
Attention, usahakan membaca di tempat yang sepi!
***
Bersiul-siul di dalam mobil seperti orang gila, sesekali Reyno melirik sang istrinya yang sedang duduk memangku sekantung belanjaan sayur dengan wajah masam. Kalau dihitung-hitung , sudah ada dua puluh pertanyaan lebih yang keluar dari mulut manis Reyno. Sialnya, Jennie masih jutek dan menjawab sekenanya saja.
“Jangan marah dong, Baby!” Huek, Ingin rasanya Jennie memuntahkan isi perutnya di wajah Reyno sekarang juga.
“Jennie kusayang!” Reyno mengayunkan nada suaranya manja.
Brisik! Bukannya berbunga-bunga mendengarnya, Jennie malah ingin muntah melihat gerak manja dari bibir suami yang sok manis itu.
“Jangan marah, dong, Sayangku, cintaku, belahan jiwaku, calon bidadari surgaku kelak.”
Tolong beri aku kantong kresek. Aku harus secepatnya muntah. Ucap Jennie di dalam hatinya.
Sebenarhya mulut Reyno itu terbuat dari apa sih? Apa semua laki-laki selalu bersikap seperti ini? Berubah manis dan sok puitis demi menutupi dosa-dosanya. Cih! Seperti tidak ada cara lain saja. Tidak tahu ya, kalau
wanita semakin muak digombali begitu. Lebih baik salah mengaku salah, daripada
merayu-rayu begitu. Menjijikan. Pikir Jennie geram.
“Sebentar lagi kita sampai rumah, anak-anak akan bingung kalau melihat papa dan mamanya bertengkar.”
“Bodo amat! Biar saja mereka tahu seperti apa kelakuan papanya di belakang layar.” Melengos ke arah Jendela, Jennie memilih memandang pembatas jalan yang tidak ada menarik-menariknya dibandingkan harus melihat wajah polos Reyno yang menyebalkan.
“Lagian kamu juga sih, kenapa harus datang ke bengkel tanpa kabar?”
Jennie emosi, ada tatapan tajam yang menghantam kejiwaan Reyno saat sang istri memutar kepala menghadapnya. “Tuhan itu adil, akan selalu ada cara terbaik untuk membongkar dosa suami di hadapan istrinya.”
Astaga. Seketika Reyno gemas mendengar hal itu. Boleh tidak sih, sesekali mencoba hal ekstrim dengan istri sendiri. Misalnya, making love in the car.
Persetan, bodo amat! Siapa suruh marahmu sangat menggemaskan begitu. Berpikir licik, Reyno menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi. Jarang ada kendaraan lewat, apa lagi alam yang sudah gelap semakin menambah dukungan untuk Reyno melancarkan aksi jahanamnya.
__ADS_1
“Kenapa berhenti?” Tanya Jennie sewot.
“Kenapa?"Reyno tersenyum licik seraya mengangkat satu alisnya. "Tentu saja karena aku sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan-ucapanmu yang menggemaskan.”
“Apaan, sih?” Mana ada istri marah dibilang menggemaskan. Manusia setengah gila kamu, ya Reyn!
Jawaban Reyno berikutnya menjawab semua pertanyaan yang ada
di pikiran Jennie tadi. “Entahlah, Kemarahanmu telah merangsang sesuatu yang ada di bawah sana.”
Tunggu. Kenapa ini terdengar sangat ambigu? Belum sempat Jennie berpikir jauh, Reyno sudah melompat dan berpindah tempat ke kursi milik Jennie. Pria itu menarik paksa istrinya untuk pindah ke jok mobil belakang.
“Ya. Mau apa kau sialan!” bentak Jennie geram. Bisa-bisanya istri sedang marah suami malah terangsang. Apa otakmu isinya agar-agar?
“Mau apa lagi? Tentu saja mau menuntaskan hasrat yang datang secara tiba-tiba.” Jangan Tanya seperti apa posisi mereka, yang jelas
Reyno sudah siap melakukan pertempuran panasnya yang terbilang cukup ekstrim.
