Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Kegelapan Cinta


__ADS_3

"Apakah Kakak sudah pernah merasakan jatuh cinta?" Pertanyan itu lolos dari bibir Reyno. Di mana si target hanya bergeming. Masih menarik dan menghembuskan napas tenang seperti biasa.


Seorang Farhan tidak mungkin mau menjawab pertanyaan tidak penting. Apalagi  sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Sepertinya Reyno hanya buang-buang tenaga jika melempar pertanyaan seperti itu pada pria gunung es model Farhan.


"Kak," desah Reyno kesal, pria itu kembali menatap lurus pada jalanan di depan. "Aku manggil kamu, loh, Kak!"


Farhan menoleh dengan lirikan ekor matanya, lantas cosplay kembali menjadi batu prasasti.


"Astaga, Kak. Aku tahu kau jomlo abadi, tapi masa ia tidak pernah merasakan jatuh cinta terhadap wanita walau hanya sekali," seru Reyno yang mulai frustasi. Empat tahun tidak bertemu, Farhan masih tetap sama saja. Tidak ada yang berubah kecuali kegarangannya yang semakin bertambah.


"Memang seperti apa rasanya orang yang jatuh cinta?" Bertanya dengan muka malas yang terus memandang ke arah kaca jendela.


"Seperti apa, ya?" Reyno mengetuk-ngetuk kemudi sambil berpikir. Mobil masih melaju dengan kecepatan normal, membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai seperti biasanya.


"Misalkan Kakak berdekatan dengan wanita yang Kakak suka, jantung Kakak pasti akan berdebar hebat. Lalu, jika Kakak jauh dengan wanita itu, Kakak akan menjadi psychopath gila yang memikirkan hal-hal negatif tentang wanita itu," ucap Reyno sambil serius mengemudi.


Farhan mulai termenung, memutar memori otaknya pada gadis yang bernama Lisa. Ia pernah dekat dengan dengan Lisa hampir tanpa jarak. Bahkan pernah tidur dalam satu kasur yang sama. Namun jantung Farhan masih biasa saja. Tidak ada sesuatu yang bergetar apalagi jantung yang menggila hebat. Malahan, Farhan merasa kesal karena Lisa memuntahkan isi perutnya di baju Farhan tengah malam.


Lalu saat tidak ada di dekat Lisa, Farhan 'kan punya CCTV di rumahnya. Ia bisa mengecek Lisa sedang apa di dalam rumah. Kalaupun Lisa pergi ke luar rumah, paling hanya pergi ke kampus dan nongkrong di kafe bersama teman-temannya. Tidak ada aktifitas yang negatif menurut Farhan. Jadi untuk apa menjadi psychopath gila? Farhan dapat mengetahui di manapun Lisa berada. Apalagi ada bantuan alat penyadap yang terpasang di ponsel Lisa. Ia sendiri bisa tahu berbagai aktivitas Lisa langsung dari ponselnya sendiri. Sekali lagi Farhan tidak perlu menjadi psychopath gila yang berpikiran negatif.


Pada akhirnya Farhan buka suara setelah bosan bertapa. "Aku pernah tidak sengaja tidur dengan wanita, tapi jantungku tidak berdebar."

__ADS_1


"Uhukk!" Reyno mendadak tersedak air ludahnya sendiri. Matanya melotot ke arah Farhan tidak percaya. "Kak, apa milikmu masih normal? Bolehkah aku memeriksanya?"


"Jangan gila!" sergah Farhan sambil menepis tangan nakal Reyno yang sudah menempel di pangkal pahanya. Sementara Reyno hanya geleng-geleng kepala. Untuk pria seumuran Farhan, harusnya sudah cukup dewasa menanggapi situasi macam itu. Setidaknya ada kilatan gairah dan keinginan. Jika Farhan memang pria normal, tapinya.


"Dulu waktu aku pertama kali tidur dengan Jennie saja berdebar loh, Kak. Rasanya aneh dan banyak sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Malam pertama kami sulit tidur, baru bisa tidur saat ada sekat bantal tinggi yang membentengi kami," ucap Reyno bernostalgia.


Farhan yang tidak mau mendengar cerita Reyno memilih diam. kembali berekspresi mengerikan dengan mata yang menatap lurus ke jendela luar. Pria itu mengubah wujudnya kembali menjadi batu prasasti angker yang tidak bisa disentuh oleh siapapun.


"Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan, Kak. Tapi kalau kau sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta, rasanya percuma juga aku menjelaskan," tandas Reyno, Farhan langsung menoleh antusias. 


