Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
William dan Tere


__ADS_3

Pagi yang cerah, terdengar cuitan ibu-ibu yang sedang mengobrol di luar rumah kontrakan Reyno dan Jennie. mungkin sedang bergosip sambil menunggu pedagang sayur yang lewat. Sekarang Jennie dan Reyno sudah banyak berubah, loh. Sudah mendekati seperti pasangan suami istri lainnya. Banyak melakukan hal-hal sederhana yang romantis, seperti pelukan, ciuman selamat tidur, atau morning kiss dan sebagainya. pokoknya mereka bisa di katakan kategori pasangan muda yang sangat bahagia. Walau hampir setiap hari berantem, poin utamanya adalah mengerti satu sama lagi. Contohnya seperti pagi ini.


Jennie meraba-raba kasur di sebelahnya, mencari-cari sosok tubuh besar yang biasa tidur di sampingnya. Tidak ada. Gawat. Jangan-jangan cowok itu kabur. Gadis itu segera beranjak, berlari keluar kamar dengan perasaan was-was.


“Reyn ... Reyno!” Dag-dig-dug jantungnya.


“Iya.” Reyno menjawab dari arah dapur.


Jennie langsung menghembuskan nafas lega begitu mendengar suara Reyno, buru-buru ia menghampiri suaminya yang entah sedang apa.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Jennie, matanya melongok ke arah teflon yang sedang di pegang Reyno. “ Wangi banget, itu apaan?”


“Pen cake.” Membalik dengan sepatula. “Kan ini tugas dari kamu, katanya aku suruh masak.”


“Oke, lanjutin.” Jennie tersenyum. “Kalau gitu aku mandi dulu,” ucap Jennie sambil melangkah ke kamar mandi.


Semalam saat mereka berdua pulang dari alun-alun, Jennie sempat mengajak Reyno untuk mampir di supermarket, membeli beberapa bahan makanan yang tidak mudah busuk, seperti telur, tepung, mentega, mie instan, bubur instan dan berbagai camilan lainya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Jennie sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Reyno juga sudah selesa membuat pan cakenya, ia duduk di depan meja makan sambil menunggu Jennie. Meja yang hanya berisi dua kursi, yang sekaligus dijadikan meja tamu. Karena ruangan tidak terlalu besar.


“Makasih ya, Reyn.” Jennie duduk dengan handuk yang masih membungkus rambut basahnya. “ Hmmm ... kayaknya enak.” Menatap pan cake yang ada di depanya. Tidak sia-sia ia menghabiskan uangnya untuk belanja semalam, karena ada makanan enak yang tersaji di atas meja.


“Iya. Di makan gih, ini kan pertama kalinya Reyno masakin sarapan untuk Jennie. Ayo di coba.”


Jennie segera memotong pane cakenya dengan sendok. Kelembutan pan cake itu langsung terasa saat giginya mulai mengunyah. Manis coklat bercampur strawberry, membuat perpaduan nikmat di mulut Jennie. Ini adalah sarapan terenak yang pernah ada. Bagi gadis tomboy seperti Jennie, memiliki suami yang pintar masak adalah anugrah terindah yang pernah ada.


“Enak?” tanya Reyno sambil memperhatikan ekspresi wajah Jennie. Ia juga ikut makan, hanya saja Reyno ingin mendengar pendapat dari Jennie langsung. Secara Jennie istrinya kan.


“Enak banget, sumpah ini makanan ter—enak yang pernah aku makan.” Memang benar, karena bundanya kurang pintar memasak. Dalam arti Jennie tidak pernah sarapan yang aneh-aneh selama ini. Mentok bunda hanya memasak nasi goreng atau nasi uduk di pagi hari. Mana pernah bunda bunda membuat pen cake yang enak seperti ini.

__ADS_1


“Dasar lebay, itu hanya pane cake.”


“Tapi ini enak banget, mungkin karena yang masak suami sendiri kali, ya?” Memuji Reyno juga merupakan hal yang sangat penting. Tujuanya agar cowok itu tidak ngambek dan semakin rajin masak. Hehehe.


“Bisa aja kamu. Hari ini Jennie ada rencana apa?”


“Mau balapan, cari uang, uang kita sudah hampir habis.”


“Reyno mau ikut boleh gak?”


Jennie tampak berfikir sejenak, ada sedikit keraguan di hatinya. Takut-takut Reyno akan menyusahkan di sana, tapi kalau ditinggal kasian. Baiklah.


“Iya, boleh kok.”


Karena kamu sudah bikin cacing-cacing di perut aku bahagia, aku bolehin kamu ikut.


