
“Siapa yang ngajarin Ello nakal sama Papa?” tegas Jennie dengan nada cukup keras. Hampir setengah
membentak. Gara- gara perbuatan jail Cello, Reyno sampai
terserang demam. Pria itu tidak hanya sekedar takut kecoa, tapi ia mengalami
phobia akut pada hewan yang suka sembarangan terbang itu. Tidak tahu tempat apalagi tahu diri.
“Ampun, Ma. Ello hanya ingin ngajakin papa main monster-monsteran ,” lirihnya sembari terisak.
“Tapi Ello tahu ‘kan kalau sebenarnya papa takut kecoa? Itu namanya bukan ngajakin papa main, tapi bikin suah papa. Mama ‘kan sudah bilang jangan nakal.” Jennie mengatur napasnya beberapa kali. Menghirup udara
banyak-banyak dan menghembuskannya perlahan. Dengan cara itu emosinya bisa sedikit mereda.
“Huaaa …. Huaaaa,” jerit Cello seraya menutupi matanya
dengan tangan.
Kalau sudah melihat anak itu menangis, emosi Jennie yang
tadinya mendidih mendadak luluh. Jennie meraih tubuh kecil yang tingginya hanya
sepangkal pahanya itu, lantas menggendongnya ke dalam pelukkan.
“Laki-laki tidak boleh nangis, kalau Ello salah harus apa?”
Jennie bertanya dengan nada lembut, sambil mengecupi wajah polos Cello yang
sudah banjir air mata.
“Harus minta maaf, Mama.”
“Kalau begitu sekarang Ello ke kamar papa, terus minta maaf
sama papa ya, Sayang,”
“Takut, Ma.”
“Eh, kan Ello salah. Ingat kata bu guru gimana?”
“Siapapun yang salah harus minta maaf duluan. Kalau salah
tidak boleh takut, tapi harus minta maaf.” Cerdas, ia memang memiliki ingatan yang cukup baik dibanding adiknya Cilla.
Setelah mengusap rambut kepala putranya, Jennie menurunkan
__ADS_1
Cello dari gendongannya. “Sekarang Ello ke kamar ya, minta maaf sama papa.”
Mengangguk patuh, anak itu langsung berlari menuju kamar papahnya.
Heuh. Jennie menghembuskan nafas kasar. Mendidik anak memang
harus dengan penuh kesabaran ekstra.Bersikap kasar sedikit saja sangat
mempengaruhi psikologis anak. Apa yang kita lakukan kepadanya, itu akan ia
lakukan kepada kita nantinya. Bahkan, ketika kita tidak sengaja melihat orang tua yang ditelantarkan
anak-anaknya di panti jompo atau jalanan, bisa jadi itu akibat dari didikan
kita yang salah pada masa pertumbuhan anak. Hal buruk yang kita ajarkan, akan
selamanya ia ingat sampai tua. Bahkan dapat berbalik setelah mereka mampu
membalasnya.
Begitulah mengurus anak, bukanlah perkara yang mudah. Harus
banyak-banyak sabar dan menggelar dada lebar. Kata bunda.
“Papa,” lirih Cello di balik pintu. Tangis anak itu kembali
Cilla, putri kedua yang sangat perhatian. Cilla sedang memijit tangan papanya.
“Akak ngapain ke sini? Akak ja’at cama papa, pergi sana!”
Gadis kecil yang bicaranya masih cedal itu melemparkan pandangan sinis ke arah Cello.
Membuat Cello semakin merasa bersalah karena membuat papanya terserang demam.
“Sini Cello,” lambainya dengan senyum hangat. Melihat respon
positif dari Reyno, akhirnya Cello memberanikan diri mendekati papanya.
Reyno mengangkat tubuh kecil itu, lalu mendudukkan Cello di
paha sebelah kanan. Dirangkulnya tubuh gemetar Cello dengan lembut. “Jagoan papa kenapa sedih. Habis nangis,
ya?”
