
Jam menunjukan pukul dua belas malam, di manas sebagian mahluk sudah berpindah tempat ke alam mimpi. Tapi tidak untuk Reyno dan Jennie, dua bocah gila itu sedang berdiri di depan halaman kontrakannya. Apa lagi yang mereka lakukan di tengah malam? Tahu kan, seperti apa dinginnya kota Bandung di malam hari.
Semua ini gara-gara kecoa yang hinggap di tubuh Reyno saat tidur, cowok itu terkejut dan teriak bukan main. Mungkin teriakannya sampai terdengar tetangga di sebelahnya. Abaikan. Masalah bukan hanya itu, Reyno tidak mau masuk lagi ke dalam rumah. Itu duduk perkara terberatnya.
Reyno minta pindah rumah sekarang juga. Gila kan? hanya masalah kecoa saja harus pindah rumah. Ini kecoa, bukan jenglot. Tidak perlu takut begitu. Haissssh.
“Reyn, dingin banget ini.” Brrrrr ... Jennie memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan. Mulutnya terus menguap menahan rasa kantuk. “Masuk yuk!”
“Gak mau, Pokonya aku mau pindah rumah sekarang!”Lagi-lagi dijawab dengan kalimat yang sama. Hati kecil Jennie menjerit, mengumpat serapah sebanyak mungkin.
“Plisss, Reyn. Aku ngga tahan, dingin banget!”
“Ya udah, sana masuk.” Ini artinya jangan masuk. Catat.
“Beneran aku boleh masuk?”
“Terserah!” Kata-kata pamungkas, itu artinya Reyno lelah, dunia Jennie akan porak poranda jika ia benar-benar meninggalkan Reyno. Sekali lagi ini adalah kalimat jebakan. Catat.
Kalau Reyno sudah ngomong ya sudah, terserah, itu artinya Jennie harus mengikuti kemauan Reyno, apapun itu.
Melayangkan pertanyaan ter—aman.
“Sebenarnya kamu maunya gimana, sih?”
“Mau pindah!”
“Sudah gila, ya? Hanya karena kecoa ingin pindah. Apa kamu gak tahu, susahnya cari kontrakan kayak apa?”
“Ngga tau lah,” cetusnya datar.
Tentu saja jawabanya adalah tidak, Jennie bodoh karena sudah melayangkan pertanyaan semacam itu. Rumah Reyno saja bertebaran di mana-mana. Hiksss. Jennie kalah.
“Masuk!”
“Ngga mau!”
“Masuk!”
“Gak!”
“Pergi sana!” Kesal.
“Oke!” ucap Reyno angkuh. Jennie menarik tangan Reyno saat ia hendak pergi. Berfikirlah, berdebat tidak akan membuat Reyno luluh. Pikir Jennie dalam hati.
“Kecoa bisa diusir, tapi kalau kita terus di sini, bisa-bisa kita yang diusir warga. Ayo masuk, pasti sekarang kecoanya sudah pergi,” rayu Jennie dengan segenap jiwa dongkol yang ia sembunyikan rapat-rapat. Sementara Reyno masih setia berdiri, seolah kulitnya terbuat dari kulit badak yang anti kedinginan.
“Reyno takut!” Menatap Jennie penuh binar. Matanya tidak berbohong kalau ia memang benar-benar takut.
__ADS_1
Sialan, selalu saja pasang muka melas begitu. Bikin aku luluh saja.
Sebenarnya ada alternatif lain, yaitu menginap di hotel. Namun persediaan uang mereka sudah sangat menipis, sewa kamar di hotel lumayan mahal. Sayang uangnya, bisa di pakai untuk makan dua hari kan.
Terpaksa harus menggunakan metode kedua, yaitu trik bucin level seratus. Cara yang paling ampuh untuk mengatasi mahluk jadi-jadian seperti Reyno.
“Sekarang coba kamu tutup mata kamu,” Aksi bucin di mulai. Jangan di tiru, hanya sebuah adegan khusus untuk mengatasi spesies manusia langka.
“Mau ngapain tutup mata?” .Menyerngitkan dahinya tidak suka. Namun Reyno patuh dan langsung menutup matanya. “Sudah.”
“Aku punya cara agar kamu lupa sama kecoa.”
“Gimana caranya?”
“Terus pejamkan mata dan jangan sampai di buka, lupain kecoa! pikirin wajah aku, pokonya hanya aku yang kamu lihat sekarang.” Cih! Geli sekali aku mengatakanya. Jennie meraih tangan Reyno perlahan, menariknya masuk ke dalam rumah kembali, dan hebatnya itu berhasil. Bukan main girangnya seorang Jennie.
