
Aroma hiruk pikuk kota Jakarta di pagi hari membuat Farhan yang baru turun dari pesawat mendadak rindu. Menaiki mobil bersama Rico asisten pribadinya, Farhan menatap keluar jendela mobil yang melaju dengan kecepatan normal. Ditatapnya para manusia yang sedang menjalani aktifitas pagi di sebuah pasar. Pegadang kaki lima silih berganti, ada yang baru membuka dagangannya, ada juga yang hendak pulang karena jam kerja mereka di waktu malam. Begitulah kota Jakarta, tempat di mana sebagian orangnya mencari nafkah 24 jam non stop tanpa kenal kata lelah.
Mobil melaju kembali, Farhan teringat pada sesuatu yang selama ini mengganjal di benak hatinya. "Oh ya, tolong tepikan mobilnya di sana. Aku ingin pergi ke suatu tempat, kamu pulanglah dulu ke rumah," suruh Farhan pada asistennya Rico.
"Tapi, Tuan ... Anda mau ke mana pagi-pagi begini? Lebih baik saya yang turun, biar Anda saja yang di antar oleh supir."
Farhan menolak dengan gaya bahasa tubuh, mengangkat telapak tangannya lalu menoleh pada kaca jendela. Rico yang sudah paham memilih diam. Membiarkan tuannya turun walau hatinya sedikit tidak enak. Kemudian, mobil berhenti tepat di di depan halte bus yang cukup ramai dipadati oleh pejuang bus umum di pagi hari. Farhan turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Hati-hati, Tuan." Rico melambaikan tangan dari dalam mobil. Lalu ada balasan senyum tipis yang tertarik dari sudut bibir Farhan.
Pria itu menengadah ke langit, lantas menghela kasar seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Kemudian ikut berbaur bersama calon penumpang yang sedang menunggu kedatangan bus umum.
***
"Bagaimana? Bukankah kedua cucu ayah lucu-lucu?" Reyno tersenyum hangat ketika melihat sang mertua dapat tertawa melihat video kedua cucunya.
Pria tua berbaju lusuh dan tampak kusut itu tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah menggemaskan Cilla dan Cello. Senyumnya nampak hangat ketika dipandang. Walau ada sedikit miris di balik binar mata penyesesalannya. Di usia setua ini, harusnya Hermawan menikmati sisa hidupnya bersama istri, anak, dan cucu, bukan malah mendekam di penjara. Namun nasi sudah menjari bubur, Hermawan tetap harus menanggung perbuatan jahatnya di masa lampau.
Beruntungnya, selama ini Reyno selalu menyempatkan diri menjenguk sang mertua di dalam sel. Memberi makan dan selimut, juga uang untuk pegangan sang mertua. Karena sel yang dihunii ayah mertuanya terbilang kurang memenuhu standar dalam memberi jatah makanan. Tak jarang para nara pidana harus mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli makanan dari luar melalui bantuan petugas.
"Reyn, terima kasih sudah datang menjenguk ayah. Selama ini hanya kamu dan bunda yang selalu rajin menjenguk ayah. Salam untuk Jennie dan anak-anak ya," ucap tuan Hermawan yang sudah tahu salamnya tidak akan pernah tersampaikan.
Reyno menggenggam erat jari-jemari rentan ayah Herman. Menyalurkan sebuah sensasi ketenangan untuk pria paruh baya yang hidupnya berasa ada di ambang kematian. "Ayah tenang saja, suatu hari Ayah pasti dapat berkumpul bersama cucu-cucu Ayah. Meskipun Jennie belum bisa memaafkan Ayah, Reyno yakin suatu saat hari istriku akan luluh. Anggap saja kedatangan Reyno sama halnya mewakili Jennie." Lantas tersenyum dengan sejuta kepolosannya.
__ADS_1
"Sekali lagi ayah ucapkan terima kasih atas kemuliaan hatimu, Nak. Di saat dunia menghujat ayah, hanya kamu satu-satunya yang masih bertahan, meski tidak membela, setidaknya kamu tidak membenci," ucap ayah dengan haru biru.
"Meskipun kesalahan Ayah di masa lalu begitu fatal, dan membuat banyak orang kecewa, Ayah tetap akan jadi Ayah mertuaku. Orang tua kedua yang harus aku hormati selain papi."
Tak terasa air mata Hermawan menetes perlahan. Terjun bebas melalui pipi hingga jatuh ke pergelangan tangan. "Andai waktu dapat diputar kembali, ayah lebih baik mengalah dan memberikan bunda pada almarhum kakakku. daripada harus berakhir seperti ini. Berdosa dan menyakiti anak dan istri," keluh ayah sambil memijit pelipisnya yang terasa berat. Yang tentunya diikuti sejuta penyesalan yang tak terbendung lagi.
"Tidak! Ayah lebih baik seperti ini saja." Tatapan mata Reyno menunjukkan seberkas cahaya tidak suka.
