
***
"Terus saja kamu belain istri kamu, Reyn." Mami mencebik kesal. "Kamu lebih sayang orang yang baru kamu kenal di masa dewasa ketimbang ibu yang membesarkanmu dari kecil. Dari saat kamu masih berada di dalam kandungan, malah." Mami menyerang Reyno dengan kata-kata mematikan.
"Ya Tuhan, Mam. Kenapa bicara seperti itu? Kasih sayang seorang pria kepada ibu dan istrinya tidak bisa dibandingkan dengan cara seperti itu, Mam. Reyno menyayangi Mami dan Jennie dengan cara yang berbeda. Tidak sama. Mungkin, karena waktu Reyno banyak dihabiskan untuk istri dan anak, jadi Mami berfikir kalau Reyno tidak sayang Mami lagi. Padahal, Reyno selalu ingat Mami setiap saat. Bahkan ketika Reyno tidak sengaja melihat ibu-ibu yang seumuran dengan Mami di jalan, Reyno selalu ingat Mami."
Reyno berkata lagi, "Jangan hanya karena Mami tidak suka dengan Jennie. Mami sampai meragukan kasih sayang Reyno untuk Mami. Reyno tidak suka, Mi! Reyno tulus sayang Mami dari dulu. Tidak pernah berkurang sedikitpun."
Mami sedikit tertegun mendengar penuturan anaknya. Hatinya begitu runtuh sekaligus bangga. Apakah ini sudah saatnya? Apakah ia harus berdamai dengan keadaan? Menerima menantunya dengan hati lapang. Rasanya berat, apa lagi jika mendengar cemoohan bahwa mantunya adalah anak seorang pembunuh. Mami merasa berat untuk mengakui Jennie sebagai menantunya.
"Iya. Mami tahu kok kalau kamu sebenarnya sayang Mami. Tapi Mami tidak suka kamu belain istri kamu terus. Bagaimanapun juga Mami itu ibumu Reyn, masa kamu terus memojokkan Mami begini, seolah istri kamu jauh lebih baik dari ibu kandung kamu sendiri," protes Mami Dina kesal.
"Tidak ada yang memojokkan Mami. Reyno hanya memberitahu yang sebenarnya. Jika bukan Jennie yang menjadi istriku, tidak mungkin anak manja Mami akan berubah drastis seperti ini. Selain Mami, hanya Jennielah satu-satunya wanita yang dapat menghadapi segala tingkah laku Reyno yang menyebalkan. Menerima kekurangan Reyno yang banyak sekali."
Mami merangkum wajah anaknya bangga. "Anak Mami tidak memiliki kekurangan, di mata Mami kamu sempurna Sayang."
Meraih kedua tangan Maminya, Reyno mengecup lembut permukaan tangan halus seorang ibu yang pernah melahirkannya ke dunia. "Terima kasih, Mam. Reyno tahu Mami begitu menyayangi Reyno sampai merasa bahwa anakmu bagaikan berlian yang sangat berharga. Tapi Reyno masih banyak kekurangan, butuh banyak belajar."
"Mam, untuk kali ini Reyno mohon ... berdamailah dengan Jennie. Mama sayang sama Cilla dan Cello kan? Mereka pasti sedih kalau melihat grandmanya membenci ibu kandung mereka. Mungkin sekarang belum mengerti, tapi suatu saat mereka akan paham. Tentan alasan mengapa mamanya tidak mau diajak kerumah nenek dan kakeknya."
__ADS_1
Tertegun, mami menelan salivanya sendiri. Ia sedikit kagum dengan ucapan tulus anaknya.
"Mami masih belum bisa, Reyn. Selain beda kasta, mami juga tidak sudi mengakui anak seorang pembunuh itu sebagai menantu."
"Ya Tuhan Mam!" Reyno kembali dibuat geram dengan pemikiran Maminya. "Yang membunuh itu ayahnya. Jennie tidak tahu apa-apa. Bahkan ia masih belum lahir saat kejadian itu. Reyno tahu Mami itu pintar, berpikirlah dengan bijak, Mam."
