Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Di larang cemburu


__ADS_3

Cih! Biarpun kakak kandung, aku tetap tidak suka melihat Jennie memperhatikan Farhan. Kalau tidak sedang sakit, sudah ku tendang dua biji berhargamu Farhan. Reyno.


Apa-apaan sih, Farhan! Tumben sekali mau disuapi wanita. Apa jangan-jangan dia mau jadi saingan kita. Cih! Aku saja belum pernah disuapi Sweetheartku. William.


Jennie duduk di samping Farhan, menyuapi pria itu dengan telaten dan penuh kasih sayang. Sesekali ia mengelap bibir Farhan dengan tisu. Wajar kan dia begitu, Farhan itu kakak kandungnya. Apa lagi mereka berdua sudah lama terpisahkan. Pasti Jennie ingin membangun momen indah bersama kakaknya.


Namun tidak dengan dua pria yang duduk di sofa sambil menatap Farhan dan Jennie dengan kesal. Reyno dan William makan dengan cepat, membentur-benturkan sendok hingga menimbulkan dentuman keras yang mengusik pendengaran.


Tidak tahu datangnya dari mana, hari ini Farhan bertingkah sangat manja. Padahal setiap kali sakit, pria itu selalu tegar dan tidak pernah mengeluh sedikitpun. Makanan yang di suapi Jennie sudah habis tak tersisa, gadis itu meletakkan bekas makan Farhan di atas nakas.


"Masih pusing kah? Biar aku pijit pelipismu." William menohok mendengar Jennie berbicara seperti itu, ditambah Farhan mengangguk tanda setuju. Fiks! Farhan pasti mempunya perasaan lebih pada Sweetheartnya. Ia sangat tahu dengan jelas seperti apa Farhan. Pria Gunung Es itu tidak pernah membiarkan cacing betina manapun menyentuh tubuhnya. Namun dengan gampangnya Farhan mempersilah Jennie memijit pelipisnya. William juga mau diperlalukan seperti tahu.


Beralih pada Reyno, anak itu menutup mata hatinya serapat mungkin. Sebelumnya Jennie sudah mengancam Hello Kitty—nya agar jangan sampai cemburu jika Jennie perhatian pada Farhan. Jika Reyno berhasil, sebagai gantinya Reyno akan mendapat imbalan yang istimewa pada malam nanti. Namun jika sampai Reyno merajuk, siap-siap untuk tidak menyentuh Jennie satu bulan lebih. Tentu saja Reyno menahan diri sedari tadi, demi imbalan yang sudah di janjikan Jennie nanti malam.


Nafas Reyno naik turun tidak jelas, menahan keki yang rasanya tidak masuk akal ini. Ancaman Jennie memang sangat mengerikan, enoki kecil Reyno bisa mati kalau dibiarkan nganggur tanpa asupan gizy selama satu bulan. Apa lagi ia baru-baru ini merasakan hal seperti itu. Paling baru tiga sampai empat kali merasakannya. Walau mulut pamernya sudah berkoar-koar dimana-mana. Hehehe.


"Tidak cemburu?" William menoleh pada adiknya yang sibuk makan. Reyno hanya menggeleng sambil mengunyah makanan. "Aneh sekali. Kenapa tidak cemburu?"


Di posisi ini William belum tahu kalau Jennie adalah adik kandung Farhan. Tentu saja William merasa aneh melihat Reyno yang tidak berani melarang Jennie ini itu. Tahu sendiri seperti apa sikap Reyno jika ada yang menyentuh miliknya.


"Farhan sedang sakit, biarkan saja." Reyno melengos.


Siapa yang gak cemburu! Kalau tidak diancam juga aku pasti larang. Menggerutu di dalam hati sambil mengunyah makanannya.


"Kamu beneran tidak mau pulang?" tanya William mengalihkan pembicaraan.


Reyno nampak berfikir. Sebenarnya ia kangen sekali dengan maminya. Tapi kalau pulang pasti semuanya akan kembali seperti semula, hubungannya dengan Jennie tidak akan bisa sebebas ini kalau di rumah. Reyno juga kasihan pada Jennie, ia tahu kalau istrinya tidak betah tinggal di rumahnya.


"Papi belum nyuruh Reyno pulang kan? Untuk apa Reyno pulang ke rumah." Diletakannya sendor dan garpu ke atas piring, lalu melengos dan melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Aku yang akan membujuk Papi. Kamu cukup pulang saja dulu, kalau sampai tidak berhasil, masih ada Farhan si Anak Emasnya. Papi pasti luluh kalau Farhan sudah berkata," Sambil melirik Farhan yang sudah mulai terlelap.


