
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Jennie, Reyno tak henti-hentinya berpikir keras. Sesekali ia menggusar ramburnya karena was-was. Tespack sudah di belinya, semoga saja hasilnya negatif. Jujur Reyno belum siap menjadi ayah, usianya masih delapan belas tahun, sementata Jennie, gadia itu lebih parah karena usianya masih 17 tahun lewat.
Arghh. Reyno semakin panik. Semenjak sibuk kerja lembur, Reyno memang tidak pernah mengontrol istrinya dalam meminum pil KB. Entah lalai atau tidak, gadis itu kan pikunan anaknya.
Dilihatnya kembali wajah Jennie yang terlelap di pelukannya. Gadis itu tidur dengan begitu damai. Jarang sekali melihat Jennie seperti itu.
Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan kalau Jennie benar-benar hamil. Mengurus anak saja kami tidak tahu. Terlebih pekerjaanku hanya seorang kuli, apa aku mampu menghidupi anak dan istri.
Karena Reyno sudah berjanji tidak akan kembali lagi ke rumah utama, ia gengsi kalau harus minta tolong papinya. Apa lagi kalau mengingat Papi Haris yang begitu kejam. Reyno jadi semakin benci pada ayah kandungnya sendiri.
Baiklah. Apapun yang terjadi aku tidak akan meminta bantuan Papi lagi. Ucap Reyno dalam hati. Kemudian ia menghembuskan nafas panjang agar sedikit lebih tenang. Pasti akan ada jalan terbaik untuk mereka.
"Je ... Je ..." Reyno membangunkan Jennie karena sudah sampai. Gadis itu sedikit mengerjap-ngerjap, masuk ke dalam pelukkan Reyno seakan tidak ingin turun.
"Gendong sampai ke kamarku," lirih Jennie sambil memeluk tubuh kekar Reyno, disentuhnya tumpukkan daging tebal milik suaminya. Dada Reyno sangat nyaman, ingin rasanya berlama-lamaan di sana. Bila perlu membenamkan wajah Jennie seharian di atas tumpukan daging berotot itu.
"Gendong?" Reyno membelalakkan bola matanya sempurna.
Apa ini pengaruh anakku yah. Pikir Reyno saat itu. Apaan sih! Jennie kan belum tentu hamil. Huuh. Pria itu menghembuskan nafas kasarnya.
Reyno mulai membuka pintu mobil, anak itu menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Sementara pak supir melajukan mobilnya menuju parkiran. Menunggu tuannya selama dua puluh empat jam jika butuh bantuannya. Walaupun itu adalah supir pribadi di rumah Reyno, ia akan tetap tinggal di rumah Jennie. Sesuai perintah dari mamih Dina. Mengikuti Reyno ke mana saja selama ia di Jakarta.
Sesampainya di kamar, Reyno langsung membaringkan Jennie dengan hati-hati di atas pembaringan. Gadis itu menarik tubuh Reyno dengan manja. Menyuruhnya berbaring di samping Jennie. Hari ini sikap Jennie tidak seperti biasanya, agak sedikit aneh dan membingungkan menurut Reyno.
"Bunda kemana, Reyn? Kok aku ngga liat, ya."
"Entah, mungkin sedang pergi. Gimana keadaan kamu, sudah baikkan belum? Apa mau aku buatkan teh hangat?"
__ADS_1
"Ngga usah. Aku mau ke toilet dulu."
"Tunggu dulu!" cegat Reyno saat gadis menjulangkan kakinya ke lantai.
"Kenapa?" Jennie menoleh. Reyno langsung bangun dan mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya.
"Kamu pakai ini." Reyno menarik tangan Jennie dan memberikan memberikan tespeck padanya.
"Tespeck?" Jennie menyerngit bingung. Ia selalu minum obat KB kok, kenapa juga harus pake tespack.
"Coba saja di kamar mandi. Untuk jaga-jaga, kamu kan belum pernah haid selama pakai pil KB."
