Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Diskusi malam


__ADS_3

Malam semakin larut. Kedua pasangan suami istri itu sudah berada di bawah selimut yang sama. Saling berpelukan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Keduanya masih membisu. Menyembunyikan perasaanya masing-masing. Sampai akhirnya salah satu diantara mereka tidak kuat dan mulai bertanya terlebih dahulu.


"Bagaimana rencana kamu selanjutnya Reyn?" Dirangkumnya wajah Reyno dengan kedua tangan. Jennie dapat melihat dengan jelas kegundaan hati suaminya. Serta wajah putus asa yang tercetak jelas di sana. Mungkin karena Reyno juga merasakan hal yang sama seperti Jennie, belum siap menjadi seorang ayah.


"Sesuai renca awal. Kita pulang ke Bandung setelah selesai ujian," jawab Reyno singkat. Namun nampak sekali keraguan saat bibir itu berucap .


"Aku tahu kamu belum siap menjadi ayah, sama halnya denganku yang belum ingin menjadi seorang ibu. Reyn, kamu tidak bahagia kan, dengan kehadiran bayi kita. Semu itu bisa lihat wajah muram kamu semenjak tahu aku hamil," ucap Jennie sedikit sendu.


Reyno mengecup kening Jennie. Lalu membuka piama Jennie di bagian perut. Tangannya mengusap perut Jennie, memberi rasa nyaman dan hangat pada buah hatinya yang ada di dalam sana.


"Siapa bilang aku tidak bahagia? Dia adalah anakku. Setiap pria yang sudah menikah pasti akan senang mendengar kabar istrinya hamil." Senyum Reyno dibuat senatural mungkin. Mencoba meluluhkan hati wanita hamil yang sedikit sensitif.


"Tapi kenapa kamu kelihatan sedih begitu? Aku jadi mikirnya kamu ngga suka dengan bayiku." Jennie mengerngitkan dahinya bingung.


"Itu karena aku takut tidak bisa membahagiakan kalian. Aku belum menemukan pekerjaan yang tepat sampai detik ini. Itu bayiku juga, bukan hanya bayimu," gerutu Reyno diakhir kalimat.


"Kalau begitu kita tinggal di rumah bunda saja, bilang saja kalau akuh hamil dan butuh pemantauan dari bunda. Pasti orang tuamu setuju."


"Jangan begitu. Aku malu kalau harus numpang di pihak wanita, aku malah semakin ngerasa ngga becus jadi ayah dan suami."


"Terus mau kamu gimana? Tetap jadi seorang kuli? Kamu pikir gaji seorang kuli cukup buat biaya anak dan istrimu sehari-hari. Apa lagi kita di sana ngontrak, aku ngga yakin gaji kamu cukup untuk kita bertiga Reyn." Dapat dilihat jelas tatapan tidak percaya diri seorang Jennie. Rasa takutnya lebih besar dibandingkan harapannya sendiri.


Reyno hanya diam membisu. Meratapi ketidakberdayaanya dalam hal ini. Ijasah paket C saja masih jauh keluarnya. Kalaupun Reyno melamar pekerjaan lain tetap akan sulit. Siapa pula yang mau mempekerjakan kariawan yang hanya lulusan SMP.


Debat masalah uang memang tidak akan ada habisnya. Benda transaksi sialan yang selalu berujung pertengkaran jika dibahas. Uang adalah jurang kebahagian, pemisah belah persaudaraan dan juga bisa menjadi pemicu rusaknya rumah tangga. Terlihat seperti kertas sederhana, namun damagenya sangat besar dalam kehidupan penduduk bumi. Singkatnya, uang adalah pembawa kebahagiaan sekaligus jurang kematian.


"Maafkan aku ya, sekuat apapun aku berusaha selama ini, pada akhirnya aku tetap tidak bisa membahagiakan kamu. Maaf karena aku menikahimu dalam keadaan yang seperti ini. Masih bocah dan jauh dari kata sukses," lirih Reyno lemah.


Jennie mendadak tidak enak hati sendiri. Kata-katanya tadi memang cukup keterlaluan. Menyudutkan Reyno dan menghina ketidakberdayaanya.


"Kakak dan Farhan sudah menyuruhku untuk bergabung ke perusahaan, tapi Papi sendiri belum ada omongan. Aku saja masih belum pernah ketemu dengan Papi, dan lagi, kalau mengingat sikap Papi terakhir kali aku masih hati, Je."

