
Kamu benar Reyn," ujar William. "Kakak memang tidak pernah ada waktu untuk Gibran. Mungkin benar yang kamu katakan, Girban tumbuh sebagai pribadi anak yang kesepian."
Menghela nafas kasar, ada air muka bersalah di dalam sorot mata ayah beranak satu itu. Seperti menyesali sesuatu yang ada di masa lalu.
"Aku dan Tere sibuk dengan urusan kami masing-masing. Keseharian Gibran lebih banyak dihabiskan dengan Mami dan bibi asuhnya. Kadang aku atau pun Tere pulang malam, dan mendapati Gibran sudah tidur di kamarnya."
Seulas senyum damai Reyno terukir sempurna. Pria itu memegang bahu kakaknya yang kokoh. Seolah sedang memberi kekutan pada William.
"Sesibuk apapun kita sebagai orang tua, kita tetap harus menemani tumbuh kembang anak, Kak. Masa kecil mereka hanya satu kali, tidak akan pernah terulang kembali meski kita rindu dan ingin mengulanginya lagi." Reyno menjeda ucapannya sebentar.
"Akan ada masa di mana kita sebagai orang tua merasa menyesal, ingin kembali menemani tumbuh kembangnya karena dulu selalu sibuk dengan berbagai macam urusan. Namun semua itu tidak akan kembali, anak akan semakin jauh dan bertemu tambatan hatinya masing-masing. Jika kita kurang memberi kasih sayang di masa kecilnya, ada kemungkinan si anak akan lupa pada orang tuanya sendiri. Kakak tidak mau 'kan melihat Gibran seperti itu?"
Tertergun, kali ini William merasa membeku sesaat. Umur Gibran sudah empat tahun. Dan selama empat tahun itu pula, William kurang memperhatikan anaknya.
"Ya Sudah, Reyno hanya iseng mengunjungi. Sekarang mau nemuin papi dulu. Semoga Kakak dan kakak Ipar bisa lebih memperhatikan Gibran untuk kedepannya," ucap Reyno seraya menepuk pundak kakaknya. Pria itu beranjak pergi untuk menemui sang papi di ruang kerjanya.
***
"Siang, Pih!" Begitulah sang bulon berceloteh riang ketika membuka pintu ruang kerja papinya. Padahal, Reyno baru saja menjadi manusia sok bijak saat di ruang kerja kakaknya.
Menoleh terkejut, tuah Haris sepertinya sedang bicara dengan sekertarinya. Reyno menyandarkan tubuhnya di depan pintu, merasa tidak suka melihat sekertaris wanita yang berpenampilan seksi itu. Memang tidak ada adegan apa-apa, hanya saja Reyno tidak suka dengan model sekertaris yang dipilih papinya.
"Jakarta banjir, Kah? Perasaan tidak ada hujan akhir-akhir ini." Mata Reyno terjutu sinis pada rok mini milik sekertaris itu. Merasa disindir, sekertaris itu langsung pamit undur diri. Ia berjalan ke pintu keluar dengan takut-takut, menyapa Reyno sekedarnya sebelum hilang di balik bingkai pintu.
__ADS_1
Jangan tanya ekspresi Reyno saat disapa sekertaris papinya. Reyno melengos kesal seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Menganggap sekertaris itu tidak bicara dan pura-pura tidak melihatnya.
"Tumben Reyn, datang ke kantor Papi. Ada apa?" tanya sang Papi yang sudah tahu anaknya sedang ngambek. "Dia sudah punya suami, Reyn. Suaminya juga kerja di sini," terang papi yang sudah paham duduk perkara ngambeknya Reyno.
"Cih! Mau kerja atau mau jualan, seksis sekali." Reyno berjalan mendekati sang papi dengan raut wajah sebal. Lalu membanting tubunya di bekas kursi yang di duduki sekertaris tadi.
"Papimu sudah tua, Reyn. Mana mungkin papi berani macam-macam. Memikirkan pekerjaan saja sudah tidak mampu. Apa lagi memikirkan wanita." Berkata lagi seolah mencari pembelaan diri.
"Sudah tua, tapi milih sekertarisnya model begituan. Apa di kantor Papi tidak ada cowok?"
