Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 63


__ADS_3

Alex tidak pernah menyangka bahwa merawat anak manusia tak semudah mengurus benih kecebong agar menjadi anak kodok. Nyatanya selepas kepergian Reyno, kedua anak kembar itu bangun secara bersamaan.


"Huaaaaaaa .... Papa ... papa ... papa ..." Cilla menangis histeris, diikuti oleh Cello yang mengamuk dan memukul-mukul wajah Alex.


"Om mana papa? Ello mau papa ... mau papa ..." Apartemen Alex gemuruh riuh penuh dengan tangisan anak-anak Reyno.


"Aku mau mati aja!"


Pria itu mengguyar rambutnya ke belakang. Sungguh, menghentikan tangisan anak kecil tidak semudah merayu pacarnya dengan kulit KFC. Alex benar-benar ingin loncat dari jendela kalau begini caranya.


Entah kemana perginya Cilla yang centil dan Cello yang pemberani. Di saat papanya pergi, kedua bocah itu menangis histeris seperti di tinggalmati.


"Hiks ... hiks ...." tangis Cilla mulai menurun. Menyisakan sesenggukan dan wajah yang merah basah.


Sementara Cello masih terus mengamuk, mengacak barang-barang dan menggedor pintu rumah Alex dari dalam.


"Tolong ... Ello diculik... mau kuwar ... mau kuwar!" teriak bocah kecil itu seenak jidatnya. Alex langsung menggendong Cello dan membekap sedikit mulutnya. Secara bergantian, ia menaruh dua bocah itu di kamar pribadinya yang kedap suara. Lalu mengunci pintu itu dari luar.


"Apa kubilang? Dua monster itu sangat berbahaya. Aku nyaris dibawa ke kantor polisi kalau tidak sigap." Alex menyandarkan tubuhnya di pintu. Masih terdengar tangis mereka dari dalam, namun sudah sedikit reda.


Setelah setengah jam berlalu, Alex akhirnya mengumpulkan keberanian untuk melihat dua bocah lucu yang dianggap monster olehnya.


"Astaga!" Alex langsung berlari menghampiri mereka. Kedua bocah itu sedang gemetar takut dan saling berpelukan di pojokan. Terihat miris menyayat hati.


Ah, bodoh! Alex mengumpat, meninju udara dengan rahang mengeras emosi. Bagaimana bisa ia berpikiran mengunci anak kecil di ruangan asing tanpa pengawasan? Tapi sungguh, tangis mereka yang menyakiti gendang telinga tidak bisa membuat Alex berpikir jernih.


Pria itu tersenyum hangat, lantas berlutut mensejajarkan posisinya agar sama dengan mereka.


"Cilla, Cello, jangan nangis lagi ya, papa dan mama pasti akan datang jemput kalian. Untuk sementara, kalian sama om Alex ya, om gak jahat kok, asal kalian jangan menangis." Alex merayu dengan gayanya yang paling amatiran.


Kedua bocah itu masih menangis sesenggukan. Membuat hati Alex mendadak sakit ketika melihat tubuh ketakutan mereka yang terus bergetar.


"Sini om peluk," rayunya sekali lagi.


Setelah saling pandang dan yakin satu sama lain, kedua bocah kecil itu berjalan ke arah Alex. Lalu menghamburkan tubuhnya ke dalam badan besar Alex. Tangis mereka kembali pecah, di mana Alex tidak tahu kenapa mereka menangis lagi.


"Ssstt ... jangan nangis ya, papa sedang sibuk. Nanti pasti jemput kalian," ujarnya bohong. Entah apa yang sedang terjadi dengan Reyno saja Alex tak tahu.


Perlahan tangis mereda, menyisakan baju Alex yang basah karena air mata kedua bocah itu. Alex mencium kedua pucuk rambut si kembar, lalu mendekapnya lebih erat lagi. Hangat, Alex merasa bahagia ketika dua monster kecil itu anteng tanpa berpolah.


"Sekarang kita tidur ya," ajak Alex sambil menggendong kedua bocah itu hati-hati. Ia meletakkan Cilla dan Cello di atas kasur, lalu menyelimuti tubuh mereka hingga sebatas dada. "Selamat tidur cantik dan gantengnya, om."


Cih! Alex geli sendiri mendengar suaranya. Pria itu berbalik badan, lalu melangkah keluar dari kamarnya. Saat ia baru saja memutar handle pintu, Cilla berseru,


"Oppa mau mana?"

__ADS_1


Mendengkus kesal, Alex mengepalkan tangannya sambil tersenyum. "Mau bobo di luar, kalau kalian bobo di sini ya."


"Cilla gak bisa bobo ... halus dengel celita dulu."


Astaga! Alex benar-benar mendapat siksaan maut sebelum mati. Bagaimana bisa ia bercerita untuk anak kecil? Sedangkan ia saja anak tunggal yang tak pernah menyentuh anak-anak. Juga tidak pernah diperlakukan normal karena orang tua sibuk bekerja.


"Baiklah, sini om dongengin." Pada akhirnya Alex mengalah, naik ke atas ranjang dan mulai membaca cerita yang ia dapat dari hasil mencari di media sosial yang situsnya sering ia kunjungi. Kedua mata anak polos itu mulai terpejam, bersiap untuk mendengarkan.


"Gadis kecil bernama Rara, berjalan dengan langkah tergesa-gesa di tengah gelapnya lorong rumah sakit. Ia terisak seraya memanggil nama ibunya. Lorong itu begitu gelap, tidak ada hawa manusia seperti tidak ada kehidupan. Di mana Rara berada?


Sekelebat bayangan hitam mulai muncul bersamaan dengan bau anyir yang menusuk hidung. Ia tahu—"


"Huaaaa ..." Tiba-tiba Cilla menjerit. Alex yang ada ditengah terlonjak kaget dan hampir menindih Ello.


