
"Farhan!" William menggedor-gedor paksa kamar Farhan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun pria itu belum keluar dari kamarnya. Tidak biasanya Farhan seperti ini, ia selalu bangun pagi dan tepat waktu. Seharusnya hari ini mereka akan mengunjungi lokasi proyek, tapi Farhan tidak ada kabar. Membuat William khawatir saja.
"Ada apa?" Farhan membuka kamarnya. Masih mengenakan piama tidur, boro-boro mandi. "Kepalaku pusing sekali, sepertinya aku tidak bisa ikut berkunjung ke lokasi proyek.
Farhan segera kembali ke kamar, membaringkan tubuhnya sambil memegangi kepala. William yang masih tidak percaya segera menyusul Farhan, baru kali ini ia melihat Farhan seperti itu. Pria gunung es bisa sakit, itu ajaib bin aneh menurut William. Bahkan ia sampai menganga heran.
"Badanmu panas, Farhan. Ini aneh sekali. Kenapa kamu bisa sakit?" William berkomentar nyeleneh saat memegang dahi Farhan yang ternyata panas sekali.
"Aku manusia, tentu saja bisa sakit." Farhan menendang William yang terlihan bercanda-canda saat bicara.
Farhan memang tipe pria yang jarang sakit, namun sekalinya sakit cukup parah. Kepalanya berat dan tubuhnya susah untuk diajak bangun.
"Aku akan memanggil dokter, bertahanlah." Nada sura panik William di buat sedramatis mungkin seolah Farhan mau mati saja. Farhan langsung melempar bantal dengan kesal ke wajah william. Kurang ajar memang anak itu.
"Bodoh! Jangan bercanda, aku benar-benar sakit," geram Farhan emosi. "Panggilkan aku pelayan, aku tidak suka dokter ataupun obat. Aku butuh pelayan, cepat panggilkan staf hotel."
"Baiklah ... baiklah. Jangan mati dulu." William segera keluar dari kamar Farhan. Lalu keluar ruang VIP dan mencari staf yang lewat di lorong.
Dipikir-pikir William bodoh juga ya, kenapa ia tidak menelpon saja dari dalam. Huh, gara-gara panik ia mendadak bodoh begini. Tak berapa lama ada staff wanita lewat, William langsung menarik gadis yang sedang mendorong troly kosong itu.
"Ke ruang VIP 001 sekarang. Ikutlah denganku, ada pasien gawat darurat, ucap William nyeleneh. Ia menarik paksa kerah baju gadis itu, lalu membawanya memasuki ruangan di mana mereka bertiga menginap.
"Tu... ttuan, saya bukan dokter. Saya hanya kariawan part time," ucap gadis itu ketakutan.
"Tidak papa, cepat masuk ke dalam kamar itu. Lalu ikuti perintah Tuan yang ada di dalam, dia sedang sakit." William mendorong tubuh gadis itu sampai menempel pintu.
Sialan, kenapa aku di tarik ke ruangan mewah ini, aku kan hanya menggantikan temanku sehari karena tak punya ongkos ke Jakarta.
__ADS_1
"Cepat masuk!" Mendorong gadis itu ke dalam kamar Farhan. "Aku dan Tere akan pergi ke lokasi proyek sekarang, cepat sembuh. Aku telah membawakan pelayan yang cocok untukmu." Pintu tertutup.
Farhan membuka matanya perlahan, menatap nanar seorang gadis yang ada di hadapannya. Sialan, kenapa wanita?
"Pergi kamu dari sini, panggil orang yang menyuruhmu ke sini tadi!" Farhan masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Mau bangun saja rasanya susah, padahal tadi ia masih bisa membukakan pintu untuk
"Baik tuan," gadis itu segera pergi ke keluar. Mencari William yang menyuruhnya masuk tadi. Sialnya William sudah pergi, ia langsung buru-buru keluar, bahkan meninggalkan Tere yang masih tidur di kamarnya. Gadis itu kembali lagi ke kamar Farhan.
"Maaf Tuan, orang yang tadi tidak ada di sini. Sepertinya sudah pergi." Gadis bertuliskan name tag Bella itu menundukkan kepalanya takut.
"Ambilkan air hangat! Aku haus," keluh Farhan sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. "baik Tuan," Gadis yang sedang menyamar itu berjalan menuju dispenser di pojok kamar Farhan. Lalu mengambil air panas untuk Farhan.
"Ini Tuan." Gadis itu mengulurkan segelas air panas. Farhan bangun dengan susah payah.
Prang!
"Kau mau membunuhku ya?" Farhan melirik name tag gadis itu, ada nama Bella di sana, namun bukan nama aslinya. Karena dia hanya menggantikan temannya.
"Maaf Tuan ... maaf." Gadis itu menunduk ketakutan.
***
Tiga puluh menit kemudian. Suasana menjadi semakin kacau, Farhan langsung menelpon managar hotel dan menyuruh datang ke kamarnya sekarang juga.
"Maaf kami Tuan, pengawas kami lalay dan membiarkan orang lain menyamar menjadi staff kami, saya pastikan staff kami yang bernama Bella akan di pecat." Manager itu menunduk takut.
"Tinggalkan aku sendiri, aku ingin bicara dengan gadis penyamar ini."
__ADS_1
"Baik Tuan." Manager itu pergi mennggalkan kamar Farhan.
"Siapa nama mu?" Menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.
"Nama saya Lisa, Tuan."
"Saya akan melaporkanmu ke polisi, dengan tuduhan penipuan dan kekerasan.:
"Tuan! Maafkan saya, saya terpaksa melakukan ini. Saya butuh uang untuk pulang ke Jakarta."
"Berapa umurmu?"
"Tujuh belas tahun, Tuan."
"Cih! Pantas saja kau bodoh. Dengar ya anak kecil, hotel ini bukan tempat untuk bermain-main. Setiap kariawan yang bekerja di sini harus melalui tes uji coba. Kau jauh dari kata laya, bahkan membahayakan keselamatan orang." mengingat kembali saat gadis kecil itu memberinya air panas. Cangkir yang di gunakan Farhan terbuat dari bahan yang anti panas, sehingga saat ia pegang tidak tahu kalau ternyata dalamnya panas.
"Maaf Tuan, saya salah."
"Jika kamu butuh uang, mintalah pada orang tuamu, bukan memaksakan bekerja dan membahayakan orang lain."
"Maaf, saya yatim piatau, tidak memiliki orang tua."
Deg. Jantung Farhan rasanya terpukul keras. Ia menatap gadis kecil yang sedang menangis sambil menunduk.
Kenapa hatiku mendadak tidak nyaman begini?
***
__ADS_1
Besok ku edit lagi ya, ini aja maksain up. Saya lagi kurang enak badan.