
Menyebalkan! Rasanya seharian ini aku malas kerja gara-gara kejadian semalam. Padahal kan sekarang niatnya mau pamer pada Pak Mandor. Malah gagal gara-gara peraturan minum obat yang menyebalkan itu.
"Kenapa lagi, Reyno?" Seperti biasa, Pak Mandor selalu hadir di saat yang tidak tepat begini. "Dari wajahmu, pasti kamu gagal malam pertama, kan? Hahaha." Tergelak kencang sekali.
"Huuh. Bapak tahu saja!" Sambil menyangga dagunya dengan kedua tangan. Matanya tidak berhenti menatap makanan yang ada di dalam etalase, padahal baru saja makan. Reyno melakukan kegiatan melamunnya lagi, sambil manyun-manyun tentunya.
"Pulang sana! Sudah punya istri masih suka nongkrong. Seperti bujangan saja," cibir pak Mandor.
"Memang saya masih bujangan." Reyno tidak mau kalah.
Pokonya hari ini Reyno benar-benar malas pada dunia. Sesial ini hidupnya memang. Reyno melirik Pak Mandor yang asik makan gorengan sambil ngopi. Kegiatan sederhana yang nikmat tiada duanya. Ngopi dan makan gorengan di sore hari.
"Reyn ... Reyn. Punya masalah hidup apalagi kamu?" Tiga gorengan sudah masuk ke dalam mulutnya. Pak Mandor memang makannya cepat sekali.
"Pil KBnya sialan banget, masa baru bisa berfungsi setelah dua hari," decak Reyno sambil mendengkus kesal.
"Buahahahah. Tinggal langsung tancap saja, Repot banget hidup kamu, Reyn." Pak mandor lagi dan lagi selalu mendapat hiburan gratis setiap kali bertemu dengan Reyno. Asli tak pernah bisa berhenti tertawa kalau melihat kepolosan dari wajah anak itu.
Si Teteh yang lupa bawa headset terpaksa harus mendengar obrolan jahanam mereka. Ia juga ikut menahan tawa mendengar penuturan polos dari bocah itu.
"Nanti kalau hamil gimana?" tanya Reyno polos.
"Reynooo!" Sebuah suara yang tidak asing mengejutkan semua penghuni warteg sederhana itu. Obrolan antar mereka lanhsung terputus. Semuanya diam membisu.
Jennie datang menyusul dengan wajah kesal. Padahal Reyno belum ada sejam nongkrong di warteg. Begini ya, Repotnya punya istri, pulang telat sedikit saja di samperin. Kebetulan Reyno sudah memberi tahu markas rahasianya, yaitu di warteg samping tempat kerjanya. Jadi Jennie langsung menyusul ke sini.
"Eh, ada Jennie." Reyno tersenyum jenaka ketika melihat air muka Jennie yang sedit marah.
Pak mandor menggeser duduknya ke kanan agar Jennie bisa ikut duduk di samping Reyno. Biasanya kalau adegan seperti ini pasti ada pertengkaran hebat. Asik. Pikir pak mandor jahat.
"Kamu kok belum pulang?" Jennie merengut masam.
"Habis makan dulu. Hehehe."
"Ehemm ... Ehemm." Pak mandor pura-pura berdeham, maksudnya minta di kenalkan dengan istri Reyno yang cantik sekali.
Asik, sampai di samperin istrinya. ada tontonan gratis, nih. pasti mau mau berantem. Batin Pak Mandor sambil tersenyum licik.
"Oh ya Je, kenalin ini Pak Mandor yang suka aku ceritain."
__ADS_1
"Hallo Pak." Jennie tersenyum ramah, gadis itu hendak mengulurkan tangannya untuk berjabat, namun buru-buru Reyno menepisnya.
Bagong sia, Reyn.
"Hallo Neng Jennie." Akhirnya hanya saling menyapa dengan skat Reyno yang duduk ditengah-tengah.
"Kalo yang ini si Teteh. Yang masakannya enak kata kamu." Reyno memperkenalkan.
"Hallo neng Jennie, geulis pisah ihh, awakna meuni herang jiga artis Korea." Si Teteh yang jarang bicara mendadak girang ketika ada perempuan datang ke wartegnya. Karena biasanya pelanggan teteh mayoritas laki-laki. Maklum, dekat arena kontruksi bangunan.
"Hallo Teteh." Jennie hanya tersenyum manis karena kurang tahu apa yang teteh ucapkan tadi.
"Kamu udah makan belum?" Jennie menggeleng samar sebagai jawabannya. "Mau makan apa?"
"Yang kayak biasanya aja?"
"Teh, sayur sop sama ayam kremesnya satu ya, nasinya satu setengah. Jangan pake sambel ya..." Jennie memang porsi makannya banyak. Catat.
"Muhun Aa Reyn." Si Teteh segera mempersiapkan makanan untuk Jennie.
Pak mandor hanya memperhatikan Reyno dengan wajah masam. Tontonan gratis yang dia tunggu tidak ada. Padahal tadi Jennie terlihat marah sekali. Pak mandor kira mereka akan bertengkar di warteg ini.
