
Miss D: Baby, nanti temui aku di ruanganku ya.
Mata Jennie terbelalak sempurna kala membaca isi pesan di ponsel Reyno. Aura di sekelilingnya berubah menghitam. Wajah memerah bersamaan dengan darah yang mendidih seketika. Ibu macan marah.
"Siapa Miss D?" Pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Jennie.
"Dosen di kampusku," jawab Reyno apa adanya. Sebelum Jennie berhenti bertanya, lebih baik ia diam.
"Cantik?"
"Ya Lumayan."
"I–ikhh!" decak Jennie kesal, lantas mencubit lengan Reyno kuat-kuat.
"Tapi cantikan kamu, sumpah! Bagi aku cantikan kamu." Susah ya, jadi orang jujur. Serba salah begini. Memang Miss D itu cantik, tapi aku ngga suka. Gerutu Reyno sambil pura-pura mati rasa saat do cubit sang istri.
"Kenapa manggil kamu dengan sebutan baby? Kalian lagi pedekate? Atau jangan-jangan mau buat skandal perselingkuhan dengan dosen baru kamu?" Jennie menyerngit sambil memaikan garpu di tangannya, seolah siap dipakai untuk menusuk Reyno sampai mati. Aura wajahnya memang seperti itu. Menjurus dengan tatapan membunuh.
"Miss D memang suka begitu, dia hobi bercanda. Kita ngga ada hubungan apapun, kok. Hanya sebatas mahasiswa dan dosen."
"Kamu pikir aku bakal percaya gitu, sama kata-kata kamu." Dentuman garpu yang di banting ke atas piring mengiringi kebangkitan Jennie dari duduknya. Anak itu berbalik dan memilih pergi meninggalkan Reyno.
Sial, pagi-pagi sudah dapat masalah saja. Gerutu Reyno dalam hati.
__ADS_1
Dengan sigap Reyno bangkit, menyusul Jennie sebelum gadis itu mengunci diri di dalam kamar. Wanita kalau marah kan suka begitu.
"Aku akan jelasin sedetail mungkin, kalau perlu kita temui dosen aku biar kamu percaya kalau aku ngga ada hubungan sama dia." Dengan lembut Reyno menuntun Jennie ke dalam kamar, mendudukkan gadis itu di pinggiran ranjang.
"Sana deh kamu, gak usah deket-deket aku." Lantas mendorong tubuh Reyno saat pria itu hendak duduk di sampingnya, dan pada akhirnya Reyno memilih untuk duduk di bawah kaki istrinya.
"Ya Tuhan, aku jelasin ya," rayu Reyno dengan wajah sok imut. Dibuat mirip seperti anak kuncing yang menggemaskan.
"Hikss." Menangis bombay, Jennie memulai dramanya.
"Aku tahu aku gak terlalu cantik, perut aku juga buncit, badan aku gemuk. Wajar kalau cowok yang baru menginjak usia dewasa seperti kamu berpaling dari istrinya. Udah gak ada yang menarik lagi dari aku." Tidak jadi menangis, entah mengapa air mata Jennie tidak mau keluar walau sudah dipaksa sedih. "Kamu bosan 'kan, punya istri yang badannya kayak Baymak begini."
Duh, rasanya Reyno ingin memakan istrinya sekarang juga. Wajahnya imut sekali kalau sedang marah begitu, beneran ini cewek tomboy? Kok lucu sih, bikin Reyno ingin bersembunyi dibalik selimut, lalu manja-manjan sambil mesumin bumil yang satu ini seharian full.
"Jelasin tentang Miss D itu sedetail mungkin, baru dimaafin," sanggah Jennie sambil menepis tangan Reyno yang mulai tidak terkontrol.
"Awalnya Miss D suka sama aku."
"Suka?" Bola matanya membelalak sempurna. "Tuh 'kan, kalian berdua main mata ya?" Sambil menepuk pundak Reyno jengkel.
"Dengerin aku dulu. Miss D itu suka sama brodong-brondong gitu di kampus."
"Termasuk kamu 'kan?" sela Jennie sebelum Reyno menjelaskan.
__ADS_1
"Aku bilang dengar dulu ,Syang." Masih bersimpuh di pangkuan sang istri, Reyno mencubit gemas pipi gembilnya. "Awalnya dia suka centil gitu sama aku, tapi begitu tahu aku sudah punya istri, dia malah semangatin aku. Katanya kita berdua hebat, berani menikah diusia muda."
"Reyn, yang namanya pelakor itu selalu menghalalkan berbagai cara untuk mengambil hati targetnya. Kalau kamu percaya sama kebaikan dia, engga menutup kemungkinan kamu akan tergoda juga." Bibirnya semakin mengerucut.
Ya Tuhan, imut baget sih, istri aku.
"Kenapa malah ketawa. Ada yang lucu?" bentak Jennie seraya melipat tangannya di depan dada. Lalu melengos ke samping—buang muka.
"Abisnya kamu lucu banget, Sayang. Jarang-jarang kan, lihat kamu cemburu begini." Reyno menaruh kepalanya di pangkuan Jennie dengan manjanga.
"Jadi kamu seneng liat istri makan ati begini?" Dijambaknya rambut kepala Reyno tanpa ampun. "Gak usah ... manja-manja sama aku lagi."
"Dih, kok gitu? Lepas dong ini, sakit tahu." Memelas agar Jennie mau melepas jambakkannya.
"Blokir dulu nomer dosen kecentilan itu, baru aku maafin."
"Iya, Sayang. Aku blokir sekarang. Tapi lepas dulu, dong. Kalau kamu jambak aku begini. Gimana caranya aku ngambil hape. Kan masih di atas meja makan."
"Ya udah sana ambil!" Lantas mendorong tubuh Reyno dengan keji, hingga tersunggungkur ke belakang.
Sabar, Reyn. Tunggu sampai marah istri kamu hilang, baru habisin di atas ranjang. Setan di dalam diri Reyno seolah mengatakan hal itu. Lantas pergi ke meja makan untuk mengambil ponselnya.
***
__ADS_1