Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Panas


__ADS_3

William benar-benar memcekik adiknya saat itu juga. Akhirnya kedua kaka beradik itu saling cakar- mencakar di dalam mobil. Padahal keduanya baru saja kangen-kangenan melepas rindu. Sekarang sudah bertengkar kembali. untung tidak ada Mami, ibu beranak dua itu bisa darah tinggi kalau melihat kelakuan kedua anaknya.


Keduanya baru berhenti bertengkar saat William mendapat telepon darurat secara tiba-tiba. Staff di hotel tempat William menginap mengabari bahwa Farhan keracunan obat. Entah bagaimana ceritanya, Farhan bisa seperti itu. Yang jelas ia sudah dilarikan ke rumah sakit, walau efek obat itu tidak terlalu parah.


"Farhan keracunan obat!" William mulai menyalakan mobilnya kembali. "Kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Tunggu, Kak. Aku mau ajak Jennie." William menoleh heran pada adiknya.


Apa hubungannya Jennie dengan Farhan, kenapa harus mengajak Jennie segala? Ah sudahlah, yang penting William bisa melihat Sweetheartnya. Kebetulan sekali kalau Reyno mengajak Jennie. William kan sedang rindu berat pada adiknya itu.


"Di mana tempat tinggalmu?" tanya William sambil menurunkan laju mobilnya. Dalam hati William bersorak hore. Akhirnya ketemu Sweetheart.


"Di gang depan. Aku sudah chat Jennie, dia sedang berjalan ke jalan besar." Mobil William berhenti di sisi jalan, tepatnya di gang tempat kontrakan Reyno dan Jennie. Karena gangnya tidak bisa dilalui mobil, terpaksa Jennie harus jalan kaki menuju jalan raya.


Sekitar lima menit kemudian Jennie muncul dari jalan setapak. Gadis itu berjalan dengan cepat ke tempat di mana suaminya sedang berdiri. Reyno juga sudah mengganti bajunya kerjanya dengan setelan yang dibawakan William, alias memakai baju kakaknya.


"Sweetheart!" William langsung memeluk gadis itu tanpa memperdulikan Reyno yang sedang berdiri di sampingnya. "Kamu apa kabar?" Merangkum wajah Jennie dengan kedua tangannya.


"Kakak!" Reyno menarik tangan kakaknya. "Jennie sudah turun ranjang kak, sekarang dia milikku." Reyno menarik tangan Jennie dan menyembunyikan istrinya di belakang punggung.

__ADS_1


"Sialan! Kau pikir kakakmu ini sudah mati?" William menendang kaki adiknya kesal.


"Kamu memang sudah mati William. Mati di hati istriku!" tukas Reyno kesal. Beginilah mereka kalau sudah berantem, Jennie mendadak sakit kepala melihat tingkah mereka berdua.


"Stop!" bentak Jennie melerai kedua kakak beradik itu. "Kenapa dengan pipi kalian? Apa kalian bertengkar lagi?" Jennie memperhatikan pipi Reyno dan William, ada bekas tamparan di sana. Ia sampai menggelengkan kepalanya heran. Ya Tuhan, ketenanganku berakhir kalau kedua kaka beradik gila ini sudah berkumpul.


"Sayang, aku ditampar mantan gilamu." Reyno melingkarkan kedua tangannya di pundak Jennie sambil menaruh kepalanya di pundak Jennie.


"Jangan pamer kau setan!" William menarik baju adiknya. "Cepat masuk! Kaka angkat kita mungkin sudah mati di sana." Akhirnya Farhan yang tidak tahu apa-apan menjadi korban umpatan kecemburuan William.


"Apa yang terjadi dengan Farhan?" Reyno dan Jennie masuk ke dalam mobil bagian belakang. William di depan menjadi supir.


"Kenapa bisa begitu? Bukannya Farhan selalu hati-hati?"


"Sepandai-pandainya tupai melompat pasti bisa jatuh juga, Sweetheart...," ucap William lemah lembut. Reyno memcebik kesal melihat kelaluan kakaknya yang sok manis di depan Jennie.


"Kepalaku sakit, dipukul kaka." Merajuk-rajuk dengan gaya manja tingkat dewa. Ceritanya ngadu pada istrinya.


Cih! Kalau tidak sedang gawat darudat ku tendang juga kau anak sialan!

__ADS_1


"Siapa suruh berantem. Apa kalian berdua anak TK? Apa yang kalian ributkan sampai main tampar dan cakar-cakarang begini?" Jennie menggelengkan kepalanya terheran-heran.


"Tentu saja gara-gara kamu Sweetheart. Reyno bilang kamu sudah wik-wik sama dia. Tapi tenang, aku tidak percaya, dia pasti bohong." William melirik kaca spion untuk melihat ekspresi Jennie.


"Apa itu wik-wik?" Berfikir keras.


"Tanya saja adikmu! Aku mana tahu bahasa aneh tak jelas seperti itu." William sewot.


Di poin ini harap maklum, memang hanya Reyno yang tahu bahasa menggelikan di luar KBBI itu. Secara teman-teman Reyno kan bapak-bapak Akang Gendang. Otak polos Reyno sudah banyak terkontaminasi kalimat-kalimat toxic.


"Itu loh, kakak masa tidak percaya kalau kita sudah begituan." Sambil memainkan wajah Jennie dengan tangannya.


"Tentu saja tidak percaya. Kamu mana mengerti hal begitu," cibir William emosi. Ada bom atom yang siap diledakkan kapan saja.


"Kenapa tidak percaya. Aku punya banyak koleksi totorialnya, tinggal pilih mau gaya yang seperti apa."


Sialan! Aku benar-benar panas berada di dekat setan ini.


***

__ADS_1


Side Story:


__ADS_2