Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Ujian


__ADS_3

Aaaa. Katanya ujian pake C itu mudah. Seperti mengerjakan ujian anak SMP. Apanya yang mudah? Susah begitu. Hiks ... hiks ... hikss ...


Jennie dan Reyno sudah selesai melalukan ujian pake C di hari pertamanya. Ujian mereka diakan selama dua minggu, ujian sekolah satu minggu dan ujian nasional lima hari. Tidak ada ujian praktek, peraturan ujian paket C memang seperti itu.


Jennie bisa ngerjainnya ngga ya?


Reyno baru keluar dari ruang ujian setelah melihat Jennie juga keluar. Sebenarnya Reyno sudah selesai mengerjakan di menit ke tiga puluh menit, namun ia tidak langsung keluar. Bagi Reyno, waktu ujian harus dimanfaatkan sampai habis.


"Reyn! Kepala aku sakit ... hikss ... hiks...," keluh Jennie sembari menyandarkan kepalanya di tembok. Gadis itu terlihat pusing tujuh keliling. Padahal soal-soal di dalam ujian paket C terbilang cukup ringan.


"Sakit kenapa?"


"Susah banget, aku ngga yakin bisa dapetin nilai bagus." Pernyataan Jennie sukses membuat Reyno tercengang. Ternyata sia-sia ia mengajak Jennie kebut belajar selama seminggu ini. Tidak ada yang nyangkut sam sekali di otak Jennie.


"Apanya yang susah? Itu hanya soal-soal dasar. Kamu tuh, yang bodohnya gak ketulungan," ujar Reyno. Jennie hanya menunduk pasrah.


Memang benar aku bodoh. Untungnya jodohku pintar, jadi bisa menutupi. Hehehe.


Keduanya berjalan menuju gerbang keluar. Sudah ada supir yang menunggu mereka di depan. Hari ini Reyno dan Jennie akan pulang ke rumah utama. Menemui Mami Dina tentunya.


Reyno dan Jennie sudah duduk di dalam mobil, menuju rumah utama untuk menemui Mami Dina.


"Reyn, aku malas nemuin Mami kamu." Jennie berbicara jujur apa adanya, Reyno hanya membalasnya dengan senyum simpul. "Kita tinggal di rumah Bunda saja, atau ngontrak juga boleh, aku gak mau tinggal di rumah kamu," celoteh Jennie yang merasa trauma dengan pengalaman terakhirnya.


"Jangan khawatir, Mami aku tuh sebenarnya baik. Kalian berdua saja yang belum bisa akrab satu sama lain."


Cih! Medusa itu, di mana letak baiknya coba?


Jennie hanya mendengkus kesal tanpa menjawab. Gadis itu memalingkan wajahnya ke samping, melihat pohon dan bangunan di luar sana jauh lebih baik dibandingkan memikirkan Mam Dina si mertua sialan itu.

__ADS_1


"Makannya, belajar cara menyenangkan hati mertua." Ditariknya tubuh Jennie yang menjauh, merapatkannya dengan erat di dalam pelukkannya.


"Gimana caranya? Mami kamu aja bencinya setengah mati sama aku. Apa lagi aku yang membuat kamu diusir, bisa-bisa aku langsung di makan pas ketemu nanti."


"Ushhhh ... ushhh ... Jangan gitu, ah." Reyno menyelipkan anak rambut Jennie pada balik telinga. Mencoba menenangkan gadis itu sebisa mungkin. "Percaya sama aku, kali ini aku ngga akan biarin Mami hukum kamu apapun itu, nanti kita tinggal di pavilliun saja."


"Aku ngga percaya!" decak Jennie lalu menyentak pelukan suaminya. Pikirannya kembali ke masa sulit itu, saat Jennie di hukum dan tidak diberi makan seharian. Sampai sekarang, Reyno belum tahu akan hal itu.


"Kamu tahu ngga sih? Aku pernah di hukum gak dikasih makanan seharian. Dan akhirnya aku makan telor rusak di bawah pohon, itupun aku harus ngumpet-ngumpet." Tanpa sadar rahasia yang selama ini ditutupinya terungkap juga.


"Apa! Telor rusak?" Kedua tangan Reyno sudah mengepal. Kuku-kukunya terlihat memutih karena genggaman itu terlalu kuat.


Mati! Ko aku bisa keceplosan begitu sih?


