
Mohon maaf ya, jam satu kemarin aku sudah setor naskah. Tapi terjadi kesalahan dan naskahku menghilang. Ini ku ketik ulang. Aku sampe sedih gak napsu makan.
Selamat membaca.
***
Selamat datang di dunia nyata, di mana hidup kita ditentukan oleh diri kita sendiri. Menjadi anak orang kaya tidak dapat menjamin hidup kita akan selalu bergelimangan harta. Sebaliknya menjadi keturunan orang miskin juga tidak akan selamanya bernasib miskin dan susah. Sekali lagi masa depan kita di tentukan oleh diri kita sendiri. Menjadi kaya atau miskin tergantung usaha dan doa yang kita panjatkan setiap harinya.
Reyno dan Jennie sudah berada di depan bangunan kontruksi yang baru seperempat jadi. Jennie sengaja ikut mengantar sekalian melihat tempat kerja Reyno seperti apa. Jaraknya memang hanya 300 meter dari rumah kontrakan mereka, tapi kondisi tempatnya sangat meragukan untuk Reyno. Kotor dan banyak debu di mana-mana. Tentu saja sama sekali tidak cocok untuk seseorang yang alergi debu seperti Reyno.
"Hatcihh ... Hatcihh ...." Reyno mulai bersin-bersin. Hidungnya tidak dapat berbohong kalau ia memang sensitif debu.
"Tuh kan, sudah aku bilang. Ini yang bikin aku khawatir sama kamu, belum apa-apa sudah kumat alerginya. Ayo kita pulang aja, kita cari pekerjaan yang cocok untuk kamu." Jennie menarik lengan Reyno agar segera menjauh dari halaman bangunan yang belum jadi itu, Reyno langsung menghentikan langkahnya.
"Please! Jangan pulang, aku masih mau kerja." Reyno memasang muka melas seperti biasanya. Membuat Jennie menghela nafas kasar. Membelokkan keinginan cowok itu memang sangatlah susah. Begitulah sifat Reyno kalau sudah memiliki keinginan. Kekeh!
"Gak! Kita pulang!"
"Aku sudah bawa masker di kantong, sudah pakai baju panjang dan celana panjang. Semuanya sudah aman, alergi aku ngga akan kumat, kok." Mencoba meyakinkan istrinya sekali lagi.
"Ya udah, kalo gitu aku ikut masuk ke dalam, aku mau ngawasin kamu, nanti kalau aku kangen gimana?" Jennie mengerucutkan bibirnya. Bertingkah manja seperti wanita. Memang dia wanita, hanya saja selama ini ia tidak pernah bersikap seperti itu. Perlahan mereka berdua saling bertukar jiwa. Sejenak Jennie merasakan perubahan yang terkesan menjijikan baginya.
Mulutku ini kenapa, sih?
__ADS_1
"Nanti juga Reyno pulang, aku kan baru mau daftar kerja, masa udah ngajakin istri." Reyno berbicara logis apa adanya.
"Huuh. Pastikan kamu pulang dalam keadaan utuh, atau aku gak akan izinin kamu kerja di tempat seperti ini lagi." Jennie memutar bola matanya malas.
"Siap Tuan Putri!" Reyno membelokan tubuh istrinya ke arah pulang, dengan malas Jennie melangkahkan kakinya pergi.
Urusan istri sudah selesai. Jennie sudah menghilang di ujung jalan. Dengan penuh keyakinan Reyno masuk ke dalam, melalui gerbang tinggi menjulang yang terbuat dari besi seng. Cowok itu sedikit menahan nafasnya karena terlalu banyaknya debu yang berterbangan.
Sepertinya niat baiknya untuk bekerja tidak disambut baik oleh penghuni di sana, beberapa orang tampak memandang Reyno dengan tatapan sinis. Reyno memilih untuk diam, menghampiri seseorang yang sedang marah-marah. Pasti itu mandornya. Reyno semakin mendekat.
"Selamat pagi, Pak. Perkenalkan nama saya Reyno, saya ingin mendaftar kerja di tempat ini." Reyno menunduk sopan.
"Kerja?" Sang Mandor menatap cowok itu sambil mengernyitkan dahinya. Memang tubuhnya besar dan bongsor, tapi kulit putih mulus dan wajah bocahnya sama sekali tidak pantas menjadi seorang kuli. Bagaimanapun juga Reyno masih diusia anak sekolah, yang seharusnya sekarang sedang dag-dig-dug menunggu pengumuman kelulusan.
