
Farhan kembali menemui Tuan Haris di ruang kerjanya, jam menunjukan pukul delapan malam. Pria tua itu masih sibuk dengan beberapa dokuman di depan meja kerjanya.
"Selamat malam, Tuan. Hari sudah malam begini, pulanglah, biar saya yang melanjutkan pekerjaan anda." Farhan menyapa dengan bahasa lugas dan sopan seperti biasanya. Namun bapak dua anak itu malah mengabaikan saran yang diberikan Farhan.
"Bagaimana dengan keadaan di rumah? Apakah istriku berulah? Pasti dia sering menghukum menantuku, ya?" tanya Tuan Haris, ia meletakan dokumen yang ada ditanganya ke atas meja.
"Nona Jennie melakukan beberapa kesalahan, wajar jika di hukum." Farhan membenarkan tebakan Tuan Haris, namun tidak mau menjatuhkan istrinya yang kejam itu.
"Dina memang begitu, tidak pernah bisa menerima kehadiran orang baru. Ingat tidak waktu dulu kau datang? Aku hampir setiap hari bertengkar dengan perempuan itu karena dianggap selalu membelamu. Semua hanya butuh waktu, lama kelamaan pasti Dina akan menerima kehadiran Jennie sebagai menantunya."
Farhan mengingat kembali memori di otaknya, pria itu juga sering di hukum oleh Mami Dina. Dia dan William sering di hukum bersama, di kurung dan tidak diberi makan dalam gudang gelap. Namun laki-laki itu kuat, jika hal seperti itu diterapkan pada Jennie mungkin lain lagi ceritanya. Bagaimanapun juga Jennie adalah seorang wanita.
"Tuan, apakah anda tidak ingin pulang? Ini sudah tiga hari, Nyonya dan Tuan Muda pasti ingin bertemu." Farhan mencoba membujuk si Tuan Haris yang gila kerja itu.
"Malam ini aku ingin tidur di sini saja, toh aku memiliki kamar khusus untuk beristirahat. Besok aku akan pulang untuk memberitahu rencana bagusmu itu," tegas Tuan Haris sambil melirik dokumenya kembali.
Tuan Haris memang jarang pulang, bahkan ia baru bertemu Jennie satu kali saat diacara pernikahanya dengan Reyno.
"Oh ya, Tuan. Mengenai rencana kita itu, bisa tidak kalau dibatalkan saja?" tanya Farhan hati-hati. Pria itu sudah goyah, ia tidak tega melihat adik kandungnya menderita.
Dipikir-pikir Jennie itu tidak salah, tidak seharusnya Farhan melampiaskan dendamnya pada Jennie. Gadis itu tidak tahu apa-apa, semua itu murni kesalahan orang tuanya.
"Mengapa kamu jadi ragu begini, Farhan? ini adalah rencana yang sangat bagus. Aku yakin ini akan berdampak baik untuk Reyno nantinya, benar katamu, calon pewaris keluarga Haris tidak boleh memiliki mental kerupuk seperti itu." Sorot mata Tuan haris menunjukan kata penolakan. Pria berumur empat puluh sembilan tahun itu sudah terlanjur jatuh cinta pada rencana yang Farhan berikan.
__ADS_1
"Tapi Tuan, saya merasa tidak tega pada Tuan muda dan istrinya, bagaimana kalau kita buat rencana lain. Yang tidak terlalu beresiko seperti ini."
"Tidak bisa, itu adalah rencana terbaik yang sudah kupikirkan matang-matang, aku tidak mau strategi lain. Keputusanku sudah bulat, besok kita akan mulai menjalankan rencana itu."
"Baiklah, Tuan." Farhan mendesah frustasi. Ia menyesal karena telah menyarankan rencana gila untuk Tuan Muda dan adik kandungnya sendiri.
Memang awalnya ia sangat ingit melihat adiknya tersiksa, namun ternya ia tidak sejahat pria di film Joker itu. Yang katanya orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Farhan terlalu baik untuk berubah menjadi orang jahat.
