
Di salah satu hunian apartemen mewah yang terletak di pusat kota New York, dua mahluk bodoh sedang beradu argumen masing-masing. Saling menyalahkan dan melempar amara. Siapa lagi kalau bukan William dan Bebi Tere, dua mahluk yang memiliki keterikatan tanpa adanya dasar cinta. Kini bukan hanya keterikatan pada perjodohan keluarga, namun ada tali kuat yang mengikat mereka berdua. Bayi di dalam kandungan Tere.
Tere sedang duduk bersandar di ranjang kamar William, dan pria itu juga ikut duduk di hadapan Tere. Saling bersitatap dengan pandangan penuh kebencian.
“Apa kau gila! Pekerjaan dari ayahmu sangatlah banyak, tapi kamu malah datang mengacau di kantorku. Muntah dan pingsan, kau sangat menyusahkan bodoh!” William menggeram kesal. Menggusar rambutnya ke belakang beberapa kali.
Kemarin Tere tiba-tiba muntah, mengeluarkan semua isi perutnya di baju William, dan hari ini, gadis itu melarang Willam untuk bekerja. Tere meminta William untuk tetap berada di sampingnya. Sepertinya itu adalah bawaan bayi di dalam kandungannya.
“Bodoh? Berani sekali kamu mengatakan aku bodoh, kamu lelaki tidak tahu diri. Ini semua akibat kecebong yang kau masukan ke dalam tubuhku. Bisa-bisanya kau menyalahkan aku sendiri. Cih!” Tere berdecih sambil melotot.
“Kamu sendiri yang memasukan obat ke dalam minumanku, dasar wanita gila.”
Argh! Aku benar-benar kesal dengan pria itu, tapi kenapa bayi sialan ini ingin dekat-dekat dengan manusia itu?
“Kau bisa menolaknya, tidak usah di minum. Bila perlu jangan datang waktu aku memanggilmu kala itu.”
Pikiran William kembali lagi ke masa itu, di saat dia pergi menuju hotel di mana Tere berada. Pria itu sangat panik dan buru-buru. Bagaimana tidak panik, Tere mengancam akan bunuh diri jika ia tidak datang, meskipun William tahu pria yang dimaksud bukan dirinya, namun ia tetap datang untuk menyelamatkan gadis itu. Tapi ternyata ia malah terjatuh ke dalam jebakan betmen yang dibuat gadis gila itu. Lupakan. Bisa gila kalau di ingat-ingat.
“Terserahlah! Aku sangat sibuk, aku akan segera kembali ke kantor. Diam di sini, jika lapar panggilah pembantu.” Wiliam hendak pergi, Tere langsung menahan tangan kekar itu secepat kilat. “Jangan pergi!”
“Atas dasar apa? Hei!” bentak William emosi.
“Anak ini ingin tetap kamu ada di sini.”
Cih! Aku benar-benar mengatakanya. Tak kusangka damage orang hamil bisa sebesar ini. Hasrat apa yang ada di dalam diriku ini, bisa-bisanya menginginkan bedebah itu tetap di sampingku.
“Lagi-lagi kau membawa alasan tidak masuk akal itu!” Marah sekali.
“Alasan apa?” tanya Tere polos.
“Mahluk itu!” Menunjuk perut datar Tere. “Bisa-bisanya kau beralasan bahwa mahluk tak kasat mata itu yang menginginkanya.”
__ADS_1
“Itu bawaan bayi, Bodoh!”
“Ya! Sebaiknya kau cepat lenyapkan mahluk sialan itu, merepotkan!” geramnya kesal. Tere hanya mengangguk dengan wajah tidak berdosa.
Awalnya William tidak percaya bahwa gadis itu hamil, namun Tere melemparkan hasil USG'nya ke wajah William. Barulah ia percaya, bahwa Tere sedang hamil enam minggu.
“Apa aku harus terus duduk di sini?” Menggusar rambutnya frustasi. Lagi-lagi ia geram melihat perut datar Tere. Kehadiran bayi sialan itu benar-benar mengguncang kejiwaanya. Otaknya terus menari-menari, memikirkan sejuta pertanyaan yang tidak terjawab. Mengapa harus William? Dosa apa ia di masa lalu? Sampai-sampai harus mendapatkan bayi secara dadakan, yang bahkan melakukanya hanya sekali, tidak sadar, tidak tahu seperti apa rasa nikmatnya. Harusnya ia melakukan hal itu dengan sweetheart—nya. Bukan perempuan gila seperti Tere. Akh! William tambah frustasi kalau memikirkan hal itu.
“Bayi ini hanya mau dekat denganmu, asal jangan pernah menjauh lebih dari jarak empat meter, kau boleh melakukan apapun.” Tere mengambil ponselnya. “Aku akan menelpon kekasihku, tolong jangan bicara!” William segera merebut ponsel Tere, melemparnya ke arah tembok.
