Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 67


__ADS_3

Mentari pagi menyibak embun di atas rerumputan. Membangunkan semua mahkluk yang bernafas di seluruh dunia. Dua pasang manusia masih setia bergulung di bawah selimut. Kehabisan tenaga karena terlalu berlebihan dalam bergulat.


"Huekk ... Huekk ...."


Melangkah cepat menuju kamar mandi, Jennie terpaksa bangun karena dorongan kuat dari dalam perutnya. Wanita itu mencoba memuntahkan apapun, namun hanya ada sedikir air yang keluar, serta usus-usus perut yang terus menyeruak.


"Arghhh!" Tubuh Jennie limbung. Hampir jatuh andai ia tidak menopang tangannya pada dinding kamar mandi. Pusing yang amat dasyat menyerang kepalanya bertubi-tubi. Ia tidak menyangka bahwa efek alkohol akan segila ini. Lebih parah dari masuk angin atau meriang yang biasa menyapa manusia.


"Astaga!" Di tengah-tengah siksaan efek alkohol. Jennie baru ingat kalau terakhir kali ia sedang berada di klab malam. Lalu kenapa sekarang ada tempat asing yang desainnya seperti hotel? Bajunya pun sudah di ganti dengan piama tidur fasilitas dari hotel tersebut.


Belum selesai Jennie berpikir, ia sudah dikejutan oleh sosok manusia yang sedang tepekur di bawah selimut. Seluruh tubuhnya tertutupi kecuali bagian bawah yang selimutnya sedikit tersingkap. Menampakan sepasang kaki berbulu yang memperjelas jenis kelamin manusia itu adalah laki-laki.


Melangkah gemetar, perlahan Jennie mendekati sosok laki-laki yang belum diketahui dengan jelas. Lalu, ia menyingkap selimut tebal yang menutupi wajah pria itu dengan tangan kiri.


"Akhp!" Jennie langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Ia menangis tatkala mendapati suaminya sendiri yang sedang tertidur pulas di bawah selimut. Itu artinya mahkotanya masih terjaga karena yang tidur dengan Jennie adalah suaminya sendiri .


"Huuuu ... huuuu." Tangisnya semakin mendrama layaknya sinetron ikan terbang. Andai itu bukan Reyno, pasti Jennie sudah memilih mengakhiri hidupnya karena dihantui rasa bersalah.


Wanita itu langsung melompat naik ke atas ranjang. Memeluk Reyno yang masih terpejam dengan rasa haru.


"Aku pikir itu bukan kamu tahu, Reyn. Dasar nyebelin, kamu kemana aja? Aku hampir gila mikirin kamu."


Reyno tak bergeming, layaknya orang mati tak bernyawa.


"Reyn ... Reyno!" Jennie mulai panik. Wajah Reyno terlihat pucat seperti orang sakit. Namun suhu badannya masih normal.


"Reynoo," isak Jennie cemas, ia mengguncangkan tubuh Reyno agak kasar. Hingga lama-kelamaan pria itu bangun dari tidur lelahnya.


"Lapar," lirih Reyno lemah. Matanya hanya sedikit terbuka, pertanda ia masih ingin melanjutkan tidurnya.


"Fiuh!" Jennie mengembuskan napas lega. "Lapar? Kalo gitu kita pesen makanan delivery hotel, ya."


Jennie meraih telepon di atas nakas. Memesan beberapa menu makanan untuk sarapan pagi. Begitu telepon ditutup, wanita itu langsung menghambur ke pelukan suaminya.


"Dari mana kamu bisa tahu kalau semalam aku pergi ke klab, Reyn?" Bibirnya masih terus menempel di pipi Reyno. Belum ada tanda-tanda mereka akan baikan, namun Jennie tidak akan melepaskan Reyno apapun yang terjadi.


Melihat Reyno mau menyusulnya hingga ke klab malam, sudah mengartikan bahwa pria itu masih peduli. Meskipun Jennie tidak tahu alasannya apa.


"Kamu nakal!" Reyno membalik tubuhnya hingga posisinya memunggungi Jennie, lalu menutupi wajah lelahnya dengan sebuah bantal.


"Maafin aku ..." Bicara Jennie sedikit tertahan, sudah bisa ditebak ujungnya akan seperti apa. Menaklukan Reyno memang tak semudah merayu anaknya dengan satu biji kinder joy. Khusus Reyno butuh satu truck kinder joy, mungkin.


"Aku harus gimana lagi ... sudah dijelasin berkali-kali, kalau aku dan Kak Dafa cuma temenan. Kita ngga ada hubungan spesial apapun selain teman, Reyn."

__ADS_1


Dengan cepat Reyno membalik tubuhnya kembali. "Aku sudah maafin kamu." Bicara dengan nada kurang ikhlas.


"Beneran?"


"Tapi aku mau marah lagi atas kelancangan kamu. Siapa yang ngizinin kamu ke klab malam? Bahkan tempat itu jauh lebih bahaya dari bar yang aku kunjungi waktu itu."


Ada gigitan kuat di lengan Jennie hingga wanita itu memekik, nyeri. Gigi Reyno masih setia di sana, bersiap menggigit lagi jika alasan Jennie tidak masuk akal.


