
Reyno membanting tubuhnya dengan kasar di atas ranjang, ia memijat kepalanya yang berdenyut nyeri. Kemarahan Mami Dina masih terngiang-ngiang dipikirannya. Tadi Mami Dina sempat menangis dan berkata ingin cerai saja dengan Papi—nya.
Mami Dina yang tidak terima mendengar anaknya sampai menjadi kuli bangunan langsung menelpon suaminya. Setelah melontarkan berbagai macam sumpah serapah, akhirnya Mami Dina ingin minta cerai dari Papi Haris. Tentu saja Reyno langsung panik, ia menenangkan maminya sebisa mungkin. Cukup lama ia meyakinkan maminya kalau ia baik-baik saja selama ini. Namun Mami Dina masih tetap tidak terima dengan sikap keterlaluan suaminya.
"Reyn, kamu kenapa?" Jennie yang sudah setengah terbang ke alam mimpi langsung tersadar. Hentakan kasar dari tubuh Reyno telah mengganggu Jennie yang sudah terpejam sedari tadi.
"Eh, kamu bangun? Maaf ya, pasti aku ngagetin kamu." Ditariknya tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. "Tidur lagi yuk, besokkan harus bangun pagi, ujian matematika, loh."
"Kamu kenapa?" Merasa pertanyaannya belum terjawab. "Kamu lagi ada masalah ya, Mami kamu ngomong apa?"
Reyno menghela nafas berat sebelum berbicara. Ia sedikit menurunkan tubuhnya, lalu membenamkan wajahnya di perut sang Istri. Kalau tingkahnya sudah begitu, artinya ia ingin dimanja, dan pastinya ada sesuatu yang terjadi barusan.
"Mami sudah tahu kalau aku jadi kuli," ucap dengan suara lemas. Di mana Jennie langsung terperanjat mendengar kalimat itu.
"Kenapa dikasih tahu?" Kesal sendiri jadinya. Entah Reyno bodoh atau apa, sudah tahu watak Maminya seperti itu. Malah cari masalah.
"Aku ngga bisa bohong sama Mami," lirihnya agak sedikit menyesal.
Benar juga sih, bohong memang tidak baik. Tapi kalau mengingat sikap Maminya yang seperti itu, jujur juga sama saja mencari masalah. Keluar dari mulut buaya, masuk ke dalam mulut macan. Istilahnya seperti itu.
"Terus ... apa dia marah-marah?" Jennie malah menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya apa.
"Bukan hanya marah. Mami tidak terima dan minta cerai ke Papi."
"Cerai?" Antara terkejut, tapi percaya. "Mami kamu ngga lagi main-main kan?" Memastikan sekali lagi.
"Entahlah, Papi bilang akan pulang malam ini." Anak itu masih setia bermanja-manja sambil membenamkan wajahnya di perut Jennie. "Semoga saja Papi bisa menghandel masalah ini.
"Hmmm." Jennie hanya berdeham lirih, namun otaknya tidak bisa berhenti berpikir. pada suaminya saja Mami Dina bisa marah sampai segitu, apa lagi dengan dia yang notabennya bukan siapa-siapa.
Bagi Mami Dina, Reyno itu ibarat anak emas. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Apa lagi sampai mengambilnya dari tangan Mami Dina. Sekarang ia paham di mana letak kebencian Mami Dina terhadapnya. Ibu muda sosialita itu masih belum rela melepas anaknya, kentara dari air mukanya saat cemburu melihat Reyno perhatian pada Jennie.
__ADS_1
"Sudah jangan dipikirkan lagi. Papi kamu pasti bisa mengatasi masalahnya dengan Mami. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Jennie sambil mengusap-usap punggung besar Reyno.
Jennie menarik tubuh Reyno agar posisi tidurnya sejajar dengannya. Mengambil tayo yang terbengkalai dan menaruhnya kedalam pelukkan suaminya.
"Papi aku ngga sehebat itu dalam urusan rumah tangga. Bahkan mami jarang diperhatikan oleh papi. Mami itu kesepian selama ini. Hanya aku yang setia menemani mami selama ini. Makannya Mami lebih memilih aku dibandingkan Papi.
"Sabar ya, aku yakin itu hanya gertakan mami kamu saja."