Mendongak takut, Cello nampak berbinar saat menatap wajah
__ADS_1
papanya yang begitu damai. “Papa tidak marah sama Ello?” tanyanya dengan wajah
polos menggemaskan.
“Tidak. Ello kan anak baik,” ucap Reyno seraya mencium dan
merengkuh tubuh kecil itu penuh kasih sayang.
“Maafkan Ello ya, Pa, gara-gara Ello papa jadi sakit. Ello
janji gak akan ulangi, Pa. Ello sayang Papa, gak mau papa sampai masuk rumah
sakit,” isaknya sesenggukan. Baju Reyno sampai basah terkena ingus dan air mata anaknya.
“Kalau sayang papa, jangan di ulangi lagi ya.” Cello mengangguk dalam dekapan papanya.
"Huaaa ... huaa." Si putri yang cantik jelita menjerit kala melihat papanya yang begitu sayang pada Cello. Cilla merasa diabaikan karena sedari tadi Reyno terus memperhatikan Cello.
"Papa udah gak cayang Cilla, Papa ja'at." Buru-buru Reyno mengambil gadis kecil cemburuan itu dan mendudukannya di pangkuan Reyno yang satunya lagi.
"Papa sayang Cilla dan Ello. Kalian berdua kesayangan, Papa." Mendekap erat.
"Makasih, Papa. Ello gak mau nakal lagi besok."
"Awas ya, kalo Kaka bikin papa Cilla sakit. Cilla gak mau temenan sama kaka," ancam gadis itu kesal. "Papa itu kesayanganya Cilla"
"Ello gak nakal lagi, udah janji tadi." Cello memeluk papanya erat.
Meskipun sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi, anak kecil cenderung lupa akan hal-hal yang ia ucapkan. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan, agar jangan sampai bosan untuk mengingatkan anaknya lagi dan lagi. Mengingatkan setiap detik, waktu, hari, bahkan ketika mereka sudah beranjak remaja, dewasa, dan menikah sekalipun harus terus diingatkan. Seberat itu
memang tanggung jawab orang tua.
Jangan sampai kita salah mendidik anak. Bukannya membimbing malah mengajarinya berbuat kasar. Semarah apapun kita, kekerasan pada anak kecil adalah hal yang sangat dilarang. Usahakan menahan diri itu lebih baik.
Selain berdosa, mendidik anak dengan cara memukul anak setiap saat itu juga termasuk bahaya besar. Apa yang kita lakukan bisa membuat mentalnya terganggu. Hal itu memacu pada sikap penyimpangan kelainan mental, atau yang biasa orang sebut sebagai masokis.
Masokis atau masokisme seksual adalah kelainan seksual ketika seseorang merasa nyaman dan puas secara seksual ketika dirinya disakiti atau dilecehkan oleh orang lain. Penyimpangan seperti ini tergolong perilaku berisiko tinggi, karena berpotensi membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.
Seseorang yang menderita masokis cenderung ingin setiap saat dipukuli, disiksa, dilecehkan, dan mereka akan tersiksa jika tidak mendapat perilaku seperti itu dari orang lain. Tak jarang seseorang bahkan memancing orang tuanya, pasangannya, temannya, untuk membuat mereka menyakiti dirinya.
Salah satu bentuk perilaku masokis seksual yang paling berbahaya adalah asfiksia seksual. Kondisi tersebut membuat para masokis merasa terangsang dan mendapat kepuasan seksual ketika dirinya dicekik, dijerat dengan tali, atau dibekap dengan kantung plastik.
Bentuk masokis jenis ini tidak jarang berakibat fatal dan bahkan hingga menyebabkan kematian.
***
__ADS_1
Visual Cilla dan Cello, cek di ig @anarita_be ya, ... karena lebih dari 1 foto, g bisa up di sini. Terus buat cerita lahiran, entar di ceritain di bab flashback, tunggu aja.