
Sesampainya di dalam rumah, Jennie langsung mengobati luka yang ada di pelipis Reyno dengan kemampuan medis sederhananya. Membersihkan luka dengan alkohok, mengolesinya dengan betadin, lalu menutupnya dengan kain kasa. Cowok itu masih trauma dengan bullying yang publik lakukan kepadanya. Bahkan ia bilang kalau tidak mau pergi keluar lagi.
"Reyn, maafin aku, ya. Semua ini gara-gara aku. Aku ngga nurut sama Papi kamu. Harusnya aku biarin bodyguard itu buat jagain kita. Pasti ngga akan begini kejadianya. Jangan ngambek, yah." Jennie merasa bersalah. Wajahnya memelas penuh penyesalan.
"Reyno ngga pa-pa, kok. Justru malah Reyno yang harus berterima kasih, tadi Jennie keren banget, berani ngelawan mereka." Tersenyum seolah sedang menghibur Jennie.
Eh, tumben ngga ngambek, padahal aku udah takut banget diaduin sama Maminya.
"Emang video kita parah banget, ya. Kok aku jadi penasaran sama video di toilet itu."
Jennie memang gadis kurang up date, seluruh hidupnya di abadikan pada motor beserta onderdil dan lainyan. Tentu saja ia belum tahu video viralnya seperti apa, membuka sosial media adalah kegiatan yang jarang ia lakukan.
Reyno menyerngit kaget. "Masa Jennie belum lihat videonya? itu viral di grup sekolah juga." Reyno membaringkan tubuhnya, bersiap untuk memejamkan matanya.
"Aku ngga punya grup sekolah, dulu pernah masuk, tapi aku keluar karena berisik banget. Isinya hanya bercanda tidak jelas," ucap Jennie.
"Ya ampun, kamu cari deh, di google atau instagram. Reyno ngantuk banget mau tidur, nanti kalo udah jam empat bangunin Reyno." Cowok itu menarik selimut. Mengambi Tayo lalu memejamkan matanya perlahan.
Ngeselin banget, sih!
Ya udah, aku cari tahu sendiri.
Jennie mulai mengutak atik ponselnya. Mencari-cari video viralnya di google.
Kok aku ketik video mesum viral di google malah ngga ada pencarianya, sih?
hape aku yang rusak atau googlenya yang kemusuhan? . Bergumam-gumam kesal.
"Aha ... kenapa ngga minta sama Lisa aja." Jennie mulai mengirim pesan pada Lisa.
Lisa adalah satu-satunya teman wanita Jennie yang paling dekat denganya di sekolah. Tidak membutuhkan waktu lama, begitu Jennie mengirim pesan, Lisa langsung mengirim Video yang Jennie mau.
"Ye, Lisa memang the best!" Jennie kegirangan sendiri di atas ranjang, ia melirik ke arah Reyno yang ternyata sudah tidur pulas. Gadis itu mulai memutar videonya sendiri di ponsel.
"Eh, apa-apan ini? kok Reyno peluk-peluk aku?" Terkejut, shock dan nyari mati rasanya.
__ADS_1
"Ya, ampun ... ya Tuhan. Kok aku ngga pake baju, sih?" Inging rasanya tengelam di dasar bumi.
Sialan, jadi Reyno udah ngeliat semua badan aku, dong. Melirik cowok itu sebentar, semakin emosi ketika melihat Reyno tidur dengan damai.
Jennie memutar video itu kembali. Meremat seprai saking geregetanya. Tubuh gadis itu meradang penuh emosi.
Jadi dia meluk-meluk aku. Pegang-pegang semua badan aku kayak gini. Sialan cowok itu, berani sekali memanfaatkan kesempatan dalama kesempitan.
Jennie bangun dari posisi tengkurap menjadi duduk. Gadis itu mengguncang-guncangkan tubuh Reyno kasar. Efek emosi lebih tepatnya.
"Reyno bangun!" Kesal.
"Engg... apaan, sih? memang sudah jam empat?" tanya Reyno sembari menggeliat-geliat kecil. Cowok itu masih setengah sadar, baru juga mulai merajuk mimpi.
"Kamu bangun dulu!" Jennie menarik daun telinga Reyno, terpaksa cowok itu bangun dan ikut mendudukan dirinya.
