
Pagi ini adalah hari terakhir Reyno dan Jennie menikmati masa liburanya. Sore hari nanti mereka akan kembali lagi ke indonesia. Pertengkaran mereka masih berlanjut sampai pagi, semalam Jennie tidak berhasil melakukan upaya tempel-menempel. Alhasil sekarang hanya ada keheningan yang terjadi di atas meja makan.
Jennie dan Reyno hendak menikmati sarapan paginya, hanya ada roti tawar dan segelas susu di atas meja. Reyno memang selalu sarapan itu setiap paginya.
Jennie mengambil satu lapis roti tawar untuk diolesi selai. "Kamu mau pakai selai apa?" Bertanya dengan nada lembut. Berharap batu itu akan hancur dengan sogokan roti tawar buatan Jennie. "Coklat, strawberry, nanas atau vanilla?"
"Terserah!" Lagi-lagi hanya ada jawaban itu yang keluar dari bibir Reyno.
Kalau saja aku ngga terancam. Tak akan sudi aku memelas iba pada bencong bikini bottom itu. Cih.
Jennie mengoleskan selai coklat, lalu menaruhnya di piring Reyno. Cowok itu menggigit sedikit rotinya, lalu menyingkirkan piring itu dari hadapanya.
Itu artinya Reyno tidak suka coklat. Catat.
Jennie masih memiliki kesabaran untuk membuat ulang sandwichnya. Kali ini ia mengoleskan selai nanas di atas roti. Menaruhnya ke atas piring lalu menyodorkanya pada Reyno.
Sandwich yang kedua jauh lebih parah. Reyno menyingkirkanya tanpa menyentuh terlebih dalu.
"Sebenarnya kamu mau pakai selai yang mana, sih?" Jennie bertanya saking kesalnya.
"Terserah!"
Aku yakin umurku tidak akan panjang kalau harus menghadapi orang seperti dia. Bunuh aja, bunuh.
Itulah istimewanya menjadi istri seorang Reyno. Mahluk setengah jadi itu selalu menuntut Jennie harus tahu segala tentangnya, tanpa memberi tahu satu kalipun. Kali ini Jennie tidak mengoleskan selai, ia menyodorkan sepotong roti tanpa selai di piring Reyno.
"Kamu itu becanda ya! ngapain naruh roti tanpa selai di piring Reyno?" kesalnya sembari mengambil selai strawberry untuk dioleskan sendiri ke dalam rotinya. "Kita udah beberapa kali sarapan bareng, masa kamu ngga tahu kalau aku hanya pakai selai strawberry. Bagaimana kamu mau belajar menyenangkan suami kalau ngga pernah peka begini."
Cih. Aku mundur alon-alon untuk jadi suamimu.
Jennie menarik nafas dalam-dalam. Satu tambahan lagi poin penting menjadi istri Reyno. Jennie harus paham apapun tentang Reyno hanya dengan melihat kebiasanya saja. Itu merupakan sebuah ke-pekaan yang wajib Jennie lakukan.
***
__ADS_1
Akhirnya Jennie dan Reyno tiba di indonesia pukul empat sore. Namun diluar dugaan, sesampainya di bandara Jennie kabur. Gadis itu sudah pusing memikirkan resiko buruk jika pulang ke rumah. Satu tempat yang paling aman bagi Jennie adalah rumahnya sendiri. Sebenarnya Reyno sudah melupakan kesalahan Jennie, hanya saja gadis itu terlalu parno menghadapi kenyataan yang ada. Kini Jennie sudah berada di dalam rumahnya, satu menit yang lalu ia baru saja tiba.
"Sayang. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian?" Bunda menghampiri Jennie yang sedang menyandarkan tuhuh lelahnya di atas sofa. Mengulurkan secangkir teh hangat pada anak gadisnya.
"Jennie sudah tidak kuat lagi memiliki suami seperti itu, Bun. Reyno sangatlah manja seperti wanita. Jennie sudah mencoba bersabar, namun usaha Jennie sia-sia percuma. Kita bukanlah pasangan yang cocok. Terlebih Mami-nya Reyno tidak suka denganku. Bahkan ia sudah merencanakan perceraian untuk kami. Bunda kenapa sih, mau nerima lamaram mereka?" protes Jennie setelah menjelaskan duduk perkaranya. Gadis itu menyambar teh diatas meja. Meminum habis hingga tandas saking hausnya.
"Sayang, maafkan Bunda dan Ayah, ya. Kami juga tidak tahu kalau akan begini jadinya. Awalnya orang tua Reyno bilang mau melamar kamu demi kebaikan kalian berdua. Gosip yang sudah menyebar tidak dapat diredakan, hanya menikahlah satu-satunya cara terbaik untuk kalian. Nyonya Dina juga tidak membicarakan perihal apa-apa waktu itu, mereka terlihat serius saat sedang melamar kamu. Maka dari itu Ayah dan Bunda menerima lamaran mereka."