***
Jennie menyantap makan yang Reyno bawa dengan lahapnya di dalam kamar. Hukuman untuk gadis itu sudah usai, kini ia dapat memakan apapun yang ia mau di rumah ini. Sebenarnya peraturan di rumah ini tidak terlalu kejam, hanya siapa saja yang melakukan kesalahan wajib untuk di hukum. Berlaku untuk semuanya termasuk William, tapi tidak untuk Reyno, Pria itu terkecualikan, Mami Dina tidak akan menghukum Reyno apapun kesalahan yang ia buat.
"Makanya pelan-pelan, Jennie." Reyno mengelep sudut bibir Jennie dengan tissue. "Ngga akan ada yang ngerebut makanan kamu, kok. Jangan cepat-cepat makan-nya, kamu kayak ngga makan seharian aja." Reyno menasehati.
Memang aku ngga makan seharian, bodoh.
"Reyno jadi curiga, biasanya Jennie ngga begini kalo makan. Jennie ngga dikasih makan ya, sama para pelayan?" Jennie diam dan masih sibuk makan. Perutnya yang lapar membuat otaknya tidak dapat berkonstentrasi menangkap pertanyaan Reyno. "Jadi benar kalau Jennie ngga makan seharian?" Kesal karena pertanyaaan diabaikan.
"Ya, apa? Maaf, aku ngga dengar tadi." Menghentikan kegiatan makan-nya sejenak.
"Kamu ngga di kasih makan seharian? Di dapur kan banyak makanan." Si Peka mulai curiga.
Duh, jangan sampai Reyno tahu kalau aku ngga di kasih makan seharian ini. Aku ngga boleh sampai kelihatan menderita di depan suamiku, Eh suamiku ... hahahaha, lucu juga.
__ADS_1
"Makan, kok."
"Bohong! Reyno ngga percaya, Jennie kelihatan banget kayak orang kelaparan gitu, jujur saja."
Memangnya kelihatan banget, apa?
Ngga enak juga ya, punya suami terlalu peka begini.
Dengan berat hati, akhirnya Jennie menghentikan kegiatan makanya. Gadis itu tidak mau Reyno tambah curiga. Reyno pasti akan marah dan mengadu kemana-mana kalau sampai tahu Jennie tidak di beri makan seharian. Satu hal yang Jennie harus ingat, cowok itu memiliki hati yang lembut seperti sutra, kata Maminya. Jadi harus bisa tahan dan tutup mulut atau penderitaan Jennie akan di tambah semakin parah.
"Aku udah kenyang kok, tadi cuma pengin makan cepat biar bisa langsung bobo." Memandangi makananya yang belum puas di makanya.
Makanankuuuu ... hikss ... hiks.
"Beneran kamu ngga bohong? pokonya kalau sampai Mami meberikan hukuman yang berlebihan, Reyno akan aduin ke Papi, biar bulanan Mami di kurangin." Kesal.
O ... oh. Jadi ini sebabnya ngga boleh ada yang tahu kalau Mami Dina hukum aku sampai gak boleh makan, ternyata itu hukuman sepihak dari Mami Dina, bukan hukuman yang sudah di tentukan di dalam peraturan rumah ini.
"Ngga, kok. Aku ngga bohong." Tersenyum dengan hati yang berat. Betapa sulitnya hidup di rumah mertua, ngadu sama suami di bilang manja. Diam saja hati tertekan. Semuanya jadi serba salah begini. Ada yang pernah mengalami hidup seperti Jennie tidak, sih?
Benar kata orang, ibu mertua tidak sebaik ibu kandung sendiri. Bagaimanapun juga menerima orang baru di rumahnya pasti sulit. Apa lagi harus menghadapi perbedaan kasta. Kuat-kuatlah seorang Jennie, semoga penderitaanya segera cepat berakhir.
"Ya udah, ayo kita ke tempat tidur, tapi jangan langsung bobo, kamu habis makan," tutur Reyno menasihati.
__ADS_1
Mau ngapain dong, kalau ngga boleh langsung bobo. Mau itu-itu, ya?
Hahaha ... Apaan, sih otak aku jadi ngeres begini.