"Jelasin ini!" Jennie melempar gawainya ke pangkuan Reyno. Masih terputar video mereka berdua di layarnya.
"Apaan?" Bingung. Menggarukan kepala bagian belakangnya sambil menguap.
"Ngapain kamu peluk-peluk aku begini coba? pantesan, ya. Semua orang percaya kalau kita berbuat intim. Ternyata semua itu gara-gara kamu." Emosi. Butuh penjelasan masuk akal sekarang juga.
"Itu kamu-kan pingsan, ya jelas aku peluk kamu. Kamu ngga pakai baju, aku coba tutupin badan kamu agar gak keliatan, coba bayangin kalau aku biarin aja kamu tergeletak di closet, pasti tubuh kamu udah kelihatan kemana-mana." Menjelaskan secara logis, namun kalimat itu masih kurang logis di dengar telinga seorang Jennie.
"Tapi kamu peluk-peluk aku, sentuh-sentuh aku!" Jennie memukul-mukul bahu Reyno tidak terima. Reyno meringis kesakitan akibat ulah istrinya.
"Lagian kamu kan akhirnya jadi istri Reyno, gak pa-pa dong, kalo pegang-pegang dikit?" Malah meledek agar Jennie semakin tambah panas.
"Kamu mau mati, ya?" Jennie menyumpal wajah Reyno dengan bantal hingga cowok itu terjungkal ke belakang. Untung masih di atas kasur. "Mati aja kamu Reyno!" teriak Jennie emosi, gadis itu terus membenamkan bantalnya semakin kuat. Tiba-tiba terjadi keheningan sesaat. Reyno tidak lagi memberontak seperti tadi. Jennie mulai dibuat panik sendiri.
Eh, kok diam?
Sudah mati jangan-jangan.
Jennie membuka bantal yang menutupi wajah Reyno. Terlihat hidungnya masih kembang-kempis. Itu artinya Reyno belum di jemput sang Ilahi.
__ADS_1
"Reyn, kamu udah mati?" Nyeleneh.
Cowok itu masih diam. Jennie langsung tahu kalau ia hanya pura-pura pingsan. Trik seperti ini sudah pernah di mainkan Jennie terlebih dahulu.
"Bagus deh kalau suami aku mati, aku bisa naik ranjang, nikah sama kakanya." Memancing kemarahan Reyno. Jennie dilawan.
Reyno bangun dan duduk kembali. "Ikh, kok kamu gitu, sih? kamu berharap aku mati biar bisa nikah sama Kaka?" Kesal. Tidak jadi pura-pura, alias gagal main mati-matian dengan sang Istri.
"Hahaha, kamu bangun lagi? gak jadi matinya?" Tergelak penuh kepuasan.
"Eh, Jennie ketawa, tuh. Gak jadi marah sama Reyno berarti kan?" Senang.
"Jadilah, kenapa harus gak Jadi. Kamu udah kurangajar sama aku." Gadis itu teringat kembali kalau ia sedang marah.
"Video udah basi, Je. Lagian Reyno ngga tertarik sama Jennie, Bweeekk." Menjulurkan lidahnya lucu.
Kok aku kesal ya, dia bilang begitu.
Kalau cowok kaya Reyno saja ngga tertarik. Itu artinya aku gak menarik banget.
Ah, sudahlah. Itu artinya aku aman.
Reyno ngga bakal ngapa-ngapain aku.
"Ya udah, aku juga lebih ngga tertarik sama kamu!" Gengsi, itulah yang ada dipikiran Jennie kalau ia bilang sedikit tertarik pada suaminya. Walaupun penampilanya sedikit girly, namun Reyno masih banyak cowoknya. Hanya fashion bajunya yang menurut Jennie terlalu ke-imutan.
"Eh, tunggu Je. Kayaknya ada masalah yang lebih serius yang harus kamu urus."
"Masalah apa?"
"Kamu harus menolong lima bodyguard yang nyawanya sedang diambang kematian. Temui Farhan di halaman belakang. Kamu yang usul agar para bodyguard itu untuk gak ikutin kita tadi, Farhan pasti sedang menghukum mereka."
Siapa memangnya Farhan, mahluk jenis apa lagi dia?
Ahhhh, mengapa di rumah ini banyak sekali orang, sih?
__ADS_1
***
Kesan Jennie ketemu Farhan pasti selalu unik, nantikan ya...