"Habisnya aku bingung. Tinggal di rumah tanpa kalian rasanya hampa. Kemarin aku takut banget, gimana kalau beneran tinggalin aku?"


"Dasar bodoh!" Reyni menggigit telinga Jennie hingga memerah. "Mana mungkin aku beneran tinggalin kamu. Sementara jantung dan hati aku masih ada di kamu," bisik Reyno yang membuat pipi Jennie merona seketika.


"Tapi aku takut, hampir gila hidupku tanpa kalian. Oh ya, anak-anak kamu kemanain?"


"Aku titipin di rumah Alex."


"Apa!?" Wajah Jennie mendadak murka.


"Mereka pasti baik-baik saja, Sayang. Cilla dan Cello sangat mandiri. Tinggal di manapun betah. Aku yakin anak-anak kita tidak menyusahkan Alex," ucap Reyno tanpa tahu bahwa dunia Alex sedang jungkir balik di luar sana.


"Serius Reyn. Mereka kadang nakal, loh."


"Tenang saja, anak kita yang terbaik." Begitulah Reyno bicara—tetap membela sang anak apapun yang terjadi.


Krukkk ... krukkk ...


"Kamu laper banget ya?"


Reyno menyengir, malu. "Aku gak makan seharian kemarin."


"Kenapa ngga makan? Tapi anak-anak tetap kamu kasih makan kan, Reyn?" tanya Jennie menyelidik.


Awas saja jika sampai tidak diberi makan.


"Makanlah, mereka aktif banget. Seharian gak nyariin kamu."


Jennie mendadak tertusuk pisau bayangan. Menyebalkan, tapi ia suka anak-anaknya dekat dengan sang Papa.


"Kalian pergi ke mana? Aku cariin ke semua penjuru. Datengin tempat-tempat yang biasa kita kunjungin. Tapi tetap gak bisa nemuin kamu dan anak-anak," gerutu Jennie manyun-manyun.


"Aku dan anak-anak tamasya ke pinggiran kota."


"Tamasya?" Wajah Jennie murka tiada tara.

__ADS_1


"Di saat aku pusing sampai nangis-nangisin kaliaan, dengan enaknya kalian tamasya. Gila!"


Tidak beda jauh dengan Alex, Respon Jennie pun sama kagetnya. Memangnya kenapa kalau pergi tamasya? Reyno sungguh tidak paham dengan pemikiran para manusia.


"Dari pada ke kelab malam, bahaya!" telak Reyno, di mana kalimatnya langsung membuat Jennie diam seribu bahasa.


"Tapi aku suka, makasih ya buat semalam. Kamu berhasil ngalahin aku. Bravo!" Reyno mengacungkan dua jempol untuk Jennie.


"Ngalahin gimana?"


"Kamu agresif parah!"


"Apaan sih!" Jennie memukul dada Reyno gemas. Sejujurnya, Jennie hanya mengingat kalau semalam ia melakukan hubungan. Namun Jennie tidak ingat dengan detail durasi dan agresif seperti apa yang Reyno maksud.


"Sudah aku tebak, istri aku pasti pura-pura lupa kayak lagu. Untung aku punya videonya." Reyno si psychophat mengambil ponselnya di atas nakas, lantas memutar video dengan durasi kurang lebih lima menit.


"Reynooooo!" Jennie sudah tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di manapun. Pipinya memerah, tubuhnya bergetar saat melihat keliaran dirinya di video itu. Sungguh Jennie tak menyangka akan ada adegan segila itu di atas ranjang.


Detik itu juga, video terhapus sempurna.


"Kamu jahat banget! Kalau kesebar gimama? Aku gak mau viral untuk kedua kalinya." Jeweran kuat mendarat sampai Reyno merasa telinganya akan putus.


"Awww ... aww ... aku gak bermaksud, Sayang. Cuma mau buat jaga-jaga kalau kamu gak percaya, aku punya buktinya. Itu ronde ke tiga, kamu kuat banget. Habis makan semen ya," goda Reyno tidak tahu diri.


"Tenaga aku habis terkuras ngelayanin kamu. Dasar tante!"


Seringai jenaka menyungging bebas tanpa rasa malu. Tak lupa kedipan mata nakal Reyno mengiringi kemesumannya.


"Dasar cowok hentai!" (Dasar cowok mesum!)


"Kimochi ne suge. Hahaha." Reyno tergelak kencang. Tidak peduli bahwa istrinya sedang menahan rasa malu yang tak bisa dijelaskan.


"Pokonya kita harus baikkan, kalau gak aku akan marah sama kamu. Bagaimanapun juga itu merendahkan harga diri aku sebagai wanita," protes Jennie tidak terima.


Selimut dinaikkan hingga setinggi leher. Sebuah kecupan mendarat sempura di kening Jennie. "Aku selalu maafin kamu. Apa lagi sudah dikasih hadiah."


Di saat hendak melanjutkan adegan romantis, tiba-tiba Jennie berteriak,


"Astaga! Semalam aku lupa minum pil KB?"


"Seriusan?"


Reyno panik, lehernya seperti tercekik. Deru napasnya berubah tak beraturan. Aliran darah mengalir cepat hingga tubuhnya seketika panas dingin.

__ADS_1


Oh Tidak!


***


__ADS_2