Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 62


__ADS_3

Ting .... Tong .... Ting .... Tong  .... Ting .... Tong ....


Suara bell pintu apartemen berbunyi cepat bagaikan alunan musik yang merusak gendang telinga. Masih dengan bakwan yang menempel di bibir, Alex membukakan pintu untuk manusia yang bertamu dengan tidak tahu diri itu.


"Uhukk!" Bakwan jatuh ke lantai. Alex tersedak sisa potongan bakwan. Matanya membola sempurna seperti orang yang hendak on the way mati.


"Eh ... eh!" Reyno dengan sigap memukul leher belakang Alex hingga potongan bakwan itu terpental keluar dari kerongkongan Alex.


"Ehmm!" Alex mengatur deru napasnya yang tersenggal. Untung tidak jadi mati, pikirnya.


"Kamu ngapain ke sini, Reyn?"


Sejurut kemudian, mata Alex tertuju pada dua bocah kecil yang mendongak dengan mata polos. Firasat buruk menerpa jiwa seketika.


"Astaga, ada anak monster!" Alex mundur satu langkah. Jujur, ia takut sekali dengan kedua anak Reyno. Sangat imut-imut, namun begitu mengerikan menurut Alex. Sebelas dua belas dengan ibunya.


"Persilahkan kami masuk dulu." Reyno memandang kedua anaknya untuk masuk ke dalam apartemen Alex. Terjadi hening sejenak, Alex masih melongo dengan pandangan terheran-heran.


"Hei!" seru Alex, kesal. "Siapa yang menyuruh kalian masuk. Aku tidak mengizinkan kalian berkunjung di sini. Demi apapun, tolong cari tempat lain."


Alex sudah tahu perihal aksi kabur bawa anak yang Reyno lakukan. Namun ia tidak pernah menyangka bahwa rumahnyalah yang akan menjadi target penampungan Reyno dan anak-anaknya. Ah, dia bisa gila kalau begini caranya.


"Hanya satu malam, besok kita akan kembali pulang."


"Satu malam kalian di sini sama halnya menghancurkan hidupku satu tahun," pungkas Alex membersamai penolakannya.


"Oppa salange," seru Cilla. "Papa, teman Papa anteng. Cilla cuka. Siapa namanya, Pa?"


"Om Alex, Sayang," ucap Reyno memberi tahu.


"Namanya agus anet, Pa. Cilla mau panggil Oppa aja. Oppa Alex salange ...." Mata Cilla berbinar menatap Alex. "Waktu itu ada Om Alex, tapi Cilla gak tau namanya." Cilla terus berceloteh. Sepertinya ia sangat menyukai paras Alex.


"Pa, kalo Cilla udah besal mau nikah sama, Oppa Alex bole tak?"


"Nikah?" Reyno terkekeh geli.


Sial!


Sementara Alex mengumpat kesal di dalam hati. Berani-beraninya anak 3 tahun lewat itu mengajaknya nikah. Geli, itu sama sekali tidak lucu. Alex tidak suka dengan anak perempuan Reyno yang kecentilan.

__ADS_1


"Jangan diambil hati, Al. Cilla hanya anak kecil! Itu artinya dia menyukaimu," timpal Reyno membela anaknya.


Cih! Alex semakin kesal. Mau anak kecil atau bukan. Ia tetap merasa kesal karena wanita pertama yang mengajaknya menikah adalah anak-anak.


Reyno dan anak perempuannya sudah duduk di sofa, sementar Cello sudah loncat-loncat dan melompat di atas sofa.


"Kamu mau minum apa Reyn?" Alex bertanya dengan wajah masam.


"Oppa Al, Cilla aus, mau cucu," rengek gadis kecil yang tengah menatap Alex lekat.


"Aku tidak ingin minum, tapi kalau bisa buatkan susu untuk kedua anakku ya, Al. Aku benar-benar lelah—mengasuh dan mengajak mereka bertamasya ternyata menguras tenaga."


"Tamasya?" Mata Alex kembali menyorot sempurna. Lengkap dengan dahi yang menyerngit heran. Apa Reyno tidak tahu bahwa seluruh grup sedang membicarakannya? Ah, detik itu juga Alex ingin membawa dan menjatuhkan tubuh Reyno dari atas gedung tinggi.


Sungguh, baru pertama kali ini Alex memiliki teman sekocak Reyno. Di saat sang istri cemas mencarinya, ia malah asyik bertamasya keliling-keliling kota.


"Al! Cepat buatkan. Aku akan membantu skripsimu jika kau mau menolongku."


"Serius?" Reyno mengangguk seraya membentuk tangan menyerupai kata oke.


"Baiklah, hari ini aku akan melayani dan mengizinkan kalian tinggal di sini."


