
Satu tahun berlalu.
"Aku mau cerai!"
Begitu mudahnya kalimat itu terucap dari bibir manis Tere. Sosok istri yang menikah dengan William 5 tahun lalu.
"Cerai?" Menyerngit tak percaya. William memasang wajah emosi, lantas duduk di samping istrinya yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur.
"Jangan bercanda, Re? Apa kau tidak kasihan pada Gibran? Cukup dua keponakanku yang ditinggal pergi orang tuanya. Aku tidak ingin Gibran merasakan hal yang sama. Tolong pikirkan baik-baik. Pernikahan kita tidak sebentar, Re. lima tahun bukanlah waktu yang lama." William memandang lekat wajah sang istri. Perasaannya campur aduk setelah mendengar ucapan Tere.
"Tapi aku tidak mencintaimu, William. Selama lima tahun aku berusaha keras mencintaimu. Nyatanya ... semua perasaan itu perlahan sirna. Aku hanya dapat mencintaimu selama tiga tahun." Selanjutnya wanita itu berpaling karena berhasil mendapatkan kabar tentang mantannya—Rian.
Tidak mau kalah, Tere membalas tatapan William lebih dekat. Hening sesaat, keduanya saling mengunci pandangan satu-sama lain.
Benar yang dikatakan orang-orang. Hubungan pernikahan yang di awali dengan perjodohan tidak selayaknya film dan novel yang selalu berakhir dengan bahagia. Begitulah yang Tere rasakan saat dijodohkan dengan William tujuh tahun lalu.
Mereka berdua tidak dapat menghindari perjodohan karena kehadiran Gibran. Bisa dibilang, anak itulah yang membuat Tere terpaksa harus menikah dengan William.
Sebuah adegan celup-mencelup yang tak sengaja mereka lakukan dalam keadaan mabuk, telah berhasil menghadirkan sebuah nyawa di dalam rahim milik Tere. Rian yang tak lain adalah pacar Tere saat itu, adalah orang yang mempersatukan hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Re," William mencoba menyentuh lengan istrinya. Buru-buru Tere menepis tangan itu dengan mimik wajah jijik.
"Jangan sentuh aku!" serunya dengan bola mata yang melotot sempurna.
Sudah satu tahun lebih William dan Tere tidak melakukan hubungan badan. Meskipun mereka selalu tidur di kamar yang sama, namun kedua hanya sekedar tidur tanpa ada adegan romantis di atas ranjang seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri lainnya. Setan yang dulu pernah merasuki keduanya sudah tidak sudi mengganggu. Mereka hanya mau membisikan kejahatan pada pasangan yang belum halal.
"Aku suamimu, Re! Aku berhak menyentuhmu kapanpun aku mau," bantah William tidak suka.
Miris. Siapapun yang tidak tahu akan menganggap bahwa hubungan mereka baik-baik saja selama ini. Nyatanya, status mereka tak ubah hanya sebuah pernikahan di atas kertas. Jauh dari hubungan pernikahan selayaknya manusia normal.
"Maafkan aku jika selama ini kurang menjaga keharmonisan rumah tangga kita. Tapi izinkan aku untuk memperbaiki diri," ucap William yang mencoba mengalah. Padahal, Terelah yang selama ini menjauh dari William. Selain meminta jatah bulanan, Tere tidak suka berkomunikasi dari hati ke hati dengan suaminya.
"Tidak, Will. Semua ini bukan salahmu. Akulah yang salah. Mari kita akhiri hubungan kita dengan baik-baik. Aku sungguh tidak ingin menunda semua ini." Tere menunduk dalam keyakinan. Menggores luka sayatan pada sisi hati William saat ini.
"Tidak!" Tere menjawab dengan lantang. "Aku ingin kembali bersama Rian. Gara-gara aku menikah denganmu, Rian depresi dan nyaris kehilangan nyawanya. Andai aku tahu saat itu Rian begitu terluka, aku tidak akan mau menerima sarannya untuk menikah denganmu."
Ah, lagi-lagi kehadiran mantan. Sosok paling berpengaruh yang dapat menghancurkan hubungan William dan Tere.
Menggusar rambutnya kebelakang, William masih terus berusaha meyakinkan istrinya dengan sejuta bujuk rayu.
"Kau tidak memikirkan perasaan Gibran? Apa hanya ada namacmantan di relung hatimu? Bagaimana dengan anak kandungmu? Gibran adalah darah dagingmu, Re!" Sambil menggenggam tangan Tere lembut.
__ADS_1
"Aku sayang Gibran. Tapi aku ingin kembali bersama Rian. Pria itu membutuhkanku, dia trauma berat karena penghianatan yang aku lakukan padanya kala itu, Will," isak Tere dengan derai air mata yang mulai terjun melewati pipi.
"Apa sudah tidak ada rasa cinta darimu untukku?"
Tere menggeleng penuh keyakinan. Di mana William melepas senyum getir dengan wajah terpaksa.
"Baiklah. Mari kita bercerai, tapi sebelum itu, aku akan mengajukan sebuah syarat."
"Apa syaratnya? Apapun itu, aku akan lakukan asal kau setuju mengakhiri hubungan kita," balas Tere tampak antusias.
Ck. William menahan gejolak amara di dalam hati. Bahkan wanita itu rela melakukan apapun demi sebuah perpisahan.
"Syaratnya mudah, aku ingin selama satu bulan ini kau bersikap sebagai seorang istri yang normal seperti lainnya. Mengurus Gibran penuh kasih sayang. Dan—" William sengaja menjeda ucapannya.
"Layani aku setiap malam."
***
Sepotong dulu... ini spoilernya. Kalian mau baca gak? sekuel William dan Tere? Hubungan mereka gak kalah kocak kok. William masih satu darah ama Reyno, loh. Kalo gak mau aku lempar ke platform lain ya... Atau aku bikinin novel versi barunya.
Jangan lupa mampir di novel baruku tentang kehidupan Cilla dan Cello.
__ADS_1
judulnya: HELLO, MY BOSS!