"Semoga saja begitu," pikir Reyno sambil manyun-manyun. Anak itu membentur-benturkan bibir monyongnya pada mulut boneka tayonya. Jennie mulai berpikir. Bagaimana ya, caranya menghibur Reyno?
"Ehm!" Berdeham lah Jennie tiba-tiba. "Kamu memang seperti itu ya, dari dulu?"
"Apaan?" Kegiatan mencium boneka tayonya berhenti tib-tiba. Reyno sedikit menyipitkan matanya, menatap Jennie yang mendadak berubah galak.
"Sering nyiumim boneka?"
"Iya, memangnya kenapa?" Balik bertanya dengan intonasi bicara yang jutek. Reyno juga merasa tidak membuat kesalahan apapun.
"Mulutmu sepertinya sudah tidak suci lagi ya, ternyata aku bukan wanita yang melakukan ciuman pertama denganmu." Sambil bangun dan duduk menjauhi Reyno.
"Apa! Ko bisa begitu, tayo kan bukan manusia." Menyerngit heran, istrinya ini salah minum obat apa sih? Perasaan makanan dan minumannya juga sama dengan yang Reyno makan.
"Tapi bibir kamu sudah terkontaminasi mulut si tayomu itu sebelum berciuman denganku. Cih! bilangnya masih suci, tapi nyatanya...?" Mata itu memutar malas, lalu melirik Reyno kembali dengan tatapan sinis.
Sebenarnya Jennie hanya ingin mengalihkan kesedihan Reyno, entah benar atau salah perbuatannya itu.
"Dasar cowok bekassan!" Ultimatum kata-kata yang Jennie tembakkan membuat Reyno mendadak Dejavu. Sepertinya pernah terjadi tapi kapan, ya?
"Cuma tayo kok!" Berbicara sok imut sambil berpikir, apa benar istrinya marah hanya karena boneka? "Kalau kamu kan sama kakak ciumannya. Itu baru cewek bekas."
Sekarang baru teringat, ternyata Reyno pernah berkata seperti itu pada Jennie. Itu artinya karma sedang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Beraninya kamu bilang aku cewek bekas. Kalau begitu jangan sentuh aku lagi, ngapain mau sama cewek bekas."
Hancur sudah harapan Reyno, ini kan malam pertamanya di pavillium. Tadi mau romantis-romantisan dulu, tapi Jennie mendadak aneh begitu.
"Aku mau pulang kerumah Bunda saja." Menjuntaikan kakinya ke lantai.
"Jangan-jangan ... maafin aku, aku nggga masalah kok, kalau kamu bekaspun."
"Apa!" Kesal sendiri. Di saat ia sudah ngambek-ngambek saja Reyno masih bisa berkata seperti itu. Suami sialan memang.
"Iya ... iya. Jennie ngga bekas kok, maaf ya, jangan marah lagi." Memegangi tubuh Jennie yang mematung kaku.
Ini merupakan caranya dalam menghibur Reyno. Pura-pura marah agar sedihnya hilang. Jujur saja, Jennie memang tidak seperti wanita lain yang menggunakan kehangatan untuk menenangkan suaminya. Biarkan Jennie mencinta Reyno dengan caranya sendiri.
"Awas ya, kalau berani mengulangi hal seperti itu lagi." Menyeringai licik tanpa Reyno ketahui. Sepertinya usahanya berhasil. "Aku maafin kamu." Intonasi galak.
"Makasih Sayangku...." diciuminya wajah itu dengan gemas. Lalu menarik tubuh Jennie agar kembali ke posisi semula.
"Ya sudah, ayok tidur." Lelahnya main drama malam-malam begini, bagaimana kalau bertengkar beneran ya. Pikir Jennie dalam hati.
"Jangan tidur dulu, kita kan belum praktek." Mengingatkan Jennie jika ia lupa kalau ini tempat baru, yang artinya harus malam pertama.
"Praktek apan?" Menohok dengan hati was-was. Pasti akan terjadi adegan 21+ nih.
"Menurut Jennie praktek apa lagi? Tentu saja Praktek pelajaran biologi." Tersenyum lebar dengan dada yang membusung bangga.
*Aaaa ... sudah kuduga akan berakhir dengan seperti in*i. Menjerit dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
Beri Jennie dan Reyno waktu untuk melakukan kegiatan selanjutnya.
*/*
__ADS_1
Vote dan likenya dong...🤣