
"Jangan menakutiku, aku tahu kau tidak akan melakukan ini padaku. Kau tak akan sejahat itu, kan?" tanya Tere dengan bibir yang gemetar. Tidak! bahkan kini seluruh tubuhnya sudah gemetar ketakutan. Tere tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Menjeritpun rasanya percuma, hanya malu yang akan ia dapatkan pastinya.
"Kau yang jahat jika tidak membiarkanku melakukannya." William kembali mendekati wajah Tere, lalu menjatuhkan dagunya di atas pundak gadis itu. Bibirnya tepat menempel pada balik telinga. "Diam dan nikmati saja apa yang akan terjadi selanjutnya," bisik William pelan. Bulu-bulu roma Tere merinding seketika.
Ia memang sudah pernah melakukan kegiatan itu dengan William. Tapi semua itu terjadi di luar batas kesadarannya. Baik William maupun Tere sama-sama lupa akan kegiatan satu kali yang langsung menghasilan calon buah hati itu. Pokoknya, ini akan menjadi kegiatan pertama dalam kesadaran penuh jika sampai terjadi.
William kembali menjatuhkan bibirnya di atas benda lunak itu, kali ini ia membuat gerakan yang menuntut. Pelan dan lembut, tapi pasti.
Bodohnya, Tere malah semakin membuka lebar rongga mulutnya, memberi jalan pria itu untuk berbuat lebih. Dalam mata terpejam ia menikmati segala perbuatan William. Seolah tersugesti dengan kata-kata yang tadi dibisikkan William kepadanya. Bahkan pagutan itu mulai turun, bergeser pada tulang selangka indah milik gadis itu.
"William!" panggil Tere yang terdengar seperti desahan. William mendongak sedikit dan menghentikan aksinya.
"Tolong jangan seperti ini. Bukankah aku hanya istri bohongan? Meskipun sudah menjadi suami istri, kita tidak boleh melakukannya. " Tere mencoba menyadarkan William yang mulai hilang kendali.
"Alasannya?" William sudah mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Meski posisinya masih sama, di atas dan mengunci tubuh kecil itu.
"Kita tidak saling mencintai." Didorongnya dada besar itu dengan kedua tangan. Namun usahanya sia-sia, Tere tidak akan mampu melawan Tenaga pria yang besarnya hampir dua kali lipat tubuhnya.
"Maka biarkanlah cinta itu tumbuh dengan sendirinya."
Aaaa. Jantung Tere serasa lepas dari tempatnya. Dari mana pria ini mendapat kata-kata mutiara yang begitu jahanam. Terdengar seperti sebuah gombalan, namun dadanya merespon dengan gemuruh. Seperti ada ribuan kuda yang berlarian di dalam sana.
Tunggu! Lupakan perasaan aneh yang datang tiba-tiba, kini William sudah berhasil mengendurkan tali pengait yang mengikat diantara punggungnya. Gaun mewah berwarna putih itu mulai turun, menyisakan bra hitam berbentuk kemban.
__ADS_1
"It's so time," ucap William dengan senyum bangga. Pria itu menyeringai jenaka, menatap dua benda kembar yang masih tertutup kain penghalang.
"Hei ... hei ...." Tere panik bukan main. Ingin rasanya ia kabur dari kamar pengantin sialan ini, namun tubuhnya yang masih dikunci kuat oleh William membuat ia tidak berdaya sama sekali.
Kita lihat nanti, apa kau masih bisa menolak yang satu ini. William.
Akhirnya. Tangan profesionalnya telah berhasil melucuti bagian atas tubuh Tere, William menyempatkan diri untuk menekan remot lampu agar Tere tidak terlalu cangkung.
Dengan gerakan lembut yang menuntut, William terus menyusuri setiap inci tubuh wanita itu. Baik dengan tangan maupun yang lainnya.
Sedangkan Tere....
Ya Tuhan, ia benar-benar dibuat terbang ke ujung nirwana. Baru dua menit tadi ia meronta dan menolak keras, tapi kinia ia sudah mendesah pasrah di bawah kendali pria menyebalkan itu.