"Kenapa lagi?" tanya Alex frustasi.


"Cilla tatut, celitanya celem ... gak mau yang itu," rengeknya sambil menangis.


"Emang biasanya cerita apa? Om Alex mana tahu Cilla sukanya apa. Itu ceritanya bagus kok, best seller banget." Karena Alex sendiri juga sering baca.


"Gak mau ichu, maunya kancing ama buaya."


"Huhh." Alex mendesah dan mendengus merasakan sensasi mati yang tak kunjung usai."  Om pangku saja ya sampai bobo, terus dengerin musik tidur. Om gak kenal buaya sama kancil."


"Iya udah deh, tapi entang om halus kenalan. Bial bisa celitain ke Cilla."


"Fiuh!" Baru pertama kali ini Alex terus bersyukur sebanyak-banyaknya.


Ia mulai menimang Cilla seperi bayi, mendekap dan mengelus rambut anak itu dalam pangkuangnya. Sementara Cello, anak itu masih gulang-guling gelisah di atas kasur sembari memainkan tamagoci milik Alex.


Perlahan, gadis kecil itu mulai tertidur. Terdengar nafas halusnya yang mulai teratur. Pelan, Alex membaringkan gadis kecil itu di sampingnya. Memberi skat bantal agar tidak terjatuh.


Kali ini ia beralih pada Cello. Si bandel yang sudah mengantuk tapi tak kunjung tidur. Dengan gerakkan lembut yang sudah diatur agar mirip ibu-ibu, Alex mengangkat tubuh kecil itu. Lantas mulai memangku Cello seperti yang Alex lakukan pada adiknya.


"Ello gak bisa bobo kayak begini," rengeknya seraya menangis.


Alex kembali mengatur nafas berat. Satu langkah lagi, ia akan terbebas setelah ia berhasil menidurkan Cello. Harus lebih sabar, begitulah ia menyemangati jiwa yang sedang dilanda frustasi.


"Terus Ello mau gimana? Harus ngapain biar bisa bobo?"


"Halus pegang nyenye dulu baru bisa bobo."


Astaga! Alex terlonjak kaget untuk kesekian kalinya. Bagaimana bisa anak seumuran tiga tahun sudah mahir berbuat mesum.


"Nyenye yang di sini?" Ia menunjuk dada kecil Cello untuk mengkonfirmasi benar tidaknya benda yang dibutuhkan anak itu sesuai dengan isi pemikiran Alex.

__ADS_1


"Iya. yang di sini." Cello menunjuk dada mungilnya. "Tapi Ello sukanya yang besar. Kalo ini kecil."


Shiit! Rasanya Alex ingin menjerit dan lompat dari jendela sekarang juga. Pria dewasa yang sudah memiliki hastrat seepertinya saja tidak pernah memilik dada besar atau kecil. Ia menerima sang kekasih apa adanya.


Bagaimana bisa anak tiga tahun lewat ini mau yang besar? Apa sebenarnya isi otak anak kecil ini? Alex nyari gila mendengar ucapannya.


"Di sini gak ada yang begitu, Ello langsung bobo ya."


"Hiks...." Mendengar ucapan Alex, membuat lelehan bening keluar dari pelupuk mata bocap polos itu. Wajahnya yang tak berdosa mengundang iba dan mengiris luka di hati Alex. Anak kecil itu menatapnya tanpa berkedip, masih dengan linangan air mata yang tak kunjung berhenti.



"Cup ... cup ... bobo ya, Sayang."


"Gak bisa, Om," bantah anak itu.


"Terus Om harus gimana? Om Alex juga capek, mau bobo," ucapnya dengan harapan penuh agar anak itu mau mengerti.


"Kalau gak ada mama Panda, punya om Al aja gak papa, deh." Tanpa permisi. Cello menyingkap kaos putih polos milik Alex. Menaruh tangan kurang ajarnya di atas benda mungil berwarna coklat itu.


"Huaaa ... ha!" Alex menjerit sekuat tenaga. Menggeliat geli saat tangan mungil Cello menyentuh dua choco chips yang ada di dadanya.


"Please ... ampun!" teriak Alex kegelian.


"Om, nanti adek Ello bangun." Ucapan itu terdengar seperti kejahatan di telinga Alex.


"Geli, Sayang. Tolong jangan begini."


"Ello mau bobo, Om. Harus begini," bantah anak itu, tidak mau melepas tangannya dan terus menggerayangi Alex dengan mata sayu setengah ngantuk.


Alex terus menjerit. Hampir menangis karena pengalaman pertamanya di rebut oleh anak kecil usia tiga tahun lebih.


Sungguh, ia memang ingin sekali diperlakukan seperti ini, tapi oleh wanita cantik dan seksi, bukan anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki.


"Om mau mut-mut, ya."


"Jangan!" teriak Alex histeris. Namun sejurus kemudian bibir mungil itu sudah menempel pada choco chipsnya. Hangat, basah, lembut dan menimbulkan efek geli. Jauh sekali dari kata terangsang.


Ini Gila!


Alex langsung mengambil bantal dan menggigitnya sekuat tenaga. Menangisi perjakanya yang hilang karena diambil anak kecil.


Sumpah, rasanya tidak seindah membayangkan bibir wanita cantik walau sama-sama disentuh bibir.


Jika ada sianida, Alex ingin mencampur dengan 3 sendok kopi, lalu meminumnya sekarang juga.

__ADS_1


Berhadapan dengan anak Reyno juga sama halnya dengan menghadapi malaikan maut. Bisa-bisa ia trauma dengan anak kecil seumur hidup.


***


__ADS_2