Reyno menunduk bingung. Espektasinya akan langsung diterima kerja ternyata salah besar. Lagi-lagi dia hanya dianggap bocah yang sedang main-main.
"Sebaiknya kamu pulang, untuk apa bekerja seperti ini. Tempat ini bukan taman kanak-kanak, pekerjaan ini terlalu berat untuk lelaki seusiamu, Nak." Sang Mandor menepuk bahu Reyno, Anak itu langsung mendesah kecewa. Dia menangis.
"Tolong saya, Pak. Usia saya memang masih muda, tapi saya sudah memiliki istri. Saya hanya tamatan SMP, mencari pekerjaan lain juga susah. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak, kami sudah tidak memiliki uang lagi untuk bertahan hidup." Senista ini memang kehidupannya. Reyno bahkan sudah tidak ada harapan lagi saat pekerjaan yang paling tidak membutuhkan ijazah tinggi saja sudah menolaknya. Hanya mengiba lah usaha terakhir yang bisa ia lakukan.
Lihatlah, bahkan kau masih menangis. Dasar bocah!
"Baiklah! Kamu boleh langsung bekerja, ambil peralatan kerjamu di sana." Sang Mandor menunjuk tempat safetty, di sana ada rompi, helm proyek, dan juga sepatu boot khusus kuli. "Bekerjalah dengan baik."
__ADS_1
"Terima kasih, Pak! Saya akan berusaha sekuat tenaga." Reyno mencium tangan si Bapak Mandor. Membuat pria tua itu sedikit terharu dengan kelakuan anak itu. Reyno sangat senang, bila perlu bersujud pun ia lakukan.
"Tapi pak—." Reyno mengiba lagi. "Bisakah Anda memberikan gaji saya setiap hari? Saya butuh uangnya untuk dipakai makan saya dan istri." Pertanyaan polos itu sungguh mampu menggetarkan hati seorang mandor tua yang hidupnya jauh dari anak dan istrinya. Pak Farik namanya. Dengan desahan lembut ia mengeluarkan dompetnya, mengambil uang seratuh dua puluh lima ribu dari dalam dompetnya.
"Gaji kamu seratus dua puluh lima ribu, tapi kotor. Berhematlah kalian pasangan muda." Sambil mengulurkan uangnya pada Reyno.
"Tapi saya belum bekerja, Pak." Reyno merasa tidak enak hati.
"Saya takut kamu kelaparan jam istirahat nanti, ambilah gaji pertama kamu," ucapnya dengan raut wajah datar.
"Terima kasih, Pak. Anda malaikan untuk saya dan istri." Reyno tersenyum bahagia.
Tanpa terasa Pria itu menitikan air matanya saat Reyno sudah berlalu pergi. Usia Reyno seumuran dengan anaknya di kampung, seharusnya dia masih sekolah, kan?
Wajah bahagia Reyno terus menari-nari dipikirannya. Betapa bahagia wajah polos itu saat diterima kerja membuat hati pak Farik menjerit miris.
Kuli bangunan, pekerjaan yang sering dianggap hina oleh sebagian umat. Di mana hampir setiap manusia meremehkan orang yang berprofesi sebagai kuli. Padahal mahluk di bumi tak akan bisa berteduh tanpa kerja keras mereka. Tanpa mereka sadari hunian megah dan gedung mewah yang menjadi fasilitas mereka adalah hasil tangan para kuli yang sering mereka rendahkan.
Terkadang Pak Haris juga tidak habis pikir dengan manusia-manusia seperti itu. Memangnya salah menjadi seorang kuli? Bukankah pekerjaan mereka termasuk mulia. Hanya karena penampilannya yang kotor dan bau, orang menganggap para kuli sebagai mahluk yang menjijikan. Patut dijauhi. Itulah yang membuat sebagian anak buahnya merasa minder dan merasa pekerjaan mereka tidak berharga.
"Kuproy!" Begitulah mereka menjuluki seorang kuli, bersamaan dengan pandangan sinis dan langkah yang menjauh. "Jangan dekat-dekat. Bau!" Kata itu terlontar, bahkan bisa didengar oleh mereka si tukang kuli.
Baru kali ini juga, pak Farik melihat orang yang sangat bangga diterima bekerja menjadi seorang kuli. Yang statusnya tidak pernah dihargai oleh sebagian manusia di bumi. Dialah Reyno, bocah delapan belas tahun yang katanya sudah menikah.
__ADS_1
***
Kalau sudah 300 like aku up lagi. wkkww.Ngelunjak, nih.