minimnya pengetahuan laki-laki akan hal semacam ini. Juga diamnya perempuan yang lebih memilih menahan rasa dibandingkan mengungkap kejujuran.


So, bagi yang merasa sudah menikah, mulailah hubungan dengan saling terbuka—lepaskan semua keluh kesah ataupun unek-unek yang ada di dalam hati.


***


Peringatan Author:

__ADS_1


Yang belum nikah dilarang keras beli ya, ini yang aku ceritakan adalah benda bahaya banget. Tak sembarangan orang bisa pakai, apa lagi yang belum cukup umur. Bisa membunuh. bahkan merusak si itu, jadi mengecil, mati tak, berfungsi. Nah loh, jangan coba-coba.


__ADS_2