
Pagi yang kacau. Keadaan kamar hotel itu seperti habis terkena badai tsunami. Bantal yang berserakkan, seprai terkoyak, bahkan ada beberapa porselin yang pecah—belingnya menyebar di beberapa lantai. Entah bagaimana cara Jennie dan Reyno mengeksekusi permainan ranjangnya, yang jelas siapapun orang yang melihat isi kamar itu pasti terkejut. Mungkin mengira habis terjadi peperangan antar suami istri.
Mengerjap-ngerjap, Jennie terbangun karena ada suara-suara berisik. Sepertinya Reyno sudah bangun sedari tadi—pria itu sedang nonton drama di ponsel dengan posisi memunggungi Jennie.
"Sayang...," lirih Jennie manja. Ia mencoba menjangkau tubuh Reyno. Memeluk pria itu dari belakang dengan gaya merajuk.
"Jangan pegang-pegang. Aku mau lanjut marah lagi." Derr, suara Reyno terdengar seperti petir yang menggelegar di telinga Jennie.
Astaga! Di pagi yang cerah ini, Jennie dibuat mengelus dadanya, heran. Ternyata usaha untuk membujuk suaminya semalam sia-sia. Padahal badan Jennie serasa patah semua. Suami yang satu ini selalu saja berhasil membuat Jennie geleng-geleng kepala, mungkin keturunan manusia pluto.
Masih enggan melepas pelukkanya. Jennie terus menghujani bujur rayu seraya mengecupi punggung suaminya. "Kamu beneran mau lanjut marah lagi? Semalang kan sudah gak marah, Sayang?"
"Suka-suka aku," ketus Reyno jutek.
Mengingat bagaimana sikap Reyno semalam, rasanya lucu bin ajaib. Sepertinya Reyno lupa bahwa semalam ia mengeluarkan sajak cinta dari bibirnya berkali-kali. Meneriaki nama Jennie tanpa henti seolah sangat memuja istri tercintanya. Namun begitu kesadaran mulai menyapa, Reyno kembali lagi marah.
__ADS_1
Tringg!
Ponsel Reyno bergetar, Jennie melirik sedikit sebelum Reyno menempelkannya di telinga.
"Hallo, Pak?" Suara Reyno berubah semangat. Pasti panggilan dari junjungannya, pak Mandor. Karena panggilannya tidak di loudspeaker, Jennie tidak bisa mendengar jelas obrolan mereka.
"Baik, Pak. Maaf ya, hari ini Reyno tidak bisa datang ke bengkel." Kalimat terakhir diucapkan secara bisik-bisik, tapi masih bisa di dengar oleh Jennie. "Ada tugas negara,"lirihnya.
Terdengar ucapan pak mandor yang tidak begitu jelas. Sebelum Reyno mengakhiri panggilannya.
Reyno tergelak kencang. "Siap, Pak! Tarik sis semongkooo!"
"Kamu beneran mau lanjut marah lagi? Mau sampai kapan?" Dikecupnya punggung polos itu. "Semalam aku udah berjuang mati-matian buat kamu, masih belum cukup?" rajuk Jennie sekali lagi.
Membalikkan badannya menghadap Jennie, Reyno menatap manik indah itu dengan wajah datar. "Jadi cara kamu bujuk suami marah begitu caranya?"
__ADS_1
"Akhp!" Jennie menutup mulutnya. "Ketauan ya? Hehehe. Semua wanita seperti itu, kok," ujarnya cengengesan.
Tatapan Reyno yang tadinya datar berubah lapar, seperti binatang buas yang hendak menerkam mangsanya bulat-bulat.
"Kalau begitu jangan pulang. Bayar semua kesalahanmu sampai aku merasa puas.
Duaarrr! lagi dan agi Jennie merasakan seperti di sambar petir untuk kedua kalinya. Wajah yang tadinya biasa saja berubah pucat. Ah, tak terbayangkan jika harus melayani manusia reptil itu sekali lagi. Mungkin Jennie akan segera menjadi ager.
Melihat Jennie yang membeku secara tiba-tiba, Reyno mengkonfirmasi sekali lagi. "Mau tidak? Atau pengen aku ngambek terus sampe besok?" tanyanya enteng.
Dengan berat hati, Jennie mengguk pasrah.
"Bagus, istri yang patuh terhadap suami akan dipermudah jalannya menuju surga."
Selain licik, Reyno juga pandai memilah kata.
__ADS_1
***
Aku lagi ga ngefeel gini nulisnya. Like dong, biar mangat akunya..wkwkkw. Bau-bau pen hiatus ini..wkkww