
"Kecoa! Kecoa!" Reyno berlari histeris menuju ruang bermain anak-anaknya. Ada kecoa hinggap di punggungnya. Ia naik ke atas meja setelah berhasil mengibaskan hewan tidak sopan itu dari tubuhnya, lalu menutup matanya dengan raut wajah ketakutan. Abaikan harga dirinya sebagai seorang ayah. Reyno tidak dapat menahan diri jika sudah menyangkut kecoa. keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
"Papa Teddy kenapa?" tanya Cello, anak pertama yang lahir lima menit sebelum Cilla.
Dia sangat pintar, bicaranya sudah lancar meski usianya belum genap empat tahun.
"Tolongin papa ya, Nak. Ambil sapu di pojok sana, dan bunuh kecoa yang berterbangan itu." Reyno tidak berani menatap kecoa yang hinggap di dinding bagian pojok. Pikirnya, ia perlu mandi tujuh kali karena sempat di hinggapi kecoa terbang gila itu.
"Sayang, cepat ambil sapunya," suruh Reyno saat anaknya masih asik bermain lego.
"Pa, membunuh hewan itu dosa. Kata mama Panda tidak boleh. Cello nggak mau." Astaga, susah sekali ya, berbicara dengan anak kecil ini. Reyno mengdengkus kesal karena jiwanya mulai dilanda frustasi.
"Begini Cello, anak papa yang ganteng. Tidak semua hewan tidak boleh dibunuh. Kalau kecoa itu boleh. Dia hewan pengganggu dan menjijikan. Cepat bunuh sayang, lalu buang ke tempat sampah." Reyno mendorong bahu Cello yang sudah berdiri di depan meja, anak itu mendongak, menatap papanya dengan mata polos dan tentunya keheranan.
"Naik ke atas meja itu engga boleh, Pa. Kata mama gak sopan." Apa sih ... kenapa Reyno jadi merasa tersudutkan begini?
Dengan takut-takut Reyno mencoba turun dari atas meja, lantas berjongkok dan merayu Cello agar bisa diajak bekerja sama.
"Papa sudah turun, Sayang. Sekarang Cello tolongin papa ya, buhun kecoa itu. Dia hama, layak di bunuh." Dengan penuh harap Reyno menepuk kedua bahu anaknya. "Tolong ya, Cello."
"Ikhh." Anak itu mencebik. "Kan Cello sudah bilang gak mau, Pa, biarin saja dia di sini. Kecoa juga ingin bahagia, punya mama dan dede bayi."
Astaga! Apa sih yang Jennie ajarkak ke anak ini. Bisa mati Reyno kalau benar-benar ada kecoa berkembang biak di rumanya.
"Itu hama, Sayang. Penyakit. Menjijikan. Kotor. Tidak baik kalau di pelihara di rumah." Ah, andai saja ada orang lain di rumah ini. Reyno tidak anak minta tolong pada bocah nakal yang satu ini.
__ADS_1
Jennie dan Cilla sedang pergi ke rumah bunda. Karena Cello tidak mau ikut, jadi terpaksa Reyno di rumah menemani putranya. Naasnya Jennie juga mengajak bibi asuh dan asisten rumah tangga. Katanya sekalian belanja bulanan.
"Lagian Papa sudah besar. Kenapa nyuruh Cello?"
Bagaimana ini? Masa iya, aku bilang takut kecoa pada anakku sendiri. Gengsi dong.
"Ini perintah orang tua, Celloh harus nurut." Raut ketakutan sangat terlihat di wajah Reyno. Entah anaknya menyadari atau tidak, yang jelas ia ingin menjerit sekencang-kencangnya kalau tidak ada Cello.
"Gak mau, ah, Pa." Heuh. Reyno geretan sendiri. Nyawanya sudah di ujung tanduk begini. Anaknya malah tidak bisa diajak kompromi.
Kecoa itu terbang kembali, nemplok di salah satu mobil-mobilan milik Cello. Reyno langsung berjengit takut. Ia meraih tubuh Cello. Lalu bersembunyi di balik pungging kecil itu.
"Jangan berisik, kecoanya ada di mobil-mobilan kamu. Kalau Cello mau bantu papa, nanti papa belikan es krim." Cello tetap menggelengkan kepalanya, pertanda ia tidak setuju.
"Kasih tahu dulu, kenapa Cello yang harus bunuh kecoa. Itu kan harusnya tugas Papa." Mengerti. Reyno sudah paham bahwa anaknya sedang mengerjai dirinya. Dengan berat hati Reyno berkata,
"Yess. Papa kena perangkap aku."
Apa? Perangkap. Tiba-tiba Reyno merasakan ada firasat buruk yang akan terjadi selanjutnya. Cello berlari mendekati kecoa itu. Dengan langkah mengendap-endap ia menangkap dan membunuh kecoa itu menggunakan palu plastik yang dipeganggnya.
"Huuuh." Reyno menghembuskan nafas lega. Namun belum hilang rasa takutnya. Cello sudah datang dengan menenteng bagian sungut kecoa. "Eh, mau apa kamu?"
"Papa, ayo kita main monster-monsteran. Cello jadi monster kecoa, Papa Teddy lari ya." Hei, detik itu juga Reyno langsung menjerit. Lari. Mencari tempat persembunyian di manapun.
"Aaaa. Hentikan sayang, jangan main-main." Cello terus mengejar Papinya. Anak itu girang bukan main. Ternyata ada juga kelemahan yang bisa membuat Papanya takut. Mungkin bagi Cello hanya kesenangan semata, namun Reyno benar-benar takut. Phobianya terhadap kecoa belum bisa hilang hingga detik ini.
__ADS_1
"Hoaaa .. Hoaaa ..." Menirukan suara monster, Cello mencoba mengejar langkah Papanya.
"Papa!" teriak Cello saat Reyno sudah berhasil bersembunyi di balik kamar. "Kan lagi main kejar-kejaran. Kenapa papa ngumpet?" geruru Cello kesal. Ini sih namanya ngga asik.
"Buang dulu kecoanya, Cello. Mainan lain saja yang tidak berbahaya."
"Cello suka lihat Papa takut." Dasar anak kurang ajar. Begini ya, rasanya punya anak di usia muda. Ngenes amat. Reyno membatin di balik pintu.
"Kalau kecoanya gak di buang. Papa gak akan mau ke luar kamar." Ancaman Reyno pasti membuat anak nakal itu jera. Mungkin sebentar lagi Cello akan merengek.
"Iya nih, Cello buang kecoanya ke tempat sampah."
Sesaat hening. Mungkin anak itu Sedang membuang kecoanya ke tempat sampah. Pikir Reyno.
"Cello!"
"Cello!" panggil Reyno untuk kedua kalinya. Hening. Tidak ada suara.
"Cello jangan bikin Papa khawatir ya," tandas Reyno dengan nada teriak. Namun tidak ada jawaban di luar sana. Membuat Reyno semakin panik di balik pintu. Masalahnya, Cello pernah ketahuan sekali kabur. Untung baru sampai pintu gerbang. Anak yang usianya belum genap empat tahun itu memang nakalnya luar biasa.
"Cello!" Reyno yang merasa putus asa dan panik langsung membuka pintu kamarnya secara brutal.
"Huaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Reyno berterika histeris saat ada kecoa yang dilemparkan Cello ke arahnya. Masuk ke dalam kaos polos yang ia kenakan. Siang itu, rumah Reyno di isi dengan tawa riang Cello dan teriakan dirinya yang histeris.
__ADS_1
Ampun. Aku lebih baik kerja lembur daripada harus mengurus anak.
***