
Brakkk!
Pintu dibanting keras sesaat mereka baru saja masuk. Terkunci rapat tanpa bisa dibuka, suasananya persis seperti rumah hantu yang ada di film horor.
'Auuuuuuuuu ..... hi ... hi ... hi ... hi ... hi'
Lolongan serigala dan suara kuntilanak versi audio menyambut mereka. Masih berdiri di depan pintu yang baru tertutup, tiba-tiba sebuah tengkorak buatan muncul tepat di depan wajah Reyno.
"Huaaaaaa!" Pria itu menjerit histeris seraya memeluk Jennie ketakutan. Membenamkan wajahnya yang sudah berkeringat hebat di dada milik Jennie.
"Hahahaha," tawa Jennie geli. "Sudah bisa bikin anak sampai dua kok penakut, sih? Umur kamu dua puluh tiga tahun apa tiga tahun, nih."
Tak ada jawaban, hanya ada tubuh gemetar yang Jennie rasakan. Puk ... puk ... Jennie menepuk punggung Reyno seperti bayi.
"Cuma hantu bohongan, jangan takut." Jennie menyeret langkah kakinya, namun buru-buru dihalangi oleh Reyno.
"Tunggu dulu," keluh Reyno ketakutan.
"Ayo kita lewatin semua tempat dan lorong ini," ajak Jennie dengan bahasa penuh semangat. "Kalau sudah selesai bisa langsung cepat keluar."
"Gak mau! Kita langsung keluar aja, aku ngga suka! Mendingan kita balik lagi." Merajuk manja, suara Reyno seperti anak kecil yang sedang ketakutan di saat mati lampu.
"Gelap, aku ngga suka di sini." Menghiba penuh penekanan, Reyno tak mau melihat seseliling sama sekali. "Jangan dilpeas, aku takut."
Ya ampun, suami aku kenapa bisa menggemaskan begini, sih. Pikir Jennie dalam hatinya.
"Kalau sudah masuk, aturan mainnya harus melewati rintangan dan lorong steep by steep, ngga bisa keluar lewat pintu masuk." Masih enggan bergerak. Reyno terus menahan tubuh Jennie agar tidak melangkah semakin jauh, lengkap dengan wajah yang disembunyikan tentunya.
"No! Pokonya mau keluar, gimanapun caranya harus keluar!"
__ADS_1
Astaga. Tahu begini jadinya Jennie tidak usah mengajak Reyno masuk saja. Dasar suami! bikin malu saja.
"Kalau gak aku dilarang keluar, aku pastikan usaha kalian bangkrut!" Reyno meninggikan nada suaranya. Meski dalam dekapan, ia yakin setan-setan bohongan itu mendengar ucapan Reyno. Tidak ada cara lain yang dapat Reyno lakukan kecuali menggunakan kekuasaannya.
"Stttt ... sabar, Reyn. Tenang, aku cari cara lain dulu, ya?"
"Ya udah cepat suruh mereka buka pintunya, sebelum aku telepon Papi." Jiwa sultan Reyno keluar.
Jennie yang merasa malu setengah mati, langsung meraba-raba tombol alarm yang ada di dinding pintu. Setiap pintu yang dimasuki biasanya ada alarm—gunanya untuk situasi gawat jika terjadi kecelakaan atau hal-hal di luar dugaan.
Tringggg! Alarm di bunyikan.
"Sabar ya, sebentar lagi pasti ada orang yang buka pintu. Aku udah tekan alarm. Liatin dong, wajahnya, masa udah segede gini takut sama rumah hantu." rayunya dengan penuh kasih sayang. Walau di dalam hati Jennie sebenarnya menahan tawa dan geli tingkat dewa.
Reyno mendongak seraya merajuk. "Kamu nyebelin! Jahat!" protes Reyno. "Kamu tahu aku engga suka tempat gelap—harusnya kamu peka kalau aku sebenarnya takut dengan rumah hantu. Kamu gak paham kalau yang aku ucapin tadi cuma basa-basi karena gengsi!"
"Iya. Maaf ya, aku yang salah. Lain kali engga akan ngajakin kamu ke rumah hantu." Mencium pipi Reyno gemas seraya menepuk pundaknya lemah lembut.
Jennie paham sekali situasi macam ini. Apapun yang terjadi, ia tetap akan menjadi pihak yang bersalah. Meskipun Reyno yang pura-pura berani di awal.
"Cium aku!" rajuk Reyno tidak tahu diri.
"Ci ...cium?" Jennie membelalakan matanya jengah. Bisa-bisanya Reyno minta cium di rumah hantu.
"Iya cium. Kalau kamu cium aku, takutnya bisa ilang sedit."
Please, siapa saja di luar sana. Tolong tanyakan pada semua kaum lelaki. Apakah ini merupakan modus baru? Atau hanya Reyno saja yang melakukan hal seperti itu. Minta ciuman di rumah hantu.
"Nanti cium di rumah. Sebanyak-banyaknya."
__ADS_1
Jennie yang merasa waras menolak dengan berbagai cara. Ia tahu kalau di tempat ini ada banyak mata meski ruangannya gelap gulita. Dan pastinya ada CCTV disetiap sudut ruangan.
Audio haha hihi terus berbunyi. Membuat Reyno semakin takut dan merinding. Entah apa yang mereka pikirkan, kenapa lama sekali membuka pintunya.
"Aku takut, cepat cium aku kalau masih mau punya suami." Astaga. Reyno sampai menggunakan ancaman semematikan itu.
Mau cium ... cium ... cium. Titik!" kekehnya dengan gaya merajuk persis seperti anak kembarnya.
Baiklah. Jennie mengalah sekali lagi, lalu mendekatkan bibirnya perlahan.Tangannya menangkup kedua telinga Reyno agar suara-suara aneh di ruangan ini sedikit berkurang.
Satu kecupan mendarat di bibir bergetar suaminya. Reyno memang asli ketakutan, terbukti tubuhnya masih gemetar walau sudah di cium oleh Jennie.
Tangan Reyno melingkar erat di pinggul Jennie. Perlahan tapi pasti, keduanya mulai terpejam dengan buaian rasa. Tidak ada rumah hantu, gelap, suara seram, apa lagi hantunya. Reyno dan Jennie menciptakan dunianya sendiri dalam gelap. Ketakutan Reyno sudah berganti menjadi deru yang memburu. Memamerkan bunyi kecupan dan menyakiti telinga para hantu-hantuan yang ada di sana.
Brak! Seseorang membuka pintu.
Huh. Jika kalian tidak segera membukakan pintu. Kupastikan kalian melihat adegan yang lebih panas. Gerutu Reyno di dalam hatinya, kesal.
Reyno langsung keluar bersamaan dengan Jennie. Pria itu menunduk malu seraya menyembunyikan wajahnya di pundak sang istri.
"Astaga, Reyn!" Jennie terkejut bukan main.
"KAMU NGOMPOOOL?"
Teriak tidak tahu diri, semua mata langsung terjutu pada Reyno dan Jennie. Terutama pada bagian celana jeans Reyno yang sudah basah.
***
Mau gimana lagi ya, orang takut. Jangan salahin Reyno, salahin yang nulis aja... wkwkkwkw
__ADS_1