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak bisa usaha? Kamu kan pintar?"


"Usaha butuh modal yang cukup besar, Sayang. Aku juga belum pernah terjun ke dunia bisnis. Yang artinya kepintaranku di dunia pelajaran belum tentu bisa diterapkan dalam dunia bisnis."


"Aku ada niat untuk jual motorku yang masih di Bandung. Kamu mau ngga, buka usaha kecil-kecilan dari hasil penjualan motor?"


"Kamu serius? Itukan motor kesayangan kamu, aku ngga mau!" tolak Reyno secepat kilat.


"Aku serius! Kita butuh perubahan, Reyn. Ngga mungkin kan, kalau terus mengandalkan gaji kariawan. Katanya kamu mau bahagiain aku?"


Wajah Jennie dibuat se—meyakinkan mungkin. Agar Reyno tertarik dan tidak merasa berat hati.


"Tapi—" Reyno masih ragu.


"Aku sudah hamil begini. Motor itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Dan kalau motornya masih ada, jangan salahin aku kalau suatu hari nanti aku balapan motor dalam keadaan hamil," pancing Jennie.


"Apa-apaan! Aku ngga akan ngizinin kamu begituan ya!" Nada suara Reyno langsung meninggi. Sudah tahu suaminya sensitif. Masih saja dipancing begitu.


"Hehehe. Makannya jual saja, sebelum aku berubah pikiran."


Jennie paham yang Reyno rasakan. Bagaimanapun ia pihak laki-laki. Tapi mau gimana lagi, hidup itu butuh perubahan.


"Ngga pa-pa sayang, uang aku kan uang kamu juga. Kita sudah suami istri. Dan juga, motor itu adalah hadiah ulang tahun aku dari almarhum nenek. Ngga ada hubungannya sama ayah dan bunda. Ayahku mana mau beliin anaknya motor."


"Terima kasih ya, Sayang." Dipeluknya sang Istri dengan erat.


"Terima kasih untuk apa?" Jennie jadi bingung kan, karena Reyno bilang terima kasih tanpa penjelasan.


"Terima kasih untuk kemuliaan hati kamu. Aku beruntung banget punya istri seperti kamu, Je." Tak lupa satu kecupan hangat Reyno mendarat di kening Jennie setelah mengatakan kalimat tadi.


"Iya. Sama-sama, Sayang. Jadi fiks ya, kamu tinggalin pekerjaan kamu yang di Bandung, dan maaf juga tadi aku agak kasar sama kamu."

__ADS_1


"Hmmm. Tidak masalah. Tapi kita mau usaha apa ya, kamu ada ide?"


"Aku niatnya mau usaha bengkel kecil-kecilan. Nanti aku yang ngatur bagian produksi, dan kamu yang me—manajerial keuangannya. Gimana, kamu setuju?"


"Memangnya motor kamu cukup untuk usaha bengkel?"


"Huh. Ya cukup lah, bahkan aku mau DP rumah untuk tempat tinggal kita berdua."


"DP rumah juga bisa? Memang berapa harga motor kamu? Jelek begitu, kok." Maksud Reyno warna motor Jennie tidak menarik di matanya.


"Sekitar sembilan ratus juta mungkin, motorku kan Ducati Panigale, kamu pikir motor sembarangan?" gerutu Jennie tidak terima.


"Sembilan ratus juta? Dan kita selama ini sampai makan sebungkus mie berdua. Hemmm." Reyno menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Hehehe. Ya maaf, dulu aku belum rela ngelepas dia."


"Ya sudah, kita tidur, yuk. Besok harus ujian dan pergi ke pernikahan kakak pulangnya."


"William mau menikah?"


"Iya, Sayang. Kok kaget begitu, belum rela ya."


"Apaan sih, cuma heran aja dia mau menikah. Setauku William tidak mencintai tunangannya kan?"


"Kak Tere sudah hamil, terpaksa mereka harus menikah.


"Hamil?" Wah, Jennie semakin melongo takjub. "Kok bisa hamil?"


"Aku tidak tahu! Jangan dibahas lagi." Reyno menaikkan kepala Jennie diatas lengannya. Lalu mendekap gadis itu lebih erat lagi.


"Tapi aku penasaran, Reyn."

__ADS_1


"Jangan membahas kakak, atau aku akan marah karena cemburu. Kita baru saja selesai berdebat loh."


***


__ADS_2