"Mau bicara apa? Langsung pada intinya, tapi jika kau ingin membahas kapan aku menikah, lebih baik tutup saja mulutmu! Tidak perlu membuang-buang waktu dengan nasihat tidak penting," telak Farhan tidak suka.


Reyno menggeleng sambil menyumpah serapah di dalam hati. Dasar Farhan, ia belum tahu saja seperti apa indahnya memeluk sang istri setiap malam. Makan disiapkan, pulang kerja dipijiti, dapat jatah dua hari sekali, dan segala sesuatu yang Reyno butuhkan selalu disiapkan oleh Jennie.


Farhan langsung menoleh dengan raut wajah tidak suka. Matanya menikuk tajam ketika nama itu disebut oleh Reyno. "Kenapa dengan ayah mertuamu?" Nada suara Farhan sedikit membentak.


"Aku hanya ingin menjadi perantara di antara kalian berdua. Menurutku, ayah tidak sepenuhnya salah walau ia sudah membuangmu dan melakukan percobaan pembunuhan. Almarhum ayah kandung Kakak duluanlah yang memancing semua perkara itu. Jika ayah kandung Kakak tidak memperkosa bunda, ayah mertuaku tidak akan gelap mata seperti itu." Reyno menoleh dengan tangan yang sedikit terulur. Lalu meremas jemari Farhan penuh keyakinan.


"Cinta adalah sesuatu yang mampu membuat akal sehat kita mendadak hilang. Jika aku berada dalam posisi ayah waktu itu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku mengerti semua itu tidak akan masuk ke logika Kakak iparku yang hidupnya selalu lempeng ini. Karena harus ada cinta terlebih dahulu agar seseorang berubah menjadi gila," ujar Reyno panjang lebar.


Farhan tak menjawab sepatah katapun. Pria itu kembali bergeming dalam sejuta lamunannya. Setelah beberapa saat, barulah ia berani berkata,

__ADS_1


"Jadi apa inti dari ucapanmu?" tanya Farhan yang sudah tahu keinginan Reyno.


"Ayah Hermawan sudah banyak merasakan derita di dalam sel selama empat tahun. Aku harap Kakak bisa berdamai dengan keadaan, dan melupakan kenangan buruk di masa lalu," ujar Reyno yang menoleh dengan senyuman. Pria itu membelokkan mobilnya ke kanan. Memasuki gapura di komplek rumahnya.


"Jadi kau memintaku membebaskan orang itu?" tanya Farhan dengan wajah datar.


"Tidak juga, aku hanya ingin Kakak tahu kalau ayah Hermawan tidak sepenuhnya bersalah. Dan juga ini demi kebaikan bunda." Arah bicara Reyno bertambah berat. Membuat Farhan yang masih awam akan kepekaan cinta semakin bingung.


"Kenapa dengan bunda?" Kembali bertanya dengan wajah polos tak berperasaan.


"Kakak tahu 'kan, kalau bunda tidak jadi menceraikan ayah. Itu karena bunda masih mencintai ayah. Bunda memang rela hidup sendiri tanpa ayah, tapi aku yakin bahwa bunda sangat tersiksa selama ini. Dalam diam bunda dan ayah merindukan satu sama lain."


Farhan tertegun menelan saliva. Ia memang belum begitu paham tentang persoalan cinta, tapi ia mulai paham saat Reyno menjelaskan semuanya tadi. Meskipun ayah Hermawan salah besar, namun tidak menutupi bahwa semua itu diawali oleh ayah kandung Farhan sendiri.


Tidak ada asap jika tidak ada api. Begitulah beribahasa untuk kasus Hermawan dan ayah kandung Farhan.


Dengan gaya angkuh dan sedikit arogan Farhan menoleh ke arah Reyno kembali. "Beri aku waktu, biar kupikirkan dulu semua ini," ucap Farhan singkat.


Reyno tersenyum tipis dan menginjak rem mobilnya ketika sudah sampai di depan gerbang rumah. Ternyata meluluhkan hati Farhan tidak sesulit yang Reyno pikirkan. Meski jawaban Farhan belum jelas, namun Reyno yakin dengan langkah yang akan diambil Farhan nantinya.


Aku harap hati batumu sedkit meleleh, Kak. Jika kamu memaafkan ayah mertua, mungkin Jennie juga akan memaafkannya. Karena dia sangat menyayangimu, batin Reyno dalam diam.

__ADS_1


***


__ADS_2