Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 58


__ADS_3

Reyno menguap ketika masuk ke dalam mobil. Begadang semalaman membuat badannya ikut meriang. Dingin, menggigil, namun ia harus berangkat ke kampus karena ada janji dengan dosen pembimbing. Mendekati kelulusan memang begini, sibuk mengurus ini itu demi sebuah skripsi.


Reyno mengecek ponselnya sebelum menyalakan mesin pada mobilnya, melihat ada info apa di grup squad kelasnya.


"Sialan!" Reyno menjerit seraya memukul kemudi. Lagi-lagi ia ingin makan ban mobil empat-empatnya. Sekalian sama pelek mobilnya kalau bisa.


"Nasya kampret! Pagi-pagi bikin spaneng aja," gerutu Reyno kesal. Dasar tidak tahu diri anak perawan yang satu itu.


Sudah tahu Reyno tidak jadi dapat jatah semalam, malah lihat kiriman video viral di grup kampus. Seorang wanita yang diduga artis sedang main kuda-kudaan dengan seorang pria. Padahal Reyno sudah update duluan tentang video itu. Pak mandor yang kirim kemarin sore. Namun entah kenapa ia mendadak emosi melihat kiriman Nasya. Reyno tidak kenal dan tidak peduli dengan kebenaran video itu. Hanya saja apa yang Nasya bagikan sangat tepat dengan keadaanya saat ini, seolah sedang menghina Reyno yang tak dapat jatah ranjang tadi malam.


Setelah grup kelas rame dan semua berkumpul. Nasya si kampret berotak licik langsung memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan pribadi yaitu, promosi.


Nasya:0X/XX/20XX


[ Teman-teman, jangan lupa baca novel terbaru aku ya, Bukan Kontrak Pernikahan. Ceritanya seru, bikin terbang melayang-layang. Auto dapat ide bikin skripsi bagus kalo udah baca ceritaku! Di baca ya ... ya ... ya. Hanya ada di aplikasi mangatoon dan noveltoon. Kalau gak ada kuota download aja aplikasinya paka wifi gratis di kampus.]


Cih! Reyno mendengkus kesal, habis kirim video gila bukannya tanggung jawab malah promosi novel. Dasar anak tidak tahu diri. "Gak ada ahlak kamu Nasya," gerutu Reyno kesal.


Reyno: 0X/XX/20XX


[Nanti aku baca! Abis itu langsung report biar ceritamu langsung lenyap, Sya.]


Reyno yang masih emosi membalas pesan Nasya dengan ketus. Bibirnya mengerucut sekaligus kesal.


Nasya: 0X/XX/20XX


[Astaga, Reyn. Kamu kejam banget! Dasar anak kambing. Tetanggaku dukun, berani macam-macam liat aja, ya.]


Nasya langsung mengecek novelnya di balik sana. Mana tahu Reyno benar-benar mereport novelnya. Jika itu sampai terjadi, sudap dipastikan Nasya akan mengirim santet pada anak itu.

__ADS_1


Reyno kembali menaruh ponselnya di kantung celana, lantas menyalakan mesin. Mobil mulai melaju dengan kecepatan normal. Tak lupa ia menyalakan musik, mendengarkan lagu BLACKPINK yang judulnya Pretty Savege untuk menambah semangatnya.


'Brrrrrrrrrrrr.'


Intro dari Jennie BLACKPINK mengiringi langkah mobil Reyno yang semakin melaju kencang. Musiknya enak di dengar, membuat mata yang ngantuk berubah melek. Hilang sudah video viral yang membuat bayang-bayang iri.


Niat hati ingin istirahat, apa daya Reyno harus menjalankan tugas lain setelah kuliah. Pria itu hendak pulang, namun panggilan darurat dari bengkel membuat ia terpaksa harus memutar kemudi. Berbalik arah menuju bengkel pusat.


Hari ini banyak terjadi kendala, salah satunya adalah pengiriman produksi barang yang tidak sesuai. Beberapa barang yang masuk dalam kondisi tidak baik dan rusak, bahkan jumlahnya kurang. Reyno benar-benar dibuat pusing dengan hal ini.


Hingga siang mengganti senja. Reyno baru sampai rumah pukul empat sore. Pria itu memarkirkan mobilnya dengan gerakan loyo. Ia sangat rindu tayo. Rasanya ingin segera masuk ke kamar dan membanting tubuhnya di ranjang.


"Papa pulang ... Papa pulang!" Naas kedua anaknya berseru riang, pertanda bahwa mereka ingin mengajak Reyno bermain.


"Kesayangan Papa sudah sembuh? Sudah makan dan minum obat belum?" tanya Reyno dengan penuh perhatian, di mana mereka mengangguk sebagai konfirmasi kepatuhannya.


