Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 34


__ADS_3

Beruntung, adalah satu kata yang terus ada di hati Reyno untuk selamanya. Jika bukan Jennie wanita yang dipilih Tuhan untuk mendampinginnya, mungkin hubungan mereka tidak akan seharmonis hingga sampai sekarang. Wanita itu ... Jennie, dia memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dalam menghadapi kelakuan suaminya. Bahkan, ia sudah terbiasa dengan berbagai macam tingkah Reyno yang menyebalkan. Bagi Jennie, menghadapi Reyno adalah rintangan yang indah setiap kali berhasil melaluinya. Demi Tuhan, meski ditawari dengan yang lebih baik, Jennie tidak akan rela menukarkan suami Hello Kitty kesayangannya dengan pria manapun.


Ada banyak hal, di mana hanya Jennie seorang dapat merasakan sisi baik dari suami kesayangannya. Di balik watak manja dan menyebalkan seorang Reyno, ia memiliki semua kesempurnaan yang Jennie inginkan. Bahkan, belum tentu lelaki yang kelihatan keren bisa sekeren Reyno. Terutama dalam memanjakan hati wanita pujaannya. Jennie.


***


Memiliki banyak waktu luang, membuat Reyno memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tuanya, sebentar. Reyno memang selalu rutin mengunjungi rumah mami dan papinya jika ada waktu senggang. Paling tidak seminggu sekali ia datang. Sendiri ataupun membawa anak-anaknya.


Bersama Jennie? Tidak. Wanita itu masih memiliki kerenggangan hubungan dengan ibu mertuanya. Semenjak ayahnya di cap sebagai seorang pembunuh, dan membuang Farhan saat kecil. Mami Dina semakin benci dan enggan mengakui gadis itu sebagai menantunya. Tapi beliau sayang pada anak-anaknya.


Di posisi ini, Reyno selalu merasa menjadi pihak yang terhimpit. Berada di antara Ibu kandung dan istrinya. Semoga saja, suatu saat nanti mereka bisa berdamai.


"Dor ... dor ... Uncle Renren kena tembak!" seru Gibran yang langsung menghadang kedatangan Reyno di depan pintu.


Gibran adalah anak hasil perbuatan tidak sengaja di antara William dan Tere. Di mana sekarang ia menjadi anak kesayangan, yang lucu sekaligus menggemaskan.


"Arghhh! Sakit. toloooong...." Reyno berlaga kesakitan seraya memegangi bagian dadanya. Pria itu berlutut, membuat Cello langsung berlari riang memeluk dirinya.


"Uncle Ren, Iban kangen sama Uncle. Mana Cello? Iban juga kangen main tembak-tembakkan sama Cello," adunya dengan binar mata polos. Ada setitik harapan di dalam diri anak yang sedang dilanda kesepian itu.


"Kemarin 'kan sudah nginep di sini. Besok lagi ya, kalau uncle Ren ada waktu, kita jalan-jalan bareng Cilla dan Cello." Reyno mencium gemas pipi keponakannya. Lantas menggendong anak itu masuk ke dalam.


"No! I don't like Cilla." Memberontak tidak senang.


"Why?" Reyno tergelak mendengar penolakan Gibran yang bilang tidak suka Cilla.


"She is fierce and easy to cry. I don't like girls."

__ADS_1


"Hahaha." Reyno semakin tergelak, "Kenapa Iban tidak suka anak perempuan? Bukankah mereka terlihat cantik dan lucu?"


"No! Mereka menyebalkan. Cilla cerewet dan suka menangis. Tidak kuat seperti Iban dan Cello." Gibran membanggakan dirinya.


"Tentu saja anak perempuan mudah menangis. Mereka adalah mahluk berhati sensitif yang harus kita lindungi. Sebagai laki-laki super, Iban dan Ello harus bisa melindungi Cilla. Melindungi Mami Iban juga."


"Mami sudah punya Papi," ujar Gibran protes. Bibirnya mencebik lucu seolah tidak terima dengan perintah Reyno.


Reyno mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu sambil memangku Gibran. Sementara Gibran merangkul batang leher Reyno sambil memegang tembak-tembakkan.


