
Jennie dan Reyno adalah dua mahluk yang hidupnya tidak pernah susah. Wajar jika mereka terkejut dan merasa hidupnya bagaikan jatuh dari atas langit ke dasar bumi. Meskipun tidak sekaya Reyno, hidup Jennie juga terbilang cukup mewah, masuk dalam kalangan menengah ke atas. Ayah Jennie juga memiliki bisnis kecil-kecilan, walau hanya perusahaan kecil remahan yang jauh di bawah perusahan milik Papi Reyno.
Hari ini Ayah dan Bunda Jennie mendatangi kantor pusat Revikal grup, bermaksud ingin menemui Tuan Haris di sana. Mereka berdua sangat khawatir karena Jennie mendadak lost kontak dan tidak dapat di hubungi. Bagaimanapun juga Jennie pernah bercerita bahwa ia tidak betah tinggal di rumah mertuanya. Seminggu lebih Bunda terus menangis karena tidak dapat mendengar suara anaknya. Padahal biasanya Jennie selalu menelpon Bunda setiap hari. Tuan Haris telah menyuruh orang untuk meretas semua alat komunikasi di rumah Jennie, sehingga gadis itu tidak dapat menghubungi orangtuanya.
Namun tidak semudah yang dibayangkan, walaupun mereka saling berbesanan, menemui Tuan Haris sangatlah susah. Apa lagi beliau sedang tidak ada di kota sekarang ini. Kedua orang tua Jennie tertahan di ruang tunggu, sulit sekali menemui besan kayanya itu. Bahkan mereka malah di usir oleh nona Katy, asisten perempuan Farhan.
"Selamat pagi Tuan," Katy menundukan kepalanya. "Orangtua Nona Jennie tidak mau pergi sebelum ada penjelasan dari keluarga pihak laki-laki, saya sudah mengusirnya beberapa kali, namun mereka akan tetap kekeh menunggu sampai adanya penjelasan. Tuan Hermawan mengamuk dan mengancam akan membawa hal ini ke jalur hukum. Sebagai tuduhan kasus penculikan."
Segitu khawatirnya mereka pada anak perempuannya. Apa tidak menyesal karena telah membuangku.
"Huuuuuh. Merepotkan saja." Farhan menghela berat. Demi apapun pekerjaan Farhan sangat padat hari ini. Merangkap pekerjaan Tuan Haris yang sedang pergi keluar kota. Sebenarnya ia tidak ingin di ganggu sama sekali, tapi hati kecilnya ingin menemui kedua orangtua kandung yang jahat itu.
"Apa perlu saya menggunakan cara lain?" tanya Katy sopan.
"Tidak perlu!"
Katy menyerngitkan dahinya. Tidak biasanya Farhan bermurah hati seperti itu. Seharusnya ia sudah membuat porak poranda perusahaan kecil orangtua Jennie. Itu adalah balasan yang setimpal dari pria kejam bernama Farhan.
"Bawa mereka kemari."
Apa tadi dia bilang! Bawa kemari?
"Maaf Tuan. Saya kurang jelas mendengarnya." Meminta ulangan kata dari Farhan. Takut-takut ia salah mendengar. Barang kali saja telinga Katy yang sedang bermasalah.
"Bawa mereka kemari!" Teriak Farhan sambil membanting dokumen yang ada ditanganya ke atas meja. Wajahnya murka.
__ADS_1
Biasanya pria itu hanya mau bersikap baik pada keluarga besar Tuan Haris. Orang-orang baik yang selalu memberinya kehangatan, mengajari rasa seperti apa memiliki sebuah keluarga. Hidup Farhan sepenuhnya mengabdi pada Tuan Haris beserta kelurganya. Namun terhadap orang lain ia selalu bertindak kejam. Apa lagi kalau orang itu melakukan kesalahan, Farhan tidak peduli sekecil apapun kesalahannya. Harus di balas dengan perbuatan yang setimpal.
"Maaf Tuan, akan segera saya lakukan." Katy langsung membalikan badannya. Melangkah keluar secepat mungkin.
Sial. Pagi-pagi sudah kena bentak. Lagian itu bukan salahku. Kamu sendiri yang bersikap aneh hari ini. Dasar Tuan kejam, kalau tidak butuh uang aku ngga akan mau jadi asistenmu.
***
Kembali lagi ke kota Bandung. Melihat sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta, sekaligus merasakan susahnya menjalin rumah tangga. Sekali lagi uang adalah penyebab besarnya. Kira-kira hari ini masih bisa makan tidak ya?
