
Reyno masih diam mematung. Meremat bajunya dengan kedua tangan. Sang pemilik warung keluar dari balik etalase, menghampiri Reyno yang terlihat keringat dingin. Wajahnya pucat menahan takut.
"Kamu butuh apa lagi, selain pembalut?" Wanita itu tersenyum pada Reyno. Ketegangan mulai mengendur. Reyno sedikit tenang melihat senyum ramah yang diberikan si pemilik warung.
"Saya butuh pembalut, beras, telur, mie instan, sama susu sachet dua bungkus, Teh." Reyno memberi tahu dengan tegas. Si Teteh pemilik warung langsung kembali ke dalam. Mengambil semua barang yang dibutuhkan Reyno. Cowok itu mendekat hingga menyentuh kaca etalase.
"Tumben baru kelihatan?" tanya si Teteh, Reyno dan Jennie pernah beberapa kali membeli barang kebutuhan di sini. Makannya si Teteh sudah tidak asing lagi melihat Reyno, terlebih wajah oriental mereka sangat mencolok.
"Tapi saya tidak memiliki uang untuk membayar sekarang ... Bisakah menggunakan KTP ini sebagai jaminannya?" Reyno mengeluarkan selembar KTP dari dalam dompetnya. menyodorkanya di atas kaca etalase.
Imut sekali sih, dasar bocah.
Si Teteh tersenyum geli. Reyno hanya mengambil belanjaan yang nilainya kurang dari lima puluh ribu. Namun tingkahnya seperti menghutang puluhan juta, sampai harus menggadaikan kartu identitas negaranya. Dasar bocah.
"KTPnya diambil saja, tidak perlu menjadikan jaminan. Banyak yang ngutang di sini lebih dari jumlah yang kamu ambil, kalau ada perlu apapun, datang saja kemari." Teteh menyodorkan barangnya di atas etalase, namun Reyno belum mau mengambil barang belanjaanya.
"Tapi saya masih seorang pengangguran, Teteh juga tidak mengenal saya, apa tidak masalah kalau tidak ada jaminan. Mungkin juga saya akan lama membayarnya, tunggu dapat kerjaan lalu di gaji." Wajah polos itu semakin membuat si Teteh gemas.
"Tidak masalah. Ambil kembali KTP mu, nanti kalau hilang malah Teteh yang repot." Si Teteh tergelak sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
"Kalau saya kabur gimana?" Reyno bertanya lagi, seakan masih ragu. Maklum, first time ngutang di warung.
"Engga pa-pa, Teteh ikhlas. Nanti di ganti dengan rizky yang lain. Hehehe." Teteh pemilik warung tersenyum.
"Makasih banyak, Teh." Reyno mencium tangan si Teteh dengan haru biru. Wanita itu langsung terkejut dengan tindakan sopan berlebihan yang Reyno tunjukan.
Cuma ngutang empat puluh lima ribu sampai cium tangan begini, andai generasi muda semuanya seperti kamu, Jang.
__ADS_1
"Oh iya ... Tunggu sebentar di sini, ya." Teteh masuk dalam rumah, kebetulan warung dan rumahnya tersambung jadi satu.
Reyno masih menunggu si Teteh pemilik warung, cowok itu mengedarkan pandanganya sambil tersenyum. Kini ia dapat bernafas dengan lega, hari ini bisa makan dan tidak kelaparan.
Sekitar lima menit kemudian Teteh pemilik warung itu keluar. Membawa satu set rantang berisi makanan.
"Ini buat makan kamu dan istrimu. Jangan tersinggung ya, soalnya hari ini Teteh masak banyak sekali lauk. Adik Teteh niatnya mau datang, tapi tidak jadi. Teteh hanya tinggal berdua dengan anak. Kebetulan suami Teteh merantau di Kalimantan," tutur si Teteh.
"Teh, ini banyak sekali, loh. Saya tidak enak menerimanya." Reyno tertegun melihat empat set rantang berisi makanan itu. Dari baunya saja sudah wangi sekali. Apa ia masih pantas menerima makanan pemberian si Teteh, dibolehkan menghutang saja sudah bersyukur. Ini dikasih makanan pula.