"Pinter, anak papa keren!"


"Papa gak bawa makanan? Ello mau makanan yang Papa bawa."


Ah, ya Tuhan. Hati Reyno terasa hancur mendengar itu. Padahal makanan apapun yang Reyno bawa dapat membuat mereka senang, tapi ia lupa gara-gara terlalu sibuk seharian ini. Apa lagi badannya sedang kurang enak.


"Eh, jangan begitu. Di rumah kan ada banyak makanan. Grandma yang bawain buat kalian." Jennie membela, wanita itu berjalan ke arah suaminya. Mencium tangan Reyno dan mengambil tas yang masih melekat di punggung Reyno.


"Ello mau mandi bareng Papa, main air yuk Pa!" ajak Cello.


"Yuk!" balas Reyno. "Cilla mau mandi bareng papa juga?"


"Heuh!" Gadis kecil itu melengos ke samping dengan tangan yang dilipat di depan dada. Persis seperti Reyno yang kalau sedang ngambek. "Cilla gak mau mandi baleng kaiyan!" teriaknya malas.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti mandi bareng mama Panda aja ya." Reyno mengecup kening si gadis kecil yang masih ngambek. Cilla menatap papanya kesal. Lalu mengelap bekas ciuman Reyno yang masih membasahi keningnya.


"Cieee. Anak papa ngambek," goda Reyno terkekeh. Gadis kecil itu berlari ke luar. Malas melihat kakak dan papanya.


Semenjak Cilla sadar bahwa tubuhnya berbeda dengan kakaknya, gadis kecil itu tidak mau lagi mandi bersama tanpa baju dengan kakaknya. Kecuali main air.


Cilla menangis saat menyadari miliknya rata, tidak ada burung kecil nan imut seperti milik Cello. Gadis kecil itu iri, merasa miliknya belum tumbuh karena tak seperti milik kakakknya. Bahkan, Cilla kecil merasa kesal dan ngambek pada orang tuanya. Ia minta dibelikan burung sepertil milik Cello agar bisa ikut pipis berdiri.


Pada akhirnya, Cilla kecil yang berhati sensitif itu enggan mandi bersama lagi dengan Cello atau papanya.


Setiap anak kecil memang memiliki pemikiran yang imut dan menggemaskan. Kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada Cilla, tapi hampir semua anak memiliki pemikiran sepolos itu. Di saat seperti ini, waktunya Reyno dan Jennie sebagai orang tua untuk memberikan edukasi yang bermakna. Memberi tahu bahwa Cilla dan Cello adalah dua jenis ciptaan Tuhan yang berbeda. Tentunya dengan penjelasan yang aman dan dapat di mengerti oleh pribadi anak kecil.


Waktu terus berlalu, detik berganti menit, dan berlalu hingga waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Akhirnya anak-anak masuk ke kandang bersama bibi asuhnya. Reyno yang sudah lelah sekali langsung ambruk. Menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang seraya menutupi matanya dengan pergelangan tangan.


Ah, lelahnya menjadi suami sekaligu ayah, desah Reyno dalam mata terpejam.


"Kamu capek banget ya, Reyn." Jennie mendekat, naik ke atas ranjang dan membuka tangan yang menutupi wajah Reyno. Ia merangkum wajah suaminya penuh iba, menatap muka lelah dan garis mata Reyno yang menghintam seperti panda.


Satu kecupan sayang Jennie mendarat di kening pria itu. "Badan kamu anget, makan dan minum obat dulu ya?" rayu Jennie, mata Reyno sudah terpejam. Dengan tangan lemasnya, ia menarik lengan Jennie agar ikut tidur di sampingnya.


"Aku sudah makan di bengkel tadi sore. Gak usah minum obat, cukup kamu temenin aku sampai tidur, terus nyanyiin lagu nina bobo."


Aaah, imut banget sih suamiku!


"Ya udah, cepet merem!" Jennie mengelus pucuk rambut suaminya. Namun enggan bernyanyi karena malu.


"Nina bobonya mana?" protos Reyno dalam mata terpejam. Merajuk manja seperti bayi.


Mendesah lemah, akhirnya Jennie mulai bernyanyi dengan suara cemprengnya hingga Reyno benar-benar terlelap. Anggap itu sebagai hadiah untuk suami hebat yang tak pernah kenal lelah.

__ADS_1


Mari menunduk, lalu berikan sedikit penghargaan pada semua ayah di dunia. Tanpa perjuangan mereka, anak dan istri tidak mungkin bisa tersenyum hangat sepanjang waktu.


***


__ADS_2