
"Memangnya kamu Tuhan, Ya?"
Farhan menoleh kebelakang ketika mendengar suara seorang gadis yang sepertinya sedang menegur dirinya. Mahluk mengerikan apa itu, dia hanyalah gadis kecil, namun terlihat begitu mengerikan di mata Farhan. Pasti dia Jennie, nona muda yang tidak lain adalah istri Reyno, anak dari Tuan Haris yang menjadi kebanggaan Momy-nya.
"Memangnya kamu Tuhan, ya?" Jennie mengulangi lagi kata-katanya, ucapan yang bahkan tidak di mengerti sama sekali oleh Farhan.
Apa! siapa yang Tuhan?
Aku? ... Sudah gila apa dia.
Jennie mendengus kesal karena Farhan tidak kunjung menjawab pertanyaanya. Gadis itu mulai mendekati Farhan, meraih tanganya lalu menggigit telunjuk Farhan dengan sekuat tenaganya.
"Arghh!" Farhan memekik kesakitan, itu pertama kalinya ada manusia yang berani menyentuh Farhan, dan itu wanita, gadis delapan belas tahun lebih tepatnya. Jangan lupa di catat.
Apa dia gila?
Mengapa tiba-tiba menggigitku tanpa alasan.
Apa dia sejenis manusia jelmaan ikan piranha? Serius! Punya masalah hidup apa sebenarnya dia.
"Lihatlah, kamu masih merasakan sakit, ternyata kamu bukan Tuhan."
Memang aku bukan Tuhan, kau fikir Tuhan dapat di lihat, hah?
Wajah Farhan terlihat kesal. Untuk pertama kalinya ia dipermalukan oleh seorang gadis di depan para anak buahnya. Jennie tergelak. Mungkin hanya gadis itu yang masih berani tergelak saat sudah melakukan hal kurangajar pada Farhan. Farhan terkenal sebagai pengikut Tuan Haris yang paling disegani, bahkan William dan Reyno pun tunduk kepadanya.Anggap Farhan adalah versi kedua dari Tuan Haris.
Akhirnya Farhan angkat bicara. "Maaf nona, apa yang anda lakukan di sini? Kembalilah kerumah utama. Di sini bukan taman kanak-kanak untuk bermain." Farhan menekanka nada bicaranya pada kata taman kanak-kanak.
"Aku akan pergi jika Kaka berhenti menghukum mereka." Jennie menunjuk beberapa bodyguard yang sudah babak belur akibat cambukan dan pukulan yang dilakukan oleh Farhan.
__ADS_1
Hei, berani sekali kamu memanggilku Kaka.
"Nona, tolong kerjasamanya, saya tidak dapat memenuhi permintaan Nona, mereka semua bersalah karena telah lalai dalam menjalankan tugasnya." Farhan tidak berani melihat gadis polos itu. Melengos mengalihkan pandanya untuk fokus menghukum anak buahnya kembali.
"Kaka." Jennie menggunakan nada memelas agar hati Farhan luluh. Asli, Farhan mulai naik darah ketika ada yang memanggilnya dengan sebutan Kaka. "Mereka tidak bersalah, akulah yang mengusulkan ide agar mereka tidak usah mengikuti kami sewaktu masuk ke dalam mall. Hentikan hukuman mereka, aku akan menggantikanya."
Mana berani aku memukul wanita, Nona.
Apa lagi gadis itu kamu, menantu dari Tuan Haris. Mau mati apa.
Farhan mencoba untuk tidak peduli dengan gadis yang berdiri di belakangnya. Nanti juga ia akan pergi sendiri ketika melihat penyiksaan keji yang Farhan lakukan. Tidak akan ada gadis yang berani melihat siksaan yang Farhan lakukan, percayalah, itu sangat mengerikan.
"Berhenti!" Jennie berteriak saat Farhan hendak melayangkan satu cambukan pada anak buahnya."Apakah kamu tidak mempunyai ibu? Apa ibumu tidak mengajarimu kelembutan, mengapa kau begitu kasar sekali terhadap mereka."
Farhan mengepalkan kedua tanganya emosi, kata ibu terlalu menyakitkan bagi seorang Farhan. Sejak bayi ia hidup di panti asuhan kecil, pria itu tidak pernah merasakan seperti apa rasanya kelembutan. Saat berumur delapan belas tahun, barulah ia dapat bernafas dan merasakan kebebasan. Tuan Haris, ia adalah orang yang sudah mengubah dan menaikan derajat Farhan.