Memang begitulah hidup. Jika orang tua kita memiliki masa kelam yang buruk. Orang akan terus mengecap buruk hingga keturunannya juga. Bahkan masyarakat sendiri, masih berpegang teguh pada pemikiran kolot seperti itu.
"Sama saja, Reyn. Gosip tentang kejelekan istrimu sudah menyebar di kalangan sosialita dan teman-teman Mami. Mami malu mengakui Jennie sebagai menantu. Apa lagi dia beda kasta dengan keluarga kita."
Jujur saja, Mami Dina juga sering menjelekkan menantunya sendiri. Agar para ibu-ibu sosialita membela dirinya dan tidak menyangkut pautkan keluarga Haris dengan keluarga Hermawan yang berantakan.
"Ya Tuhan, Mam." Reyno masih berfikir keras. Bagaimanapun caranya ia harus bisa mendamaikan istri dan Maminya.
"Dan untuk alasan kedua, Reyno justru sangat bersyukur. Meskipun keluarga Jennie tidak sekaya keluarga Haris, ia selalu berusaha menjadi ibu yang baik untuk Cello dan Cilla. Tidak suka pergi-pergi keluar seperti menantu sosialita yang lain." Secara halus Reyno menyindir menantu mami Dina yang satunya lagi. Yaitu, Tere."
Reyno bangkit dari posisi bermanja-manjaan dengan maminya. Wajah pria itu terlihat begitu kesal pada Maminya.
"Kalau Mami tidak mau mengakui Jennie sebagai menantu Mami, itu artinya Mami juga tidak ingin melihat anak bungsu Mami bahagia. Karena kebahagian Reyno sangat sederhana, yaitu melihat semua keluarga Reyno damai tanpa ada persiteruan."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu. Reyno berbalik menuju pintu keluar. Maksudnya ingin maminya merenungi semua kata-katanya.
"Reyn, tunggu!" seru Mami seraya meremas jemarinya. Reyno berbalik dan melihat Maminya yang begitu gugup.
"Mami akan coba!" Reyno memiringkan sedikit kepalanya. Menyerngit bingung karena ucapan Maminya masih belum jelas.
"Mami akan coba berdamai dengan istrimu, Mami akan coba mengakui Jennie sebagai menantu Mami," ujar mami Dina dengan wajah arogan ciri khasnya.
"Benar yang Mami bilang tadi?" Reyno terperanjat kaget, lalu tersenyum bangga begitu melihat anggukkan konfirmasi dari sang mami.
"Makasih, Mami!" Pria itu langsung menghambur kepelukkan Maminya.
"Ingat ya, Reyn. Mami mau mencoba damai hanya demi kamu, bukan yang lain," ujarnya angkuh.
"Terima kasih, Mam. Terima kasih atas kemurahan hati Mami." Meskipun masih terlihat angkuh, setidaknya usaha Reyno untuk membujuk Maminya berhasil.
Tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus tanpa sandungan. Meskipun terlihat harmonis, Reyno dan Jennie memiliki banyak berkara setiap harinya. Hal itu datang pergi silih berganti. Menjadi bumbu untuk memperkuat rumah tangga mereka agar semakin kokoh.
Jennie hanya segelintir wanita dari ribuan wanita lain yang memiliki persamaan perkara. Pada dasarnya, menikah tidak hanya mempersatukan dua insan, akan tetapi ada dua keluarga yang berbeda pemikiran yang harus dipersatukan. Banyak para pasangan yang merasa pusing, bukan pusing pada istri atau suaminya. Tapi pusing pada keluarga pasangan mereka sendiri yang tidak bisa sependapat.
__ADS_1
***
Bahkan, author sendiri sempet mikir pen punya suami yatim piatu karena author takut liat orang-orang yang udah nikah pada bersiteru dengan keluarga pasangannya. Banyak juga yang bercerai karen gak kuat, apa lagi kalau pikah cowok lebih milih keluarganya dari pada sang istri.Hehe