Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 44


__ADS_3

"Papa!" panggil Cilla dengan nada suara melengking kuat. Di mana Reyno dan Jennie dibuat kalang kabut dengan kemunculan anak-anaknya.


Cilla dan Cello sudah berdiri di belakang mereka. Saking asiknya bercanda, Reyno dan Jennie sampai tidak sadar kalau ini masih jam setengah tujuh malam. Di mana Cilla dan Cello masih suka keluar masuk ke kamar papa dan mamanya. Apalagi pintu tidak di kunci.


"Papa lagi apa? Kok kepalanya masuk ke baju Mama?" tanya Cello dengan mata polosnya. Reyno langsung menjaga jarak agak jauh dari Jennie, merasa malu sendiri kareba terciduk anak-anaknya. Lagi dan lagi, ia dibuat salah tingkan dan menelan ludah gugup.


"Mama kenapa dipangku sama Papa? Kan udah ende," tanya Cilla. Pandangan anak itu menjurus tajam. Seolah meminta penjelasan yang dapat di terima oleh otaknya.


Reyno menggigit bibir bawahnya. Matanya berputar-putar mengikuti otak yang sedang mencari sebuah alasan yang dapat di terima anak kecil. "Ehmm, tadi Mama digigit semut. jadi papa bantu cari semutnya, Sayang."


"Enelan ada cemut? Papa gak lagi enen kayak Cilla kan? Cilla udah gak enen, Papa udah besal juga gak boleh."


Astaga, dapat pemikiran dari mana si kecil Cilla? Tapi kalau Reyno boleh jujur yang Cilla katakan memang benar. Itulah realita yang sedang Reyno lakukan.


"Beneran, Kok." Reyno berbicara gugup.

__ADS_1


"Cilla dan Cello kenapa gak ketuk pintu dulu? Papa kan sudah bilang, harus ketuk pintu sebelum masuk." Reyno mengingatkan jika mereka lupa.


"Yupa, Pa! Abis Cilla ceneng, malam ini bisa bobo sama Mama dan Papa." Kebetulan bibi pengasuh mereka besok libur, sehingga kedua anak kembar itu bisa tidur dengan Reyno dan Jennie.


"Lain kali jangan di ulang ya, ketuk pintu sebelum masuk."


"Iya Papa," jawab Cello dan Cilla kompak.


Tak mau ambil pusing dengan kejadian tadi, Cilla dan Cello naik ke atas ranjang. Mulai bergulang-guling dan mengambil posisi duduk sesuka hati mereka.


Jennie dan Reyno saling melempar pandangan tajam. Kedua berbicara dengan kontak batin, saling menyalahkan tanpa bicara sepatah katapun.


Syukurlah, sepertinya kedua anak kembar itu sudah lupa dengan kejadian yang mereka lihat tadi. Keduanya nampak serius membuka lembaran buku belajar. Cello nampak sibuk mewarnai, sementara Cilla asik menghitung angka dengan papinya.


Reyno mulai mengajari Cilla dengan telaten, karena moodnya sedang suka menghitung, jadi Reyno mengikuti arah kemauan belajar si kecil.

__ADS_1


"Cilla, ada tiga kueh di meja, di tangan Cilla ada satu lagi. Totalnya jadi berapa?"


"Banyak Pa!" jawab Cilla yang kepusingan sendiri. Reyno menghela nafas sabar. Ia melirik Jennie dan Cello yang sedang asik memilih warna untuk menggambar sebuah pesawat. Lalu fokus kembali pada anak perempuannya yang masih kesulitan dalam bidang matematika.


"Iya papa tahu ada banyak kuenya. Tapi yang papa tanya jumlahnya berapa?" tanya Reyno menunjuk-nunjuk gambar kue yang ada di dalam buku.


"Pokokknya banyak, Cilla gak tau Pa!" jawabnya dengan enteng. Mirip sekali dengan sang mama kalau diajak belajar. Tidak pernah bisa diajak serius.


Kembali menahan sabar, kali ini Reyno memperagakan menggunakan jemarinya. Menunjukkan tiga jari dan satu jarinya lagi


"Jadi begini ya, Cilla. Dengerin papa, Cilla kan makan tiga kue, terus makan lagi satu. Jadi berapa?"


"Jadi kenyang, Pa. Cilla kenyang makan kue segini." Sambil memperagakan jemarinya seperti Reyno.


Reyno melongo takjub, menepuk jidat tanda angkat tangan. Matanya melirik Jennie, wanita itu sedang senyum-senyum melihat kekesalan suaminya. Urusan otak, Cilla dan Jennie bagaikan pinang di belah dua. Beda dengan Cello yang bisa langsung mengerti saat di ajari soal pelajaran.

__ADS_1


***


Buat yang gak suka karena konfliknya gak gereget, maaf ya, ini aku nulis berdasarkan request dari banyak pembaca, yang minta cerita ringan-ringan tanpa adegan menantang gitchu. Wkwkwkw.


__ADS_2