Karena Farhan masih tetap diam, Jennie mulai berbicara kembali. "Kaka, tidak-kah kau berfirik bahwa perbuatanmu sangatlah kejam? Istri dan ibu mereka pasti akan menangis ketika mendapati tubuhnya penuh lebam seperti itu. Mereka hanya ingin mencari nafkah untuk keluarganya, tolong jangan berlebihan, semua manusia pasti memiliki kesalahan." Tidak ada yang salah dari kalimat yang dilontarkan gadis itu, Jennie hanya ingin membereskan kekacauan yang disebabkan olehnya. Namun semua perkataanya sukses membuat darah Farhan mendidih, dengan satu gerakan kuat, pria itu mulai menaikan tinggi-tinggi cambuk yang ada di tanganya.
Farhan bergetar hebat saat cambuk itu berhasil menghantam tubuh seseorang. Di luar dugaan, Jennie berlari dan menghalang bodyuard itu. Cambuk itu tepat sasaran mengenai tubuh Jennie.
"Nona, apa yang anda lakukan?" Farhan menopang Jennie yang sedang bergetar kesakitan, lenganya langsung merah kehitaman akibat terkena hantaman cambuk itu.
"Semuanya bubar, kembali jalankan tugas kalian!" Farhan marah besar. Ada sedikit rasa salah bercampur emosi merundungi hati Farhan, pria itu langsung menggendong gadis yang sedang ketakutan menuju pavilliun terdekat.
Nona, mengapa kau sangat berani seperti ini?
Farhan mendudukan Jennie di atas sofa, mengambil kotak P3K untuk mengobati luka lebam di tangan Jennie.
Farhan termasuk dalam bagian orang penting di rumah Reyno. Tidak mungkin ada orang yang berani menyalahkan Farhan atas kejadian ini, bahkan Reyno sekalipun. Hanya saja pria itu merasa bersalah, karena ini adalah pertama kalinya ia melukai seorang wanita.
__ADS_1
"Kaka, tolong jangan lakukan itu lagi." Jennie tersenyum saat mengatakanya. Terlihat Jennie sedang menahan rasa sakitnya dibalik senyum polos itu
"Nona, itu sudah menjadi peraturan di dalam rumah ini, jika anda tidak mau hal itu sampai terjadi, janganlah membuat onar atau mengganggu tugas mereka." Farhan merapikan dan menutup kotak P3K-nya kembali. "Satu lagi, tolong jangan panggil saya Kaka, panggil saya sekertaris Farhan, karena saya juga mengabdi pada keluarga Tuan Haris."
"Tidak mau!" Penolakan itu membuat Farhan terkejut.
"Panggilan Kaka terlalu akrab untuk kita Nona, saya tidak mau orang lain salah paham mengenai hal ini. Tolong kerja samanya." Farhan benar-benar tidak tahu lagi bagiamana cara menghadapi gadis mengerikan itu.
"Kalau tidak mau dipanggil kaka, aku akan memanggil kamu sayang." Derrrr... Farhan seperti di sambar petir yang menggelegar. Ingin rasanya Farhan mengikat mulut Jennie dengan karet sayur.
"Nona, jaga bicara anda. Jangan sampai ini menimbulkan fitnah yang dapat merugikan diri anda sendiri. Tidak-kah anda melihat umurku jauh lebih tua dari anda, Nona. Saya akan senang jika anda bisa saling menghormati." Farhan masih terus berbicara lempeng dengan gaya kesopan satunan-nya.
"Saya juga akan senang jika kita bisa saling mencintai," ucap Jennie tanpa berfirik terlebih dahulu.
"Ya ... Nona!" Farhan emosi jiwa."Tolong jangan mempersulit hidup saya. Anda sudah menikah, tolong ingat status anda." Kesal. Gaya sopan santunya mendadak hilang.
"Kenapa? Tidak akan ada yang memarahi kita, Nyonya di rumah ini akan sangat senang jika kita berpacaran. Dia tidak perhan menganggap saya sebagai menantunya. Saya juga akan segera bercerai setelah enam bulan.
Sepertinya Nyonya Dina benar, anda memang gadis kecil penggoda. Cih! Aku tidak akan tergoda oleh bocah kencur sepertimu, Nona.
"Itu hanya rencana Nyonya Dina, Tuan Haris tidak pernah merencanakan perceraian semacam itu. Anda tenang saja, status anda sebagai menantu masih aman."
Cih! Menggelikan. Aku sudah pasti akan dibuang oleh keluarga ini. Jangan sok tahu. Dasar pria sapu lidi! lempeng sekali bicaramu.
Jennie berkata lagi, "aku tunggu jawaban kamu dalam waktu dua hari."
"Terserah! Anda sudah gila sepertinya." Sudah tidak kuat lagi menahan hantaman keras yang merasuki kejiwaanya.
Tiba-tiba pandangan Farhan tertuju pada sebuah liontin kalung yang melingkar di leher Jennie.
__ADS_1
Lionting kalung itu, dari mana ia memiliki liontin kalung seperti itu? Sepertinya itu asli, persis seperti liontin yang aku miliki.
***