"Papi masih belum cukup. Harus ada Iban yang bantu jaga. Termasuk jagain grandma juga," perintah Reyno lagi. Pria itu mengedarkan pandangannya, mencari Tere ataupun Maminya yang tak kunjung terlihat.


"Okelah. Iban akan berusaha semampuku," ujarnya sok bijak. Di mana Reyno langsung melayangkan cubitan gemas pada pipi kepokanan.


"Bagus! Jagoan super harus begitu," puji Reyno bangga. Bibir Gibran mengembang senang. Merasa di terbangkan ke awang-awang.


"Oh ya, Granma sama mamimu mana, Sayang? Kenapa tidak kelihatan." Karena dari tadi Reyno hanya melihat Gibran bermain sendirian tanpa di dampinggi orang dewasa.


"Kakak mau kemana? Kenapa dari tadi Gibran dibiarkan main sendiri?" tanya Reyno heran. Kesal tentunya.


Usia Gibran dan anaknya tidak jauh beda. Hanya terpaut beberapa bulan saja. Maka dari itu Reyno tidak suka melihat Gibran bermain tanpa mendapat dampingan orang dewasa.


Tere mengibaskan rambutnya dengan gaya elegan. "Aku ada acara sama temenku di luar. Baby sister Gibran sedang cuti. Makanya gak ada yang jagain. Paling diasuh ART kalau sedang tidak sibuk. Grandma juga sedang tidak enak badan katanya. Ada di kamar, Tuh."


"Mami ... Iban mau ikut," rengek Gibran yang hampir menangis.


"Kamu di rumah aja, Sayang. Anak kecil belum boleh ikut di acara Mami," tolak Tere dengan halus. Gibran mulai menitikan air mata. Memeluk Reyno yang masih memangku dirinya.

__ADS_1


"Kak, jangan keterlaluan begitu. Ka Tere sudah punya Gibran. Jadi Kakak tidak boleh meleng dalam mengawasi anak Kakak sendiri. Ajak Gibran pergi, kasian dia kesepian. Kalau aku tidak datang, apa Kakak akan membiarkan anak Kakak bermain sendiri seperti ini?" Reyno mulai menasehati dengan nada bijak. Meskipun Tere lebih tua darinya.


"Tau apa kamu soal ngurus anak, Reyn. Jadi wanita itu capek. Aku juga butuh refreshing ke luar sebentar. Sudahlah, aku sudah terlambat." Tere hendak pergi dari hadapan Reyno.


"Jika Kakak tidak peduli pada Gibran. Kakak akan menyesal di masa tua nanti. Di saat Gibran tidak mau mengurus ibunya yang sudah tua dan bobrok!" Nada suara Reyno sedikit teriak.


Tere langsung menghentikan langkahnya. Berbalik kesal seraya melempar pandangan kebencian pada adik iparnya.


"Maumu apa sih, Reyn?" tanyanya pasrah.


"Ajak Gibran. Dia kesepain di sini. Kalau dia sampai kenapa-napa saat Kakak pergi, aku yakin Kakak akan menjadi orang pertama yang akan menyesal."


"Kamu doain Gibran kenapa-napa?" tanya Tere dengan nafas yang naik turun tidak suka.


"Tidak. Tapi anak kecil butuh pengawasan orang tuanya."


Menghela nafas kasar, Tere merebut Gibran yang ada di gendongan Reyno dengan kesal.


"Aku pergi dulu!" pamitnya kasar.


Tere melangkah ke luar dengan langkah sepatu yang sengaja di bunyikan keras-keras. Sementara Reyno tersenyum saat melihat wajah senang Gibran. Anak itu melambaikan tangganya pada Reyno.


"Bagaimana caramu mendidik istri sih, Kak? Kenapa kaj Tere masih saja begitu. Beruntung Jennie tidak seperti itu." Reyno bergumam lirih.


Kini ia semakin yakin, bahwa kedewasaan seseorang tidak dilihat melalui umur.


Sekali lagi Reyno merasa beruntung. Meski rumah tangganya tidak sebaik yang orang lain lihat. Namun ia selalu berusahan menjadi yang terbaik. Saling menasehati satu sama lain jika ada yang salan di anatara mereka. Terutama dalam hal mengurus anak-anaknya.

__ADS_1


***


Mulai ke konflik lagi ya...


__ADS_2