Setengah jam setelah susu habis, kedua bocah kembar itu langsung terlelap di sofa. Mereka kelelahan karena terlalu lama bertamasya. Reyno menghela nafas berat, lantas meminum susu bekas Cilla yang tidak habis. Ia mulai menceritakan semua masalahnya dengan Jennie pada Alex.


"Menurutmu? Apa aku salah melakukan ini, Al? Sepertinya seluruh dunia menyalahkanku. Mereka bilang aku terlalu egois 'kan?"


"Tidak juga sih, istrimu juga salah." Alex menengahi. "Tapi kamu tidak usah khawatir, mereka para manusia memang hanya bisa menyalahkanmu, tanpa peduli ada sudut pandang lain dari yang kamu rencanakan."


Reyno yang pikirannya mulai buntu merasa kesal mendengar hujatan para teman kampusnya. Terutama wanita, mereka terus menyalahkan perbuatan Reyno seolah ia makhluk paling berdosa.


"Coba kau lihat ini?" Reyno melempar ponselnya ke pangkuan Alex. Ada foto Dafa yang sedang mencium punggung tangan Jennie saat gadis itu sedang tertidur.


"Wah!" Alex melongo tak bisa berkata-kata.


"Apa kau pikir pria itu benar menganggap istriku hanya teman? Ah, dia benar-benar bodoh, Al. Pikiran Jennie terlalu sempit dan mudah bodohi. Sudah jelas sahabat prianya itu menyimpan perasaan. Kita sebagai lelaki pasti paham, sebangsat apa saingan kita." Kalimat kasar itu keluar dari bibir seorang pria yang dilanda putus asa. Reyno mengguyar rambutnya tak kuasa.


"Aku tidak menyalahkanmu, tidak juga membelamu, Reyn. Hanya saja, kamu harus menyelesaikan masalah ini sebelum pria itu merebut Jennie dari tanganmu."


Reyno mengangguk sedih. "Aku memang hanya berniat menghukum Jennie satu hari saja, aku ingin tahu—seberapa pentingnya aku dan anak-anak di hati Jennie."

__ADS_1


"Cepat selesaikan masalahmu. Aku tidak tega melihat anak-anak kecil ini terlantar."


"Aku bisa menjaga dia dengan baik, sama seperti Jennie."


"Tapi dia butuh ibunya, kan?"


Lantas Reyno terdiam. Kembali larut dalam masalah yang sedang ia pikirkan. Meski tidak rewel, Reyno juga tidak tega memisahkan si kembar yang masih butuh ibunya.


Alex berkata lagi, "Kalau begitu pindahkan anak-anak ke kamarku, Reyn. Kasian mereka," ujar Alex merasa iba.


Entah mengapa, hati Alex merasa tersentuh ketika melihat kedua monster kecil itu tidur. Lucu, menggemaskan, dan tak berdaya. Dan tanpa sadar Alex Pun mengelus rambut ikal Cilla yang lucu.


"Tunggu setelah beberapa menit. Nanti kubawa mereka jika sudah terlelap. Terima kasih telah mendengar curhatanku, Al. Aku tidak tahu harus mengadu pada siapa jika tidak ada kamu."


Masih ada Farhan, tapi pria itu terlalu kaku untuk diajak cerita. Sementara William, percayalah ... masalah pria itu lebih rumit dari Reyno.


"Sama-sama, cepat selesaikan masalahmu atau kau akan menyesal selamanya."


"Secepatnya, Al." Reyno tersenyum tipis. Merasa bersyukur masih mendapatkan tempat untuk mengungkapkan isi hatinya.


Ada banyak tempat yang bisa Reyno datangi, seperti hotel ataupun villa pribadi keluarganya. Hanya saja, Reyno butuh teman untuk saling bertukar pendapat. Dan Alex lah yang terbaik.


Tring! Ponsel Reyno berdering nyaring. Pria itu langsung membuka ponselnya dengan gerakan cepat.


"Gawat!"


"Kenapa Reyn?"


"Jennie dalam bahaya, Al. Aku harus cepat menyusulnya." Reyno merapatkan jaket kulitnya. Lantas bangkit dengan wajah panik sekaligus khawatir.


"Cepat urus istrimu. Biarkan aku menjaga monster kembar ini."


Entah salah bicara atau tidak enak pada Reyno, Alex bahkan tak tahu caranya merawat anak kecil. Namun bibirnya menawarkan diri untuk menjaga dua monster kecil itu.


"Terima kasih, Al. Dan ingatlah satu hal, mereka bukanlah monster, tapi bibit unggul hasil karyaku."


Reyno langsung berlari menuju pintu keluar. Membuat Alex mendesah kesal saat melihat kelakuan bocah itu. Ah, dasar Reyno. Untung anak-anak itu sudah tidur.


Meskipun kalian lucu-lucu dan imut. di mataku kalian tetap saja monster kecil nakal, batin Alex yang tak suka anak kecil.

__ADS_1


***


__ADS_2