"Aku tidak mau pulang. Kalau kaka memang peduli padaku, tolong ambilkan tayo di kamarku. Aku rindu padanya."


Cih! Ternyata dia masih sama. Bahkan tidak lupa dengan boneka kesayangannya itu.


"Aku bawakan tayo untukmu, tapi berikan istrimu padaku," goda William tidak tahu diri.


"Mimpi saja dirimu William!" bentak Reyno jengkel.


Seteleh memastikan Farhan tidur, Jennie langsung bergabung dan duduk di sofa bersama William dan suaminya. Reyno langsung menggelayutkan tangannya dengan manja dan bersandar pada Jennie. Sesekali ia mencium pipi Jennie, sengaja ia lakukan agar batu sandungan di sebelahnya kebakaran jenggot.


"Hallo Mami!" Tiba-tiba William melakukan panggilan video dengan maminya. Sengaja agar Reyno menghentikan kegiatan pamer kemesraanya.


Hai Sayang, kamu di mana?


"Di rumah sakit, Mam. Farhan keracunan" William melirik Farhan. Aman. Pria mengerikan itu sudah tidur.


Ya Tuhan. Kenapa bisa begitu?


"Susah dijelasinnya, Mam. Yang penting keadaan Farhan sudah membaik." William menggeser layar ponselnye ke wajah Reyno. "Lihatlah, apa Mami rindu dengan kecebong ini?"


"Hallo Mami, Apa kabar?" Reyno melambaikan tangannya dengan senyum cerah seperti matahari.


Ya Tuhan... Reyno Sayang. Mami kangen sekali dengan kamu, Nak. Bagaimana kabar di sana? Apa kamu sehat-sehat? Istrimu tidak menyusahkan, kan?


"Tidak, Mah. Reyno sehat dan baik-baik saja. Mami tidak usah khawatir," ucap Reyno dengan suara riangnya.


Pulanglah dengan kakak. Biar Mami yang akan bujuk Papimu. Nyonya Dina langsung haru biru melihat putra bungsu kesayangannya. Tanpa sadar cairan bening mulai meleleh di pipinya.

__ADS_1


"Nanti saja pulangnya, sekalian bawain Mami cucu," kelakar Reyno sambil tergelak. "Tunggu ya, Mam. Dede bayinya masih di proses."


Astaga! Mami langsung memegang jantungnya sambil terheran-heran. Reyno anak kesayangannya kenapa bisa sampai berkata begitu? Di mana sikap sopan dan lugunya selama ini?


Sayang, jangan bicara seperti itu. Mami tidak ingin cucu, Mami mau kamu saja pulang ke rumah. Rayu Dina pada anaknya.


"Reyno sudah betah di sini Mam, Reyno juga sudah kerja. Minggu depan Reyno akan kejakarta, nanti kita bisa ketemu Mam."


Benarkah Sayang? Mami sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.


"Iya Mam. Reyno juga kangen sama Mami. Oh ya, bagaimana dengan Tayo? Apa dia baik-baik saja selama Reyno tidak ada?"


"Tayomu sudah ku injak-injak sampai tak berbentuk!" sela William jengkel. Sempat-sempatnya anak itu menanyakan benda menjijikan itu. Rasanya hanya Reyno seorang di dunia ini, pecinta boneka yang berprofesi menjadi kuli bangunan. Tidak malu dengan semen dan batu bata kah.


"Apaan sih kaka, ganggu aja tahu," gerutu Reyno sambil merebut ponsel kakaknya.


kamu tenang saja, Sayang. Semua barang- barangmu masih utuh. Mami menyuruh pelayan untuk membersihkan kamarmu tiga kali sehari.


"Terima kasih, Mam."


Oh ya, mana si gadis tomboy itu?


"Ada di samping Reyno." Menggeser kameranya pada Jennie. Reyno mencium pipi Jennie di depan Maminya tanpa malu-malu


Ya Tuhan, Sayang. Apa yang kamu lakukan? Hentikan itu ... menjijikan sekali kelaunmu, Nak.


"Kenapa, Mam? Jennhie kan istriku. Bahkan Reyno sudah melakukan yang lebih dari sekedar ciuman. Diajak terbang-terbang ke atas awan setiap malam oleh Jennie. Hehehe."


Aaaaaa. Ya Tuhan, anakku kenapa jadi begini. Batin Mami Dina Heran. Nyonya Dina mendadak limbung. Apa yang terjadi dengan Reyno selama tidak diawasi olehnya.

__ADS_1


***


Minta Like dan votenya yah.....


__ADS_2