"Reynnnnn!" Jennie teriak dari dalam kamar mandi. Cowok itu langsung melompat dari pembaringan. Berlari dengan khawatir menuju kamar mandi.
"Kenapa ... Kenapa?" Reyno sudah mendorong pintu kamar mandi. Hendak menerobos masuk ke dalam.
"Jangan masuk!" Jennie menahan pintu kamar mandi. Setelah itu, Jennie langsung melilitkan handuk dan membuka pintunya. "Aku haid," adunya sambil melongokkan kepala. Ia tidak keluar, hanya kepalanya saja yang kelihatan.
"Tentu saja ada masalah, Reyn. Aku butuh pembalut sekarang juga." Wajahnya mulai meratap sedih. Ahh, bagaimana Reyno bisa lupa kalau haid perlu memakai pembalut. Masalah baru datang lagi, ini lebih parah dari kelaparan. Haid tidak mungkin di bisa ditahan.
"Kita tidak punya uang sama sekali kan?" Kalimat kedua yang dilontarkan Jennie sukses membuat Reyno semakin sedih.
Sepertinya aku layak di nobatkan menjadi pria payah sedunia.
"Kamu tunggu di kamar mandi dulu!" Reyno menyambar dompet yang ia taruh di atas meja. "Mau kemana?" Jennie bertanya. Karena ia tahu di dalam dompet Reyno tidak ada uang sama sekali. Ada banyak kartu atm, yang pastinya sudah di blokir.
"Aku mau beli pembalut untuk kamu." Reyno sudah sampai di ambang pintu. Jarak kamar mandi ke pintu keluar hanya empat lima meter.
__ADS_1
"Kita ngga punya uang!" tegas Jennie mengingatkan jika Reyno lupa.
"Tidak apa-apa. Aku akan menggunakan KTPku sebagai jaminannya. Semoga saja pemilik warung berbaik hati, sekalian menghutang bahan makanan untuk kita makan nanti."
"Tapi Reyn—." Pintu sudah tertutup sebelum Jennie melanjutkan bicaranya. Reyno segera berjalan agak cepat. Sambil berdoa di setiap langkah kakinya.
Ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini. Bukan membeli pembalut, tapi ngutang pembalut.
Aku tidak malu melakukan hal ini untuk Jennie. Namun aku takut jika pemilik warung tidak mau memberikannya. Bagaimana ini?
Air mata itu jatuh bersamaan dengan langkah kaki yang semakin cepat. Sepanjang jalan ia terus meratapi ketidakberdayaanya. Hingga tidak sadar Reyno telah sampai di depan sebuah warung sederhana. Ia menatap warung itu dari jarak tiga meter. Ada keraguan bercampur dengan tindakan nekat.
"Arek meser naon, Ujang?" sapa perempuan berumur kisaran tiga puluh tahunan. Reyno melangkahkan kakinya untuk mendekat.
Anak itu masih diam membisu dengan sejuta pikirannya. Bagaimana caranya mengatakanya? Ia tidak pernah melakukan hal itu. Takutnya malah si pemilik warung tidak percaya. Reyno masih delapan belas tahun. Masih masuk kategori anak-anak untuk melakukan hal ekstrim seperti ini. Ngutang pembalut untuk sang Istri.
Ah, suatu adegan yang tidak pernah ia temui di manapun, mungkin dia akan menjadi pria pertama yang melakukan hal semacam ini. Kesampingkan dulu egomu Reyno, istrimu mungkin sedang menunggu dengan harapan terbaiknya. Jangan sampai mengecewakan, kamu harus mendapatkan benda itu bagaimanapun caranya.
"Sa .. Sa ... Saya butuh pembalut." Reyno terbata saat mengatakannya. Sekali lagi bukan karena malu, melainkan takut si pemilik warung akan memarahinya. "Maksud saya pembalutnya untuk istri saya."
"Oh ... Mau yang sayap atau yang biasa?" Si Pemilik warung bertanya dengan ramah. Seperti terkagum melihat suami muda yang hebat itu. Jarang ada laki-laki yang mau membeli pembalut. Kalaupun ada hanya satu atau dua. "Aa ... mau yang mana?" Menyadarkan Reyno yang masih tampak melamun.
Bagaimana ini? Aku tidak memiliki uang.
***
__ADS_1
Kalo Reyno dan Jennie nangis itu wajar banget ya. Namanya juga anak kecil, sma belum lulus.