"Loh, kamu ingin ayah masuk ke dalam penjara?" tanya Ayah dengan dahi yang mengkerut tebal.
"Bukan begitu, kalau Ayah memberikan bunda pada almarhum kakaknya Ayah, itu sama saja Ayah tidak menikah dengan bunda. Yang berarti tidak akan lahir seorang Jennie yang bodoh karena pabriknya tidak ada," gerutu Reyno tidak terima.
Ayah tergelak sambil tangannya memukul meja. "Ya ampun, sejauh itu pikiranmu ternyata. Kalau tidak ada Jennie, kau pasti akan menikah dengan wanita lain. Memangnya anak gadis di dunia ini hanya satu," cibir ayah yang masih setia tergelak.
"Baiklah ... baiklah, ayah rela dipenjara asal Reyno menikah dengan Jennie," canda ayah terkekeh. Menantunya ini terlalu menggemaskan kalau sudah mengungkapkan kejujuran. Tidak peduli lawan mainnya sakit hati atau tidak. Untung ayah sudah tahu betapa baiknya Reyno walau sikapnya terbilang cukup aneh.
Seketika hening, tawa ayah terhenti begitu saja. Pria paruh baya itu menatap lurus seseorang di balik punggung Reyno. Bicara ayah meendadak tercekat, beliau menelan ludah dengan susah payah sambil menunduk dalam. Menatapi kedua tangannya yang tiba-tiba gemetar.
"Ayah kenapa?" Reyno yang bingung langsung menoleh ke belakang. "Kaka ipar?" serunya tidak percaya. "Mau apa Kakak datang ke sini?"
"Mau apa memangnya? Tentu saja ingin menjenguk orang yang telah membunuh ayah kandungku." Gaya bicara Farhan yang arogan dan ketus membuat nyali Hermawan semakin menciut. Reyno yang merasa sudah berkerja keras membangun mood baik ayah mertuanya merasa tidak terima.
Ditariknya tubuh besar Farhan keluar dari ruang penjengukan. Sedikit kasar, Reyno melotot tajam saat mereka sudah sampai di luar ruangan.
__ADS_1
"Kakak jangan bercanda deh," cebik Reyno kesal. "Empat tahun di Amerika bukannya bawa anak dan istri malah semakin seram. Kakak lebih mengerikan dari kuntilanak tahu, bahkan kuntilanak akan lari tebirit-birit melihat Kakak."
"Memangnya aku kenapa?" tanya Farhan karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Justru ia memiliki keniatan untuk berbuat baik, yaitu menjenguk ayah tirinya.
Seorang Farhan tidak akan pernah sadar, bahwa ekspresi wajahnya selalu menakuti semua orang yang melihatnya. Dingin, kaku, dan tanpa aura bahagia sedikitpun. Seolah pria itu membawa malaikat maut ke manapun. Membuat orang ingin kabur saat melihat wajahnya.
"Ya ampun, Kak. Apa Kakak tidak sadar bahwa ayah Hermawan ketakutan saat Kakak datang tadi. Wajahnya mendadak pucat, tawanya hilang, padahal aku sudah susah payah menghiburnya."
"Jadi kau lebih memilih si pembunuh itu daripada aku?" Pertanyaan dengan nada cemburu itu lolos dari bibir Farhan. Sama sekali tidak cocok diucapkan oleh pria itu.
"Aku pilih Jennie, untuk apa aku memilih laki-laki. Isk," balas Reyno berdecak.
"Aku ingin menjenguk sebentar, kau tunggu di sini. Habis itu antar aku bertemu kedua anak kembarku. Seperti apa wajahnya? Ah, pasti mirip denganku." Farhan berlalu meninggalkan Reyno, tanpa peduli bahwa ucapannya tadi membuat si papa dua anak itu kesal.
"Mirip kepalamu, memangnya dia anak siapa. Buatlah anak sendiri, kenapa harus mengaku-ngaku keponakan sebagai anakmu." Reyno menggerutu kesal sambil menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk khusus ruang tunggu. Menatap punggung Farhan yang menghilang di balik ruang ayah Hermawan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Farhan menjenguk tahanan yang tidak lain adalah ayah tirinya. Karena bunda mengurungkan niatnya untuk menceraikan ayah, jadi status Farhan masih tetap menjadi anak tiri sekaligus keponakan Hermawan. Sungguh hubungan yang rumit jika diteliti lebih lanjut.
Mobil Reyno melaju dengan kecepatan normal menuju rumahnya. Di mana ada si kakak ipar sekaligus kakak angkat yang duduk di sampingnya dengan gaya batu bernapas.
"Kak!" Farhan membalas panggilan Reyno dengan berdeham. Tanpa menoleh sedikitpun pada sang adik yang antusias ingin mengajaknya mengobrol.
"Apa Kakak pernah merasakan jatuh cinta?"
__ADS_1
***