"Kenapa kamu ngga bilang sama aku? Kalau aku tahu Mami sampai sekejam itu, aku pasti ngga akan tinggal diam." Wajah Reyno sudah bersemu merah, ini adalah pertama kalinya Jennie melihat suaminya marah. Benar-benar marah, bukan sedang ngambek seperti biasanya.


"Pak! Turunin kita di sini, aku ngga jadi ke rumah utama. Salam saja buat Mami."


"Reyn, tenang dulu. Masalah itu sudah lama, aku saja sudah lupa dengan hal itu," tutur Jennie mencoba meredakan suasa yang mendadak panas di dalam mobil. "Terus jalan saja, Pak. Jangan hiraukan kami." Berbicara pada pak supir.


"Lupa apanya? Buktinya tadi kamu sampai nolak pulang ke rumah aku. Itu artinya kamu trauma kan, dengan perlakuan Mamiku."


Hal seperti ini memang acap kali terjadi dalam berumah tangga. Di mana menantu wanita dan ibu mertua memiliki selisih perbedaan hidup dan pendapat. Namun Jennie juga tidak ingin membuat suaminya membeci ibu kandunganya sendiri, apalagi karena masalah sepele begini.


"Aku ngga terima ya, istri aku diperlakukan seperti itu. Meskipun ia adalah Mami kandungku, tapi perbuatan Mami salah. Harusnya kamu cerita ke aku. Pasti Mami akan mendapat balasan yang setimpal." Reyno tinggal mengadu pada Papinya. Maka Mami akan di hukum oleh suaminya sendiri. Pikir Reyno saat itu.


"Aku ngga mau bikin kamu khawatir, lagian itu bukan hukuman yang berat. Aku masih bisa menjalaninya."


"Maafin aku ya, dulu aku terlalu ngga berguna banget jadi suami. Sampai istriku menderita saja tidak tahu." Mata Reyno sudah merambang, kristal bening itu mungkin akan segera jatuh dari singgasananya.

__ADS_1


Yah, jangan nangis, please! Aku jadi ngga enak hati begini. Ya, Jennie tahu kalau Reyno tipe pria yang melankolis, hatinya mudah tersentuh dan sensitif. Tapi tetap saja tidak enak melihat suaminya seperti itu.


"Aku ngga jadi ke rumah Mami."


"Eh, jangan begitu Reyn. Aku sudah memaafkan Mami kamu, kok." Jennie mencoba menenangkan hati Reyno yang masih dalam keadaan buruk.


Padahal tadi aku malas sekali ke rumah itu. Sekarang malah memohon agar Reyno mau pulang kerumahnya. Aku ini kenapa sih?


"Aku malas ketemu Mami, hati aku sakit dengar istri aku diperlakukan seperti itu."


Uluhh. Manis banget sih, suami aku. Kepala Reyno masuk ke dalam dekapan Jennie. Pada akhirnya anak itu menangis. Meratapi kejadian yang sudah lama berlalu.


"Apapun yang terjadi diantara aku dan Mami kamu, tetap saja kamu ngga boleh begitu. Mami kamu pasti kangen banget sama kamu. Aku sebagai perempuan bisa merasakannya, Reyn."


Mulut aku kenapa mendadak benar begini? Padahal tadi ... Ah, sudahlah. Pusing sendiri jadinya.


"Tapi kamu janji, jangan jauh-jauh dari aku. Jangan bicara sepatah katapun sama Mami. Aku ngga akan biarin Mami aku bicara sama istri berhargaku. Jahatin kamu sama saja jahatin aku."


"Tapi, Reyn. Nanti kalau Mami kamu tambah marah dan mengira aku gak sopan, gimana?"


"Begitu datang nanti, aku akan langsung bilang kalau Mami di larang mendekati kamu, apa lagi sampai berani ngajak bicara."


Eh, apa itu tidak berlebihan ya?


"Aku juga ngga mau tinggal di rumah utama. Apa lagi kalau harus bertemu Papi. Kalau keinginan aku ngga dituruti, kita pergi saja dari rumah itu. Bereskan?"


"Iya, Reyn. Aku nurut sama suamiku saja."


"Memang harus begitu. Jangan lupa nanti malam, aku mau melakukan malam pertama dirumahku sendiri."

__ADS_1


Apa! Kenapa ngarahnya jadi ke sana. Lagian malam pertama itu hanya sekali. Ini mah setiap mendatangi tempat baru langsung bilang mau malam pertamaan.


***


__ADS_2