Tidak ingin di katakan munafik, gairah Tere juga melonjak tajam akibat perbuatan William. Dan apa yang terjadi selanjutnya tidak perlu dijelaskan secara rinci. Kedua mahluk itu seperti hewan buas yang bertemu mangsanya.
Hingga pagi menjelang siang, Tere mulai membuka matanya perlahan. Tubuhnya serasa lebih remuk dari sebelumnya. Tere meraba kasur di sebelahnya, mencari pria sialan yang membuatnya jadi begini.
"Pagi!" ucap William yang ternyata sudah bangun terlebih dahulu. Ia sedang duduk di atas sofa saat mengucapkan selamat pagi tadi, namun dalam sekejap William sudah bangkit dan menghampiri Tere yang baru bangun.
"Apa kau butuh bantuanku untuk ke kamar mandi?" tanya William sambil duduk di pinggiran ranjang. Tere langsung menarik selimut untuk menutupi wajah malunya.
Ia yakin mukanya pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang. Ingatannya kembali pada momen semalam, saat Tere terus menolak untuk melayani suaminya, namun itu hanya bersifat untuk sementara. Setelahnya Tere berubah menjadi gadis binal yang tidak tahu malu, ia juga tidak tahu kenapa sulit sekali mengendalikan tubuhnya. Bahkan ia sempat meneriaki nama William berkali-kali.
__ADS_1
"Aku akan memandikanmu!" William menggendong paksa istrinya ke kamar mandi. Lengkap dengan selimut yang masih menggulung tubuhnya.
Aaaa. Aku bisa mati kalau begini caranya. Mengala tidak sesuai ekspektasiku, sih? Harusnya kita saling memebenci satu sama lain. Tapi kenapa pria itu malah bersikap hangat padaku. Ini gila! Sama sekali tidak sesuai dengan drama yang aku tonton selama ini.
William menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya dengan kaki, lalu meletakkan Tere dengan hati-hati ke dalam bak mando. Air hangat sudah tersedia, sepertinya ia telah menyiapkannya sebelum Tere bangun. Benar-benar perlakuan yang tak terdugax sama sekali, yang Tere tahu selama ini, William adalah pria cuek, di mana hanya ada Sweetheart di hatinya.
"Kenapa kau begitu baik padaku? Apa perlakuan seperti ini pantas untuk orang yang tidak kau cinta?" tanya Tere saat William mulai mengguyur rambutnya dengan air shower. Pria itu, dia benar-benar memperlakukan Tere bak ratu yang sangat dicintainya.
"Apa kau masih berfikir aku akan bersikap seperti pria yang ada di dalam novel yang kau baca? Meskipun pernikahan kita diawali oleh sebuah perjodohan, aku tetap akan memperlakukanmu dengan baik, jangan khawatir, itu adalah bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami."
"Apa kau tidak merasa keberatan melakukan hal seperti itu?" Aku bahkan tidak mampu bersikap baik padamu. Hatiku masih memikirkan Rian. Di sanalah hatiku berada. Batin Tere yang tak dapat tersampaikan.
"Suka tidak suka, kau tetap istriku yang harus kuperlakukan seistimewa mungkin. Berhenti menyamakanku dengan pria yang ada di dalam drama. Mengerti?"
Tere menggangguk patuh. "Apa aku juga harus melakukan hal yang sama sepertimu?"
"Jangan lakukan jika tidak bisa."
Tere termenung dalam diam. Sungguh otaknya masih tidak dapat menjangkau pemikiran suaminya. Di mana adegan berantem-berantem yang ia bayangkan selama ini? Tidak ada sama sekali. William begitu sabar sekalipun Tere membentaknya. Apakah ini sifat aslinya. Di mana William yang menyebalkan selama ini.
***
Ini bukan lanjutan ya, hanya bonus chapter. Kelanjutannya tunggu bulan depan, jangan lupa di favoritin agar tau updata selanjutnya.
__ADS_1