“Berani sekali kau, setelah memperdayaku seperti pembantu, kau mau asik-asik menebar cinta di hadapanku. Kau fikir aku sedang menonton film india, hah?”
“Kamu juga boleh menelpon kekasihmu, kok. Aku hanya menyuruhmu untuk tetap di sampingku. Apapun yang kamu lakukan di sini aku tidak peduli.” Tere menjulangkan kaki mungilnya ke atas lantai, berjalan dan mengambil ponsel yang di lemparkan William tadi. Untung tidak rusak. Huuuh. Hendak menekan tombol memanggil, menghubungi pacarnya kembali.
“Jika kau berani menelpon dan main india-indian di hadapanku. Aku akan memusnahkan bayi itu sekaligus dengan ibunya,” ancam William geram. “Apa kau lupa sedang berada di mana? Ini kamarku, hanya ada aku di rumah ini.” Menyeringai licik.
Cih! Dasar psikopat!
Tahukah alasan mengapa William melarang Tere menelpon pacarnya? Karena gadis itu terlalu bucin saat menelpon, berjam-jam tanpa henti, sampai telinga William panas mendengarnya. Cukup satu kali saat di kantor kemarin, Tere menelpon pacarnya dari siang sampai sore, habis itu gumoh di baju William.
“Berisik!” bentak William saat mendengar suara Tere cekikikan di atas sofa. “ Jangan bersuara! telingaku tidak menerima kehadiran suara cemprengmu itu!” Selalu berbicara dengan urat.
“Memangnya kamu siapa?” Tere melempar bantal dari jarak empat meter, tepat mengenai sasaran. Menghantam wajah William.
“Berani sekali kau!” William sudah bangun dari posisi terlentang. “Aku benci sekali dengan manusia pengganggu tidak sopan sepertimu.” Berjalan mendekati Tere, semakin dekat karena pria itu sudah duduk di hadapan Tere. Mencengkeram rahang gadis itu dengan kasar.
“Ma—mau apa kamu?” Sulit untuk bicara, karena rahangnya terkunci oleh tangan William.
“Ja-jangan membunuhku, ayahku tidak akan membiarkanmu hidup jika itu terjadi.” William tidak peduli, semakin mendekatkan wajah seramnya. “Hei, jangan macam-macam!” Tere mencubit lengan William yang masih mencengkeram wajahnya. Namun sepertinya lelaki itu mati rasa.
“Ampunnnnnnnnnn!” Tere pura-pura menangis ketakutan.
__ADS_1
“Cih! Aktingmu sangat buruk.” Menghempaskan wajah itu ke belakang.
Sudah gila sepertinya aku, bisa-bisanya aku bersama psikopat mengerikan ini di sini. Aku ingin pergi, tapi seperti ada sesuatu yang menahanku di sini. Bawaan sialan.
“Ikut aku!” William menarik lengan Tere agak kasar. “Mau kemana?” tanya gadis itu masih takut.
“Ikut saja!” William sudah hampir membuka pintu kamarnya. Namun Tere menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Kau mau mengajaku kemana?”
“Ruang baca.”
“Mau apa?”
“Aku harus tetap bekerja meski berada di dalam rumah. Bukankah kamu yang melarangku ke kantor?” gerutunya sambil jalan. Cih! Ayah dan anak sama saja, merepotkan. Harusnya aku sudah bermanja-manja dengan sweetheart.
Fiuhhh ... Aku kira pria itu mau mengeksekusiku di ruang gelap, lalu membunuh kami berdua dengan keji.
“Tunggu dulu!” cegah Tere saat mereka hendak masuk ruang baca.
“Apa lagi? Apa kau ingin melarangku bekerja di rumah?” Menggeram sekali lagi. Selau saja emosi jika melihat wajah Tere yang polos tak berdosa itu. Ingin sekali William menyiramnya dengan air raksa.
“Aku lapar, aku ingin makan nasi goreng pakai cabe rawit yang dipotong-potong,” ucapnya sedikit memelas.
“Huuuuh. Ya makan lah, ke dapur dan minta pembantu untuk membuatkan makanan yang kau mau.” Kesal. Begitu saja harus lapor pada William.
“Tidak mau, bayi ini mau makan nasi goreng buatanmu.”
“Kalau begitu mati saja dengan bayimu sekalian, tidak usah makan. Kau pikir aku pernah menyentuh alat-alat dapur. Sudah gila ya!”
“Hiks ... Hikss ...”
Percayalah, habis itu Tere langsung terpuruk di lantai, menangis dan merengek seperti anak kecil. Pada akhirnya Williamlah yang harus mengalah, akhirnya pria itu membuatkan nasi goreng keinginan wanita gila itu, dengan bantuan tutorial youtube. Karena mendengar rengekan wanita nyidam lebih mematikan dari pada menyentuh kompor dan alat-alat dapur.
__ADS_1
***