"Sudah terima saja, buruan pulang sana.Kasihan istri kamu sudah nungguin pembalutnya, ini Teteh kasih dua model pembalut. Biar istri kamu bisa milih sendiri." Karena Si Teteh tahu kalau Reyno tidak paham yang di maksud sayap dan biasa.
"Iya teh, sekali lagi makasih banyak. Saya permisi pulang dulu." Reyno mengambil kantong belanjaan dan rantang makanan yang di taruh di atas etalase.
"Sami-sami," ucap si Teteh. Cowok itu hendak melangkah pergi, namun si Teteh memanggil kembali. "Ujang!" Reyno menghentikan langkahnya, berbalik lagi menghadap si Teteh.
"Tadi kamu bilang belum kerja, ya?"
"Tadi Teteh di kasih brosur lowongan kerja, tapi pekerjaan kasar. Kalau kamu minat teteh kasih alamatnya." Teteh menatap Reyno dengan airmuka yang tidak dapat diartikan.
"Mau Teh ... Apa saja saya mau, asal tidak menggunakan ijasah tinggi, soalnya saya hanya memiliki ijasah SMP." Seutas senyum dengan sejuta harapan mengembang di sudut bibir Reyno.
"Kerja jadi kuli bangunan, memang mau? Paling kalau pemula pekerjaanya hanya membawa adukan semen. Tidak susah, Tapi capek sekali." Teteh memperhatikan tubuh Reyno yang tinggi bongsor, namun ada ratapan sedih saat membayangkan anak seumuran dia sudah harus kerja banting tulang.
"Mau, Teh ... Mau banget!" ucapnya bahagia tanpa ragu sedikitpun.
"Ini alamatnya, kebetulan mandornya ngontrak di dekat sini juga. Sering beli roko di sini, besok kamu datang saja. Dia lagi butuh kuli pemula seperti kamu." Teteh mengulurkan secarik kertas pada Reyno. Anak itu menerimanya dengan bahagia.
__ADS_1
Sekarang bukan saatnya untuk pilih memilih, Reyno sudah berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Apapun pekerjaanya tidak masalah, yang penting menghasilkan rupiah berapapun itu.
"Teteh, terima kasih banyak. Teteh malaikat untuk Reyno dan Jennie."
Oh, jadi nama mereka Reyno dan Jennie.
"Sami-sami, Kasep. Sudah sana pulang," Usir si teteh. "Kasihan nanti kontrakanmu bisa banjir darah," Godanya sambil tertawa.
"Oke, Teteh malaikat!"
Reyno segera pergi meninggalkan warung si Teteh. Jalan sambil berlari agar cepat sampai ke rumah.
Jennie pasti senang kalau tahu aku sudah dapat kerja ... Kira-kira kerja menjadi kuli bangunan itu seperti apa ya? Ah sudahlah, yang penting dapat pekerjaan. Apa lagi dekat, bisa jalan kaki dari kontrakan, ngirit kan.
Sementara di warung tadi, perempuan yang telah membantu Reyno langsung menelpon seseorang.
"Selamat pagi, Tuan. Saya sudah membantu mereka sesuai perintah, saya juga tidak melakukan hal yang mencolok dan mencurigakan."
Baiklah, buat senatural mungkin. Pria misterius itu menutup telponya. Si Teteh agak sedikit kaget ketika sambungan itu terputus tanpa pemberitahuan
Sebenarnya kalian berdua itu siapa, sih? Anak-anak yang malang.
Teteh mengelus dadanya sedih. Sebenarnya ia mau saja memberikan belanjaan tadi tanpa menghutang, namun ia takut jika pertolonganya di curigai oleh Reyno. Jadi Teteh hanya menolongnya secara wajar, sesuai dengan perintah mata-mata misterius tadi. Biarkan mereka berusaha sendiri, alias Reyno harus membayar barang yang telah diambilnya tadi.
Semoga tidak apa-apa saya menyarankan pekerjaan itu tanpa izin. Kasihan kalau melihat anak itu terus nganggur. Lagian saya hanya memberikan alamat, tidak membantunya kan?
Teteh bergumam dalam hatinya,bantuan pekerjaan dari Teteh memang inisiatifnya sendiri. Bukan rekomendasi dari pria suruhan Farhan dan Tuan Haris.
__ADS_1
***
Aku pernah bilang kalau Farhan paling ganteng diantara Reyno dan William, kan? Ada yang penasaran sama visualnya tidak?