Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Dapat kerjaan


__ADS_3

Sekitar sepuluh menit kemudian Jennie keluar dari dalam kamar mandi. Dilihatnya Reyno sedang sibuk menyiapkan beberapa makanan di atas meja. Gadis itu sedikit bingung melihat ada banyak makanan jadi yang Reyno siapkan, membuat hatinya bertanya-tanya dan dipenuhi rasa curiga. Lupakan! nanti saja bertanyanya, sehabis ia ganti baju. Jennie masuk ke dalam kamar, Reyno melirik sedikit lalu melakukan kegiatannya kembali.


Otak Jennie mendadak panas ketika ia masuk ke dalam kamar. Benda mencolok yang Reyno letakkan diatas kasur membuat amara gadis itu kembali membabi buta.


"Reynoooooo!" teriak Jennie emosi. Cowok itu tersenyum saat mendengarnya. Pasti Jennie sudah melihat pembalut aneh yang katanya ada sayapnya itu.


Hahaha. Reyno tertawa jahat.


"Kenapa, Je?" Reyno masuk, memasang tampang polos tak berdosa.


"Nanti malam kamu tidur di luar. Aku ngga mau tau, jangan tidur disamping aku."


Jennie menatap Reyno kesal. Sementara Reyno malah memasang wajah menggemaskan. Senjata yang bisa membuat hati gadis tomboy itu luluh seketika.


"Kenapa, loh? Memangnya Reyno salah apa sampai harus tidur di luar?" Sok imut.


"Kamu bilang salah apa! Jelas-jelas pembalut yang ada sayapnya ada. Kenapa kamu bilang gak ada, malah kasih pembalut biasa ke aku." Mungkin jika Reyno seekor semut, Jennie akan menginjak cowok itu sekarang juga.


"Siapa yang bilang pembalutnya ngga ada, Reyno cuma bilang jangan pakai yang sayap, takutnya kamu terbang tinggi ke atas awan."


Nyanyi lagi aku bunuh kamu Reyn!


"Jangan bicara sama aku!" Jennie berjalan acuh menuju lemari pakaian. Mengambil kaos dan celana pendek untuk di pakai. Gadis itu berjalan kembali ke kamar mandi untuk ganti baju. Jennie melihat makanan yang sudah tersaji rapih di atas meja.


Lihat saja, aku mau mogok makan! Ternyata selain manja kamu juga suka banget ngerjain orang.


Reyno jadi merasa tidak enak hati sendiri, niatnya hanya ingin iseng sekali-kali, tapi malah jadi begini akhirnya. Cowok itu menunggu Jennie di depan kamar mandi dengan muka bersalah. Waktunya tidak tepat Reyno, Jennie sedang tidak bisa diajak bercanda. Haid pertama itu sangat menyiksa. Selain perut sakit juga bawaanya selalu emosi. Mungkin lelaki tidak akan pernah memahami titik itu. Mereka hanya mau tahu bahwa


wanita harus selalu baik-baik saja setiap saatnya.


Jennie keluar dari kamar mandi, Reyno menatapnya dengan muka melas. Jennie membalas tatapan Reyno dengan wajah bengis.


Lihatlah, kamu memasang tampang andalanmu. Jangan kamu pikir aku tidak bisa marah ya, Reyn.


Berjalan melewati Reyno dengan acuhnya.

__ADS_1


"Jennie maaf...," lirik anak itu manja. Reyno memeluk Jennie dari belakang, membenamkan wajahnya di perpotongan leher sang istri. "Maafin Reyno karena udah ngejailin Jennie, aku ngga bermaksud bikin kamu emosi," ucap anak itu menyesal.


"Mau diulangin lagi ngga!" bentak Jennie sudah seperti ibu dan anak. Reyno menggeleng samar. Masih memeluk gadis itu dari belakang.


"Engga Jennie. Reyno janji ngga akan bikin kamu marah."


"Beneran?" sergah Jennie cepat. "Ngapain coba ngerjain aku, ngga lucu tahu!" Reyno dimaafkan. Terdengar dari nada suara Jennie yang berubah lembut kembali.


Huh. Aku ngga pernah bisa marah lama-lama sama kamu, Reyn. Engga tahu kenapa.


"Habisnya Jennie lucu dan menggemaskan, Reyno jadi pengin negrjain Jennie, deh." Jawaban jujur apa adanya.


"Untung kamu ganteng, jadi termaafkan," ucap Jennie tanpa sadar.


"Kamu bilang apa tadi?" Reyno tidak salah dengarkan, kan? Jennie memujinya ganteng untuk pertama kalinya. Wajah berubah ceria kembali. Semburat merah muncul di kedua pipi cowok yang sedang tersipu malu itu.


"Suami aku ganteng, dan aku ngga bisa marah lama-lama. Puas!" Jennie,mengusak pucuk rambut kepala Reyno. Anak itu membalasnya dengan mencium pipi Jennie lembut.


"Terima kasih sayang, Jennie juga cantik."