Tidak lama kemudian datang dua orang laki-laki memesan kopi. Reyno langsung merangkulkan tangannya di pundak Jennie. Agar tidak ada yang menggoda maksudnya. Pak Mandor mendadak panas melihat kejadian itu.
***
Farhan duduk di ruang kerjanya. Menatap layar laptop yang menyala sedari tadi, namun tidak ada satupun pekerjaan yang ia kerjakan. Perasaanya sedang tidak jelas. Ia ingin tahu kebenaran dari fakta yang sesungguhnya. Apakah ia benar-benar di buang? Atau ini semua hanya sebuah kesalahpahaman. Farhan ingin tahu semua itu.
Aku harus segera ke Bandung menyusul mereka. Aku akan memulai penyelidikanku.
Tidak lama kemudian William datang dengan wajah merah padam. Ia langsung to the point tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Di mana Jennie dan adikku?" William bertanya marah sekali.
"Apa kabar Tuan Muda, lama tidak berjumpa." Farhan membalasnya dengan senyum ramah. Memang begitu pembawaannya saat berhadapan dengan anak-anak dari Tuan Haris.
"Tidak usah basa-basi, Farhan. Cepat kau katakan di mana adikku dan istrinya." William semakin naik pitam.
"Tuan Muda kedua sedang belajar," ucap Farhan dengan tenang. Seperti biasa, ia pura-pura menatap layar laptopnya sok sibuk.
__ADS_1
"Farhan! Tolong jangan terlalu formal, aku tidak akan macam-macam. Tolong kasih tahu di mana adikku." William memohon dengan penekanan.
"Lihat ini!" Farhan membalik layar laptopnya. William langsung terkejut bukan main.
Tidak jauh dengan ekspresi Papinya, ia juga sangat heran melihat seorang Reyno mau melakukan pekerjaan sekasar itu. Itu seperti bukan Reyno, namun jika diperjelas gambarnya, ia memanglah Reyno. Adik kandung William yang sudah berubah.
"Apa ini yang kamu maksud belajar? Mami akan menangis jika melihat anak kesayangannya melakukan pekerjaan semacam itu." William menyingkirkan laptopnya. Menatap Farhan agak marah. "Apa kau yang memberikan pekerjaan tidak layak itu untuk adikku?"
"Bukan. Tuan Muda sendiri yang ingin melakukannya."
"Aku tidak percaya!" William murka. Biarpun ia jarang peduli dengan adikknya. Namun ia tidak rela melihat adik kandungnya melakukan pekerjaan tidak berkelas seperti itu.
"Tuan Muda sedang belajar menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab. Tidak ada yang tidak mungkin."
"Bawa aku ketempat Reyno! Aku ingin menemuinya."
"Tidak bisa!"
"Ayolah, Farhan. Kamu sudah ku anggap seperti kakakku. Aku tahu kau tidak akan setega itu padaku." William memelas lagi.
"Aku bisa saja mempertemukan kamu dengan Tuan Muda Reyno, asal jangan mengganggu Jennie lagi. Tuan Haris akan murka jika melihat kedua anaknya berebut satu wanita."
"Oke. Baiklah, aku hanya bertemu Reyno. Tidak akan menemui Sweetheartku." William pasrah. "Tepati janjimu!"
"Baik Tuan Muda." Farhan bangun dari singgahsananya. Lalu berjalan mendekati William. " Tuan Muda, anda sudah saya anggap seperti adik kandungku sendiri, tolong jangan membuat masalah yang tidak diinginkan. Sebaiknya anda batalkan rencana menggugurkan kandungan tunanganmu, sebelum saya bertindak lebih," bisik Farhan sambil menyunggingkan senyum licik.
Sial! Bagaimana dia bisa tahu?
Bukan Farhan namanya kalau tidak dapat mengontrol kegiatan adik angkatnya di luar sana. Pria itu memiliki koneksi yang cukup luas. Itulah hebatnya Farhan.
***
Note author: Oh, ya... aku pernah bilang, kan? kalo cerita ini aku dedikasikan khusus buat kalian. Biasanya aku kalau mau buat cerita semaunya aku gitu. Tapi kali ini aku akan membuat cerita bersama kalian. Beberapa usul-usul kalian akan saya masukan di sini. Contohnya ada yang mau Jennie punya bayi kembar? Aku turutin. Mau 200 chapter? Aku turutin. Selama keinginan kalian masuk akal dan nyambung sama outline nya, pasti aku turutin. Ada beberapa coment dari kalian yang udah turutin, dari visual, reques ini itu. It's oke.
Mari membuat novel bersamaku.
Aku ucapin terima kasih banyak pada kalian semua yang sudah ikut andil dan memberikan ide-ide di dalam komentar.
Kapan lagi bisa membuat cerita bersama?
__ADS_1
Hanya di sini....
Follow instagram aku ya, biar bisa lebih dekat menyapa kalian. @anarita_be