
Setelah menidurkan anak-anak Jennie kembali ke dalam kamarnya. Sejenak ia berdiri menyandar pada bingkai pintu, pandangannya tertuju pada sang suami. Pria itu sedang meringkuk di bawah selimut sambil memeluk bonekanya. Ada
sedikit rasa bersalah melihat keadaan Reyno. Andai tadi ia membawa Cello, Reyno tidak akan sampai seperti ini. Padahal jadwal kegiatan pria itu sangat padat setiap harinya. Pagi ke kampus dan siangnya harus ke bengkel pusat. Belum membantu Jennie dalam memanagemen pekerjaan rumah. Mengasuhg anak- anak setelah pulang kerja. Reyno benar- benar berjuang menjadi seorang suami sekaligus ayah
yang baik.
Jennie mendekat, duduk di pinggiran ranjang dan mengecek suhu badan Reyno menggunakan thermometer.
“Demam badan kamu udah mulai turun,
Reyn. Masih pusing gak?”
Reyno menghembuskan nafasnya pelan, mengangkat kepala dan menaruhnhya di pangkuan sang istri. Lengkung merah basah itu tertarik, membentuk sebuah senyum simpul yang menawan. Pria itu menatap wajah lelah Jennie, lalu merangkumnya dengan penuh cinta. Membelai setiap garis rahangnya menggunakan ibu jari. Lantas berkata,
“Maafkan aku ,ya. Selama ini aku kurang perhatian sama kamu. Dari kejadian ini aku semakin paham kalau mengurus anak bukanlah perkara mudah. Istriku ini pasti sangat tertekan. Diusia kamu yang masih muda, seharusnya kamu masih bersenang-senang seperti wanita lain pada umumnya, bukan malah terjebak bersamaku. Menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak. Aku yakin, selama
ini kamu pasti menemui banyak kesulitan tanpa sepengetahuan aku.”
Eh, pembahasan macam apa ini? Hati Jennie mendadak hangat mendengar ucapan Reyno yang penuh pengertian.
“Aku ngga keberatan kok, meskipuan Cilla dan Cello suka ngeselin, tapi mereka adalah semangat hidup aku. Justru aku yang salut sama kamu, bias kuliah, kerja, bahkan masih suka bantuin aku ngasuh anak-anak.” Setelah ini ada puluhan kecupan sayang di wajah Reyno.
“Sini naik, aku pengin ngobrol- ngobrol sambil meluk kamu.”
Reyno menggeser tubuhnya ke tengah, menepuk dada dan mengedipkan mata nakal.
Mendapat sinyal seperti itu, Jennie lantas merangkak naik. Menyibak selimut dan membenamkan kepalanya di dada bidang
milik sang suami.
__ADS_1
“Jarang-jarang ya, kita bias punya waktu buat ngobrol kayak gini. Biasanya, kalau kamu pulang seringnya aku udah tidur. Kalau aku bangun, kamunya yang masih tidur.”
Ada perasaan bahagia saat mengetakan hal itu, Jennie menciumi tangan Reyno beberapa kali.
“Hehehe. Aku kurang perhatian ya, sama kamu?” Tanya Reyno dengan senyum jenaka.
“Perhatian banget
kok, bahkan aku ngerasa beruntung banget punya suami semanis kamu. Meski
posesif, cemburuan, manja dan bikin aku ngerasa punya tiga anak, tapi kamu
banyak juga sisi baiknya. Terutama cinta kamu buat keluarga yang berliumpah
ruah.”
“Wah, aku terbang nih, kamu berlebihan. Aku ‘kan hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang suami.”
Pelukan mereka semakin erat. Ada hening beberapa detik seoalah keduanya sedang melepas rindu.
“Je,” panggil Reyno. “Hemm,” Jennie membalasnya dengan
dehaman.
“Cicilan rumah kita kan udah lunas, tanggungan mobil juga tinggal satu kali cicilan lagi. Gimana kalau kita bulan madu ke luar negeri. Tabungan kita sepertinya sudah lebih dari cukup,” ujar Reyno. “Tapi ngga usah bawa anak-anak, aku pengin berduaan sama kamu, dan nyenengin kamu sesekali.”
“Loh, Reyn? Kok gitu? Mana mungkin aku bias senang-senang tanpa anak-anak. Gak mau, uangnya di tabung lagi aja, itu hasil jirih payah kamu, Reyn.”
“Sekali ini aja, aku pengin nostalgia seperti dulu. Anggap aja pacaran untuk kedua kalinya.” Reyno mengiba seperti pria yang hendak melamar calon istrinya. Penuh harap.
__ADS_1
“Kamu apaan sih, Reyn….” Memukul dada suaminya gemas. “Terus anak-anak gimana? Mereka mana mau pisah sama aku.”
“Gampang. Anak-anak kita juga ikut liburan, tapi sama neneknya. Mereka pasti senang kalau liburan bareng Mami. Setelah mereka
berangkat, baru kita cus bulan madu. Ayolah. Mau ya, please, aku pengin banget ngerasain privacy kita berdua kayak sebelum punya anak-anak. Seminggu juga
cukup, kok.”
Jennie Nampak berpikir sambil memainkan jari- jarinya di dada milik Ryno. “Emm, gimana ya?”
“Please,” rengek Reyno manja.
“Aku sih mau aja sebenarnya, tapi kamu ya, yang bujuk anak-anak. Kalau mereka setuju aku juga mau, Reyn.”
“Yess. Aku yakin mereka setuju.” Bibir merah muda itu mengembang, menampilkan deretan gigi putih dan wajah bahagianya. “Gimana kalau bulan depan? Jadwal aku kayaknya gak terlalu padat. Jadi bisa ambil cuti seminggu,” usul Reyno menyarankan.
“Boleh deh, tapi kamu semua yang atur rencananya. Aku mau terima beresnya aja,” cengir Jennie.
“Siap Sayang. Aku udah gak sabar pengin pacaran lagi sama istri aku. Hehehe.”
“Tidur kamu, Reyn. Besok sekolah,” gertak Jennie saat merasa ada bahaya mengancam. Tangan Reyno mulai berggerilya nakal. Bisa-bisa akan ada lembur malam kalau membiarkan itu terjadi. Besok kan senin, jadwal padat seorang ibu
mengantarkan anaknya ke sekolah. Bisa-bisa Jennie tepar kalau Reyno sampai
bertindak.
“Iya tidur nih ... tidur,” gerutu Reyno dengan nada malas. Lantas mencoba memejamkan matanya untuk menjemput mentari pagi esok hari.
***
__ADS_1
1000 LIKE dulu baru
aku up bab Jennie lahiran. Wkwkkw.