Tergelak kencang, papi menjangkau bahu Reyno dan menepuknya tiga kali. "Pantas saja mamimu sangat sayang kamu, Nak. Ternyata kamu tidak pernah berubah sejak dulu. Masih tidak suka jika ada wanita yang dekat dengan Papimu."
Mengingat tingkah Reyno kecil di masa lalu, rasanya waktu terlalu sebentar untuk kebersamaan keluarga Haris. Dulu mami Dina sering mengirim Reyno ke kantor papinya untuk menguntit sang Papi. Jika ada perempuan yang mendekati Papinya, ia akan merajuk dan meraung-raung. Tak peduli itu tempat umum. Reyno kecil sangat berkontribusi dalam menghalangi kesempatan papinya untuk berselingkuh.
"Baru enam hari. Memangnya kenapa? Tumben tanya seperti itu?" ucap tuan Haris seolah tidak punya dosa.
"Mami sakit. Pasti Papi tidak tahu kan? Reyno habis cek hasil medis Mami, dan hasilnya sangat mengejutkan. Disitu tertulis kalau Mami banyak pikiran."
Sorot mata Papi berubah serius. "Banyak pikiran? Memangnya mamimu memikirkan apa?"
"Tentu saja mikirin Papi. Meskipun Mami dan Papi sudah sama-sama tua, dan mungkin sudah tidak butuh lagi hubungan ranjang. Tapi Mami tetap saja butuh kehadiran Papi, butuh perhatian Papi juga. Makannya Mami sakit karena kebanyakan mikir. Itu karena Papi tidak peduli pada Mami." Wajah Reyno terlihat marah saat mengucapkan hal itu. Bagaimanapun juga ia adalah seorang anak—yang tidak rela melihat ibunya menderita.
"Papi itu sudah seperti bang toyib yang tidak pulang-pulang. Reyno tahu Papi tidak pulang karena urusan pekerjaan. Tapi Mami bukan istri pajangan, Pih. Yang hanya dibutuhkan saat acara pesta."
__ADS_1
Astaga. Saat itu juga Reyno tertunduk takut. Seumur hidup ia tidak pernah memiliki keberanian untuk menegur Papinya. Meskipun Reyno tahu kalau papinya memiliki salah.
"Maaf, Pih," lirih Reyno saat melihat papinya terdiam dengan sejuta pikiran. Mungkin sedang mencerna omongan Reyno si lidah pedas.
Bangkit dari duduknya, sang Papi menghampiri Reyno yang duduk berseberangan dengan meja kerja. Reyno langsung gugup seketika.
"Papih marah sama Reyno?" tanyanya saat sang papi tak kunjung bicara. Reyno takut dianggap kurang ajar oleh papinya karena menggurui orang tua.
Tersenyum bangga. Papi menepuk kedua bahu Reyno. Memijit lembut permukaan kekar itu. Lantas berkata,
"Terima kasih, Nak. Papi sangat bangga memiliki anak sepertimu. Meskipun awalnya terlihat berbeda, kamu ternyata adalah berlian yang tak terlihat di mata kami . Hanya orang-orang terdekatmu yang dapat merasakan manfaatmu, Reyn. Hari ini, papi memutuskan untuk pulang dan cuti beberapa hari. Sesuai saranmu, Papi akan menemani Mamimu."
"Beneran, Pi?"
"Iya. Papi akan pulang dan mencoba memberikan banyak waktu untuk keluarga. Dan ingat, meskipun Papi mengizinkanmu untuk mandiri dan memiliki usaha sendiri, jangan pernah lupa bahwa tempat kamu yang sesungguhnya ada di sini. Mulailah memikirkan untuk bergabung bersama perusahaan. Papi sangat bergantung pada kalian bertiga, Reyn."
(Farhan, William dan Reyno)
Setelah mengatakan itu, Papi melangkahkan kaki beratnya menuju pintu keluar. Semua yang Reyno ucapkan berhasil membuat tuan Haris di hinggapi perasaan rindu dadakan pada istrinya. Perempuan itu ... Dina, adalah wanita berharga yang telah lama Haris abaikan selama ini.
***
Bantu like, komen, share dong kawan-kawan .... Hehe...
__ADS_1