Stop dulu manja-manjaanya. Ada hal penting yang harus dijelaskan oleh Reyno saat ini juga.


Awas saja sampai kamu bilang dapat dari ibu-ibu genit itu. Sekalian saja kamu jadi istri mereka! Jangan dekat-dekat aku.


"Itu dapat ngutang di warung si Teteh itu. Makanannya juga dia yang kasih." Tidak salah kan? Reyno sudah jujur menjawabnya, namun Jennie berubah marah. Berbalik badan lalu menatap Reyno penuh rasa curiga.


"Jadi kamu main hati sama pemilik warung itu?" Tolong jangan salahkan gadis yang sedang berhalangan, memang begitu kelakuanya. Apa lagi kalau ada sesuatu yang tidak wajar seperti itu.


Katakan ia, maka kamu akan tahu akibatnya. Jennie bergumam-gumam lirih, namun dapat didengar jelas oleh Reyno.


"Huuh. Kamu selalu saja buruk sangka begitu, pemilik warung itu ngasih makanan karena masak terlalu banyak katanya. Adeknya janji mau datang kerumahnya, tapi tidak jadi. Makanya dia kasih makanannya buat kita.Suaminya merantau di Kalimantan, dia hanya tinggal berdua dengan istrinya.


Reyno menangkap kedua bahu Jennie, menuntunnya agar duduk untuk di meja makan.


"Awas ya, kalau kamu berani bohong, kamu tahu kan, kaya apa cewek datang bulan kalau lagi marah." Jennie melirik makanan lezat yang tersaji di depannya. Sudah lama ia tidak memakan makanan seperti itu. Hampir seminggu mere hanya makan mie dan nasi setiap harinya.

__ADS_1


"Mau disuapin apa makan sendiri?" Pertanyaan Reyno membangunkan Jennie dari lamunannya.


"Suapin!" ucapnya dengan wajah datar. "Aku lagi gak mood makan, perut aku sakit," keluhnya sambnil menyangga dagu.


"Baiklah Tuan Putri." Reyno menyuapkan satu sendok nasi ke arah mulut Jennie. Gadis itu merimanya dengan air muka yang masih datar.


"Semalam aku chat si Hendra, niatnya mau pinjam uang. Dia bilang mau pinjemin kita uang, tapi syaratnya aku harus kembali lagi ke jalur balap liar.


"Trus kamu mau?" Reyno sudah merubah ekspresi wajahnya. "Kapan kamu chat  Hendranya. Kok aku bisa ngga tahu?"


"Pas kamu udah tidur duluan semalam. Habisnya aku bingung, kita udah ngga ada pegangan uang sama sekali," ujar Jennie sambil menyendokan makanannya ke mulut sendiri. "Tapi aku belum mau kok, Reyn. Menurut kamu gimana? Aku boleh balapan liar lagi ngga?" tanya Jennie hati-hati.


"Ngga bisa! aku gak ngizinin kamu terjun ke dunia ilegal."


"Tapi kita ngga punya uang, Reyn" Jennie menjeda ucapannya, "apa lagi kita punya hutang di warung. Mau bayar pakai apa coba?" Mencoba menjabarkan logika, agar Reyno mau mengerti dan mengizinkanya untuk judi balap liar kembali.


Reyno menghela lembut. Mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantongnya. "Besok aku mau coba kesini, kata Teteh pemilik warung lagi butuhin banyak tenaga kerja baru. Jadi kamu ngga perlu khawatir masalah hutang kita. Pasti nanti kebayar." Menyodorkan sebuah kartu nama yang ditulis dengan tulisan tangan. "Itu nomor hapenya."


"Kerja apa" tanya Jennie penasaran.


"Jadi kuli bangunan katanya."


"Hah?" Jennie melongo kaget. "Kamu itu ngga tau kayak apa rasanya kerja jadi kuli bangunan. Aku ngga setuju, jadi kuli itu capek." Jennie melipat kedua tangannya di depan dada. Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Aku akan coba, ngga pa-pa capek. Izinin aku kerja di sana, kamu kan tahu aku cuma tamatan SMP. Kerja di sana ngga perlu ijasah yang tinggi. Ini kesempatan  buat aku.


"Tapi aku ngga bisa biarin kamu kerja seperti itu. Kamu masih remaja, Reyn. Badan kamu bisa rusak kalau kerja sekasar itu."


"Ngga masalah. Aku sering olahraga berat, biarpun aku manja dan takut panas."


"Tapi, Reyn—."


"Please! Izinin aku." Reyno meraih tangan Jennie, menggenggamnya dengan sorot mata tulus. "Setidaknya aku harus mencoba, masalah kuat engganya bisa dilihat nanti. Yang penting aku harus coba dulu."


Tatapan tulus Reyno akhirnya meluluhkan hati Jennie. "Baiklah, aku izinin kamu mencoba pekerjaan itu. "

__ADS_1


****


Ayo dong, yang baca bab ini like semua, biar aku tahu ada berapa banyak. ❤ Nya jangan lupa juga.


__ADS_2