"Baiklah, paling hasilnya negatif." Jennie mengedikkan bahunya sombong. Merasa pendapatnya yang paling benar. Lantas ia melangkah menuju kamar mandi.
"Huuh. Gimana kalau sampai Jennie hamil? Mati aku." Reyno mondar-mandir tidak jelas. Menunggu Jennie di depan pintu dengan hati was-was. Cukup lama gadis itu itu tidak keluar. Entah sedang apa di dalam sana.
***
"Jadi kamu beneran hamil?" ditatapnya wajah datar Jennie. Bola matanya masih membelalak tidak percaya.
"Tenang dulu, Reyn." Jennie berjalan malas dan membanting tubuhnya di atas ranjang. "Garisnya memang dua, tapi yang satu warnanya samar, pasti tespacknya eror. Lagian aku kan pakai pil KB," ujarnya enteng.
Reyno yang geram langsung menghampiri Jennie, duduk di pinggiran ranjang dan menatap istrinya kesal.
"Kamu bodoh ya, yang penting itu garisnya, bukan warnanya. Sekarang aku tanya, apa kamu minum obatnya dengan teratur?"
"Awalnya sih minum teratur, tapi lama-lama aku malas, jadi aku hanya minum kalau kita habis melakukannya saja."
__ADS_1
Argh! Reyno ingin memakan habis gadis itu sekarang juga. Kebodohan Jennie memang sudah tidak dapat di ragukan lagi.
"Lagian ya, Ren. Untuk apa kita minum pil KB setiap hari? Toh kita juga tidak berhubungan badan setiap saat. Menurut teoriku, obat pencegah kehamilan cukup di minum saat kita melakukannya saja."
Ya ... ya ... ya. Terserah kamu saja lah. Reyno memilih diam. Menghempaskan tubuhnya di samping Jennie dengan hati pasrah. Anak itu masih terus mencoba mengatur nafasnya dan kesabarannya yang mulai hilang. Huuuh. Aku gak nyangka akan jadi ayah secepat ini.
Ditatapnya kembali wajah Jennie yang terlihat imut. Gadis itu memandang langit-langit tanpa ada beban di hidupnya.
"Selamat ya," bisik Reyno sambil mencium pipi istrinya. Jennie menoleh kesal. Menatap wajah frustasi Reyno yang ia sembunyikan di dalam senyumnya.
"Jadi kamu masih mikir kalau aku hamil?" bentak Jennie tidak terima. Kata selamat yang keluar dari bibir Reyno terasa menyebalkan sekali menurutnya.
"Sayang, kamu dapat teori seperti itu dari mana? Kamu kan sudah baca aturan pakainya, kenapa di langgar?" Reyno mencubit pipi Jennie gemas. Gadis itu masih menatap suaminya dengan alis yang menukik tajam.
"Ya, menurutku aja. Untuk apa aku repot-repot minum kalau tidak di pakai." Bahu Jennie mengedik, lengkap dengan bibir yang di manyunkan 2 centi meter.
"Jadi kamu mau dipakai setiap hari," Goda Reyno dengan ekspresi wajah jenaka. Anak itu mencoba mengusir perasaan takutnya dengan bercanda.
Jujur Reyno merasa takut mengurus bayi, ia tidak mau anaknya sampai terlantar gara-gara ketidakbecusan kedua orang tuanya. Apa lagi kalau melihat Jennie yang bodoh itu. Kesehariannya pun hanya mengelus-elus ban motornya. Mungkin gak sih? Mereka berdua bisa mengurus seorang bayi?
***
Kejadian ini sering banget menimpa para pasustri pemula. Tidak hanya Jennie saja, jadikan edukasi dan pelajaran hidup saja ya. Oh, yaa..
Karena novel ini mau tamat, jadi aku udah siapin penggantinya.
mampir di cerita baruku ya, judulnya.
__ADS_1
Suamiku Seorang Pangeran.
Masih ada hubungannya sama Reyno, kok. Rilis jam 12 malam nanti.