
Gadis pengacau sahabat Jennie sudah datang. Ren memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Agar lebih leluasa kangen-kangenannya. Toh malas juga melihat para wanita bergosip, pembicaraan mereka kan tidak jauh dari hal-hal seperti itu. Terlebih Reyno paling benci melihat cewek yang bar-barnya di atas Jennie. Melihat kelakuan istrinya saja suka pusing sendiri.
Maka di sinilah Reyno sekarang, duduk bersama Farhan di pavillun pribadi mereka bertiga, tempat khusus ketipa pria kesayangan Mami Dina dan Papi Haris. Sementara bunda sudah diantar pulang oleh supir. Kedua kaka beradik itu menghubungi Farhan secara bersamaan. Terpaksa ia harus menyudahi acara kangen-kangenannya dengan bunda.
"Apa apa memanggilku?" Farhan yang sudah paham dengan sikap Reyno langsung bertanya seperti itu. Tidak hanya Reyno, William juga mengajak Farhan bertemu. Pasti dua kakak-beradik itu memiliki masalah yang tidak dapat diatasi sendiri. Makannya mencari bantuan Farhan.
"Eh, ada boneka bergerak," cengir William yang baru datang dan melihat adiknya. Reyno bahkan belum mulai cerita. Namun William sudah datang mengejutkan mereka berdua.
Wajahnya William penuh luka, seperti ada bekas tonjokkan beberapa kali di kedua pipinya, kantung matanya juga membiru. Juga ada bekas darah di sudut bibirnya yang robek.
"Kakak kenapa?" tanya Reyno heran. Ia sedikit meringis ngilu melihat wajah William yang babak belur. Reynopun memilih menunda curhatnya, biar kakaknya cerita terlebih dahulu.
"Ini namanya lelaki, bukan yang suka melukkin boneka dan merebut pacar orang," sindir William sambil membanting tubuhnya ke sofa, duduk bersebalahan di samping Reyno.
Huh. Kalau tidak sedang luka sudah ku gigit kamu kak, lihat saja, sebentar lagi aku akan segera menghancurkan perasaanmu lebih da**lam. Banti Reyno sambil menyunggingkan bibirnya.
"Mau diobati dulu?" Farhan sudah hampir bangun mengambil kotak obat.
"Jangan! Lukaku tidak seserius masalahku. Langsung keintinya saja. Besok pagi aku akan menikah dengan Tere."
__ADS_1
"Menikah?" Reyno sudah menohok. Dia tidak salah minum obat kan, kenapa tiba-tiba ingin menikah secara dadakan. Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya Reyno ketinggalan berita hangat.
Reyno melirik ke arah Farhan. Pria dingin itu hanya diam, mendengarkan cerita William selantunya. Tuh kan, Farhan pasti sudah tahu kejadian apa.
"Jangan senang begitu bodoh!" dijewernya kuping Reyno. William menatap sinis melihat ekspresi wajah Reyno yang kaget bercampur senang. William akan menikah, itu artinya ia tidak akan mengganggu Jennie lagi.
"Apaan sih. Lagian siapa yang gak kaget dengar orang kayak Kakak mau menikah. Mengurus pacar saja tidak becus, apa lagi ngurus istri coba. Malang banget Kak Tere yang jadi istrinya."
"Sudah-sudah, lanjutin ceritanya!" Farhan yang merasa acara curhat akan berubah menjadi pertengkaran langsung bertindak. Kedua manusia yang tidak tahu porsinya itu bisa lebih parah lagi kalau tidak segera dilerai.
Begitulah hubungan persaudaraan. Dekat saling menyakiti, jauh rindu. Hampir terjadi di seluruh kalangan manusia.
"Aku baru saja cerita kalau Tere hamil dua bulan pada ayahnya."
"Bisa diam tidak!" Diraupnya wajah Reyno dengan kesal. "Kalau tidak mau diam pergi saja kamu, Reyn." Ada bantal sofa yang William lemparkan ke wajah Reyno selanjutnya.
"Baguslah, itu artinya kau sudah dewasa. Bisa mempertanggung jawabkan masalahmu sendiri." Farhan menimpali.
"Huh, tapi wajahku sampai babak belur begini dipukuli oleh calon mertua sialan itu."
__ADS_1
"Bagaimana ceritanya Kakak bisa sampai menghamili Tere? Kalian kan tidak saling cinta."
Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Reyno. Dipoin ini Farhan juga sedikit penasaran, pasalnya ia hanya tahu kalau Tere sedang hamil. Untuk duduk perkaranya sendiri ia tidak paham sama sekali.
"Panjang ceritanya, intinya aku adalah korban."
"Hah?" Farhan dan Reyno menohok secara bersamaan. Ada ya, cowok menjadi korban. Sementara yang hamil kan wanitanya.
"Sudah jangan dibahas, biarkan itu menjadi rahasia kami. Intinya aku butuh solusi sekarang. Tadinya aku mau bertanggung jawab dengan menikahinya, tapi setelah dipikir-pikir aku takut tidak dapat menjalani pernikahan kami dengan baik. Pernikahan tanpa dasar cinta pasti akan kacau."
"Kalau begitu kabur saja, biarkan Farhan menjadi penggantinya. Diakan sudah waktunya menikah tuh,."
"Tuan Muda!" Kalimat sopan penuh amarah itu keluar dari mulut Farhan. Reynopun membalasnya dengan seringai lucu.
"Di drama yang aku tonton banyak yang seperti itu loh, calon suami kabur di hari pernikahan. Lalu digantikan oleh saudaranya, barang kali saja hidup Tere jadi lebih baik saat menikah dengan Farhan. Biasanya juga akan ada cinta setelah duka." Anak sok bijak itu memberikan wejangan yang semakin memperkeruh suasana. Sekarang yang kesal bukan hanya Willam. Farhan juga ikut emosi dengan mulut nyeleneh Si Bungsu.
"Bisakah Anda masuk ke dalam kamar saja! Sepertinya anda lebih cocok bermain boneka barbie daripada membahas hal dewasa seperti ini. Wahai-Tuan-Muda-Kedua!" Farhan mengeja dan memberikan kalimat penekanan di kalimat terakhirnya.
Huh. Memang apa salahnya mengikuti cerita di dalam drama. Itu juga kutipan kehidupan manusia kan?
__ADS_1
***
Like dan vote nya dong, ku up lagi nih. Hahaha.