***


William sedang di pusingkan dengan beberapa proyek barunya di Amerika. Sekitar setengah tahun ini perusahaanya mulai menjalin kerja sama dengan perusahaan sahabat papinya di Amerika, sehingga William harus ikut turun tangan mengurus kerja sama barunya. Bahkan ia tidak pernah memikirkan Jennie saking sibuknya.


“Apa yang kamu lakuin di sini?” William melotot tajam. Menatap sinis seorang gadis yang berdiri di hadapanya.


“Nemuin kamu lah, aku datang jauh-jauh dari Indonesia, loh.” Perkenalkan. Gadis yang sedang berdiri di hadapan William adalah Tere, Bebi Tere nama lengkapnya, anak dari sahabat papinya sendiri. Gadis yang di tunangkan dengan William setengah tahun yang lalu, alias mahluk yang membuat hubunganya dengan Jennie kandas di tengah jalan.


“Aku lagi sibuk, tolong jangan mengganggu.” Pura-pura melihat bebrapa dokumen di meja kerjanya.


“Aku kesini karena di suruh Papah, mau tahu menantunya benar-benar kerja atau hanya sekedar main di luar negri,” balasnya enteng.


“Siapa yang mau menikah dengan wanita gila sepertimu, hah?” Mulai emosi.

__ADS_1


“Aku hamil!”


William menohok. Jangan gila. Ini tidak mungkin, Mereka hanya melakukanya sekali. Itupun tidak sengaja. Si gadis gila itu bereksperimen, memasukan obat perangsang yang di minuman William kala itu. Ceritanya sangat gila kalau diingat-ingat. Intinya William adalah korban.


“Tolong jangan membuat lelucon gila!”


“Aku memang hamil,” cetusnya.


“Kita tidak saling mencintai, kamu juga sudah memiliki kekasih.”


“Tapi aku hamil, mana mungkin kekasihku mau tanggung jawab, apa lagi ini bukan anak kandungnya.”


Tere menghampiri William, duduk di atas meja kerjanya sambil berfikir. Memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah gila ini.


“Jadi kamu beneran hamil?” Cengo. “Itu benar anakku?” Melirik perut Tere yang masih terlihat datar. Antara percaya dan tidak percaya.


Mulai masuk pada inti cerita. Malam itu Tere berniat menyerahkan kesucianya pada lelaki yang paling ia cintai, namun karena mabuk, gadis itu salah sasaran dan menghubungi nomor William berkali-kali. Singkatnya William datang ke hotel tempat Tere menunggu kekasih yang sebenarnya. Di lihatnya Tere sudah dalam ke adaan mabuk dan kacau balau. Ia berteriak dan memaki, menyumpah serapah papahnya yang tidak berperikemanusiaan. Karena telah menjodohkan anak satu-satunya demi keuntungan bisnis. Gila.


Tere memberikan segelas air putih pada William, air yang sudah dimasukan tiga butir pil perangsang di dalamnya. Karena gadis itu menangis dan memaksa, akhirnya William meminumnya. Toh gadis itu mengira bahwa William adalah kekasihnya. Bahkan Tere mencium William beberapa kali, sambil menyebut nama lelaki sialan itu. Karena efek obat itu sangat kuat, maka terjadilah hal yang tidak pernah diinginkan, mereka berdua melakukan perbuatan terlarang di malam itu, dan terbangun dengan keadaan terkejut di pagi hari. Akhirnya kedua mahluk itu memutuskan untuk menutup kasus ini rapat-rapat. Menganggap bahwa itu adalah kecelakaan yang tidak di sengaja. Sampai akhirnya mereka bertemu lagi sekarang. Bersamaan dengan kabar buruk yang di bawa Tere.


“Ini anakmu bodoh!” Tere menelepak kepala William saking kesalnya.


“Jangan digugurkan, bercintalah dengan kekasihmu, lalu bilang kalau kamu hamil anaknya, mudahkan?” William menyeringai bodoh, membuat Tere semakin kesal jadinya.


“Pacarku bukan lelaki seperti itu.”


“Kasih dia obat perangsang seperti waktu itu.” William memberi saran.


“Tidak mungkin, lagian dia itu seorang dokter, pasti dia tahu kalau aku berbohong. Aku mau mengugurkan anak ini, dan aku butuh bantuan kamu.”

__ADS_1


William diam sejenak, entah apa yang sedang di pikirkanya. Intinya pria itu masih tidak percaya pada kenyataan gila yang ia dengar barusan. Hamil. William punya anak. Itu gila. Tidak mungkin.


***


__ADS_2