“Berat bodoh! Tidak tahu malu, beraninya kamu minta jatah seperti orang tidak punya salah. Aku masih belum memaafkanmu ya, Reyn!” Memukul-mukul dada Reyno, ingin rasanhya Jennie berteriak kalau tidak ingat
“Masalah kesalahanku bahas nanti saja. Jadikan yang ini sebagai kompensasi.”
“Kompensasi dengkulmu! Jelas-jelas yang salah itu kamu.” Pisau mana pisau? Rasanhya Jennie ingin menusuk suaminya sendiri. Andai Reyno punya sembilan nyawa, Jennie akan membunuh mahluk langka ini sekarang juga.
“Ayolah … aku butuh kerja samamu, Sayang. Jangan sampai ada orang yang datang menghampiri mobil kita.” Kepala Reyno sudah jatuh di celuk leher milik Jennie. Menikmati bagian itu tanpa berpikir dua kali.
“Lakukanlah. Habis ini aku akan menjeratmu dengan pasal 480 AYAT 1,” ancam Jennie yang merasa tidak dapat berkutik lagi. Pasrah di bawah kungkuhan sang suami.
“Silahkan dilaporkan, aku hanya perlu membayar denda sebesar 36 juta. Selesai,” ucapnya bangga.
Kesal, kesal, ingin rasanya Jennie menendang enoki keparat yang tidak tahu tempat itu. Kegiatan berlanjut sampai apa yang Reyno inginkan tercapai.
Tersenyum bangga, Reyno melirik istrinya yang sedang mengancingi baju seraya mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. "Terima kasih, Sayang. " Mengelus lembut kepala istrinya.
__ADS_1
Posisi duduk mereka sudah kembali normal.
"Suami busuk! Aku tidak akan melupakan kejahatanmu hari ini!" bentak Jennie geram. Matanya mentap lurus pada jalanan sepi di depannya.
"Iya, Sayang. Jangan dilupakan. Pengalaman yang menyenangkan memang harus selalu dikenang."
"Mau mati kamu ya, Reyn!" Ada tangan yang hampir siap melayang.
"Istri yang nurut sama suami dijamin masuk surga. Jangan galak-galak ya," ucap Reyno seraya menurunkan tangan Jennie kembali.
Tok ... tok ... tok ...
Bunyi ketukan mobil membuat Reyno dan Jennie sedikit kaget. Reyno menurunkan kaca mobilnya sedikit.
"Selamat malam, Pak. Mobil anda melanggar aturan karena berhenti sembarangan di jalan, boleh tunjukkan surat-suratnya kendaraannya?"
"Eh, pak polisi, iya sebentar Pak, saya ambil surat-suratnya." Reyno memberikan surat-suratnya dengan tampang polos tak berdosa.
"Apa kalian suami istri?" Melihat penampilan Jennie, pak polisi sedikit curiga mereka habis melakukan tindakan asusila.
"Tentu saja, Pak." Menunjukkan walpaper di ponselnya. "Ini anak saya sudah dua, loh. Apa perlu saya memberikan buku nikah juga agar bapak percaya.
"Maaf Pak." Tertunduk malu. Pak polisi memberikan surat tilang untuk Reyno. "Surat-suratnya saya tahan, silahkan mengikuti sidang untuk pelanggaran aturan yang bapak lakukan. Selamat malam, Pak!" ucap apak polisi di akhir kalimat.
"Makasih banyak, Pak Polisi. Maaf ya, Pak. Selamat bertugas, lain kali saya akan mengikuti aturan lalu lintas dengan baik," ucapnya seraya menutup kaca mobil. Reyno melajukan mobilnya kembali.
"Sepertinya karma berlaku sangat cepat ya," ejek Jennie sinis. "Emang enak ketilang!"
"Gak papa ditilang, selain melanggar aturan. Kita juga meminjam jalanan pemerintah tanpa izin. Wajar jika ditilang polisi. Anggap saja pengalaman—numpang bercinta di jalan pemerintah."
Gila. Jennie bisa mati muda mendengar mulut Reyno yang tak pernah diatur.
"Makan malam nanti, akan kupastikan ada racun di atas makananmu," kesal Jennie, bibirnya mengerucut sebal menahan emosi.
__ADS_1
"Aku rela mati untukmu, Sayang."
***