“Masih mikirin aku ngga?” hardik Jennie.
“Iya, masih.”
Idiih. Di jawab iya lagi, hahhaha. Aku Mau ngakak sekaligus malu.
Ini bukan hipnotis, hanya semacam sugesti tidak jelas ala cewek tomboy. Sekarang mereka sudah berhasil masuk ke dalam kamar.
“Aku tahu kamu lagi mikirin ketakutan kamu pada kecoa, mulai sekarang, aku ngga ngizinin kamu mikirin apapun, kecuali mikirin aku. Yang harus kamu takutin itu istri kamu, bukan kecoa.” Lanjutkan.
“Engga, aku mikirin kamu kok. Serius. Tapi memang aku takut.” Jennie tahu itu, ia melihat tangan Reyno yang masih gemetar sedari tadi.
“Apa?”
Cup ... Cup ... Cup ... Cup ...
Menghujani kecupan bertubi-tubi di wajah Reyno. Dia tersenyum, lupa sudah ketakutanya pada kecoa. Beri tepuk tangan untuk Jennie sekarang juga.
“Jangan pernah mikirin apapun selain aku, sekalipun itu kecoa. Aku ngga suka,”
Cih! Rasanya aku ingin menampar mulutku sendiri sampai bonyok.
“Kamu cemburu?”
“Iya! Aku cemburu karena kamu lebih takut kecoa dibangkan aku.”
Tenggelamkan aku ke dasar laut, please!
“Hahaha, kamu lucu. Mau lagi, dong.” Kali ini Reyno membuka mata, tentu saja ia sadar kalau sudah berpindah tempat di kamarnya. Berhasil kan.
“Apanya yang lagi?”
__ADS_1
“Cium lagi yang banyak, Reyno suka.”
Cup ... Cup ... Cup ... Cup ... Cup ... Dua puluh kali.
“Udah kan, udah gak takut kecoa? Lihat! udah ngga ada kecoa lagi kan di kamar?” Jennie mengajak Reyno untuk mengedarkan pandanganya. Kepala mereka berputar mencari-cari sosok kecoa yang entah pergi kemana.
“Tapi kalau nanti datang lagi gimana?”
“Ada aku! Jangan takut, aku kan udah janji mau lindungin kamu. Kamu tidur duluan, biar aku yang jagain kamu.” Tentu saja ini bohong, hanya trik agar cepat mengakhiri kegiatan malam yang melelahkan ini.
Sekarang mereka sudah kembali ke posisi semula, berpelukan bagai telletubies di bawah selimu.
“Jennie!”
“Enggg ....” Menggeliat dan semakin mengeratkan pelukanya di tubuh Reyno.
“Katanya mau jagain aku, kenapa kamu tidur duluan. Jennie nyebelin banget sih,” Mencebik masam.
“Aku jagain kamunya di alam mimpi.” Pinter .
“Ko gitu?” Reyno sudah hampir malam kembali. Jennie dapat merasakan walau matanya terpejam. Buru-buru ia menggunakan trik bucinya sekali lagi.
Cup ... Cup ... Cup ... Cup ... Sepuluh kali di bibir Reyno.
“I Love u Oppa,” lirihnya.
Eh, Cowok itu langsung senang bukan main, entah dari siapa Jennie mendapatkan kata oppa. Yang jelas hati Reyno serasa melayang- layang di udara. Lama kelamaan Jennie semakin imut. Apa lagi kalau sedang merayu Reyno.
“Jennie buka matanya sebentar,” Menusuk-nusuk pipi cabi istrinya dengan telunjuk. Jennie kemudian membuka setengah matanya.
“Apa lagi?” lirih Jennie sekali lagi.
“Jennie sudah cinta sama Reyno?”
“Hampir.” Asal kamu jangan nyebelin terus-menerus.
“Oke lah, Reyno juga akan berusaha cinta sama Jennie.” Mengusak rambut kepala Jennie seperti kucing. Malam ini si gadis tomboy terlihat sangat imut di mata Reyno. “Tapi Reyno ngga bisa tidur. Gimana ini?”
Cup!
Satu kecupan sekali lagi mendarat di kening Reyno. Jennie menarik kepala Reyno lalu membenamkanya di dada.
“How you like that?”
Reyno mengangguk senang. Lalu memejamkan mata di pelukan Jennie.
***
__ADS_1
Bonus yang lagi mimpi indah.