"Ya sudahlah, Bun. Tapi tolong biarkan Jennie tinggal di sini. Jennie tidak betah tinggal di rumah Reyno. Bunda tahu tidak, Kaka Reyno itu adalah William."
"Ya?" Bunda mengerjapkan kedua matanya kaget. "Maksud kamu William yang dulu suka main kesini?" tanya Bunda Antusias.
"Iya lah, Bun. Memangnya ada William kedua? nah, Reyno itu marah gara-gara Jennie ngga jujur kalau Jennie pernah pacaran sama William. Dia mau ngadu ke Maminya. Kalau Jennie di sana, pasti Jennie akan dimarahi dan dihukum." terangnya dengan wajah iba.
Bi Ina pembantu di rumah Jennie datang dengan wajah gugup.
"Maaf Ibu, diluar ada tamu yang ingin bertemu non Jennie, sepertinya itu suami non Jennie."
Reyno masuk kedalam. Sementara lima bodyguard bertubuh besar yang sempat membuat Bi Ina takut tetap berjaga diluar.
"Selamat Malam Bunda." Reyno tersenyum anggun. Menyapa Ibunda Jennie lalu mencium tanganya. Beda sekali dengan Jennie saat bertemu dengan Mami Dina untuk pertama kalinya. Kelembutan cowok itu langsung merubah hati Bunda. Bunda sudah terhipnotis oleh pesona Reyno.
"Duduklah, ada perlu apa kamu kesini?" tanya Bunda dengan wajah dibuat datar.
"Reyno mau menjemput Jennie, Papi yang menguruh." Jujur.
"Bukankah kalian tidak menyukai anaku. Untuk apa menjemput dia kembali. Kalian sudah menipu keluarga kami. Melamar Jennie hanya untuk menutupi aib keluarga kalian yang kaya raya." Wajah wanita paruh baya itu terlihat berapi-api. Menahan air mata yang mulai merambang di pelupuknya.
"Bunda, sepertinya Bunda salah paham. Mami memang kurang menyukai Jennie, maka dari itu ia menyuruh kami bercerai setelah enam bulan pernikahan kami. Tapi saya tidak berniat menceraikan Jennie. Pernikahan bukanlah tempat untuk bermain-main." Reyno berbicara sesopan mungkin. Sementara Jennie hanya ternganga ketika melihat cowok itu stay coll di depan ibu mertuanya. Kalimat itu kurang patut diucapkan oleh lelaki manja seperti Reyno.
"Atas dasar apa kamu berbicara seperti itu?" pancing bunda ingin tahu alasan Reyno.
"Kita memang belum saling mencintai bunda, tapi Reyno ingin mencoba melakuakan yang terbaik untuk Jennie."
__ADS_1
Cih. Pintar sekali dia berakting di depan Bunda. Bunda juga kelihatan percaya. Menyebalkan.
"Menginaplah disini, besok baru bawa pulang istrimu."
"Bunda ...." Wajah Jennie menoleh. sorot matanya berbicara seolah mengatakan jangan menyuruh Reyno menginap di sini.
"Sudahlah, Jennie. Kita lihat saja, apakah omongan suami kamu dapat di percaya." Bunda beranjak untuk pergi ke kamarnya. "Kalian berdua istirahatlah, ini sudah larut malam." Bunda pergi. Reyno menyeringai licik setelah kepergian ibu mertuanya.
"Heh, pintar sekali kamu berakting di depan Bundaku, bakan ia sampai percaya dengan mulut manismu itu." Kesal.
"Hehehe ...." Tersenyum senang.
"Ngapain kamu ke rumahku?" Tidak senang.
"Kan tadi Reyno udah bilang, kalau Papi yang nyuruh aku kesini. Kaka sudah menceritakan semuanya pada Mami. Kaka juga membatalkan rencana pertunanganya. Di rumah sedang kacau balau, Jennie."
"Kamu serius?" Kaget.
"Iyalah, Reyno tidak perlu capek memberitahu Mami duluan, Kaka sudah lebih dulu bertindak."
Ya Tuhan, bagaimana dengan nasibku selanjutnya?
Jennie menarik nafas frustasi.
"Sebaiknya kita ke Kamar, ada hal yang mau Reyno bicarain sama Jennie.
"Apa?"
"Reyno maunya ngomong di kamar Jennie."
•••
Tebak dong, Reyno mau ngomong apa?
__ADS_1