Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Pertengkaran kecil


__ADS_3

Jennie dan Reyno sudah keluar dari gerbang tinggi menjulang itu, Reyno terus memandangi rumah megahnya yang seperti sebuah kastil. Wajahnya sembab karena terus menangis.


Sementara Jennie duduk di trotoar sembari melamun. Untung Farhan masih berbaik hati membolehkan Jennie membawa motornya, kalau tidak ia sudah bingung harus bagaimana selanjutnya.


"Mau sampai kapan kamu nangis? Ngga akan ada yang bukain gerbang, bodoh!" Jennie jadi geram sendiri, seharusnya ia sudah pergi sedari tadi. Namun suaminya enggan beranjak dari depan gerbang rumahnya.


"Reyn, plis jangan begini. Kita kerumahku dulu, ya. Barang kali Ayah dan Bunda bisa memberi kita bantuan." Sabar dan sabar. Kata itulah yang harus Jennie patenkan di hatinya sekarang.


"Gak mau! Reyno mau di sini terus sampai ada yang bukain pintu gerbangnya." Cowok itu mencebik, menyandarkan tubuhnya di jok motor Jennie.


Bila ada si lemah, harus ada juga si kuat. Itulah perbedaan antara Reyno dan Jennie. Gadis itu harus ekstra berfikir keras untuk membujuk suami Hello Kitty-nya, anak itu hanya bisa diatasi dengan kelemah lembutan dan hati yang lapang seluas jagat angkasa raya.


"Reyn, kamu yang sabar, yah. Aku yakin, kita pasti bisa melewati semua masalah ini." Jennie menarik tubuh Reyno ke dalam pelukanya. Mengusap air mata itu dengan ibu jari. Lalu menjatuhkan sebuah kecupan di bibir mungil suaminya. "Suami aku harus kuat," ucapnya sembari melepas pelukanya. Sepertinya perlakuan itu sukses menenangkan hati seorang Reyno, kenapa tidak dari tadi saja ia lakukan.


Begitulah sisi menyenangkan memiliki suami manja, Reyno gampang sekali dibujuk kalau tahu caranya. Perasanya mudah berubah-ubah seperti bunglon. Yang dari sedih berganti senang, marah menjadi reda. Itulah Reyno. Jennie mulai paham dengan semua sifat dan sikapnya.


Reyno mengambil ponsel milik Jennie di kantung celananya, kemudian ia terlihat membuka sebuah aplikasi seperti sedang mengupdate sesuatu.


"Lihat, dong!" Tersenyum manis ke arah Jennie. Reyno mengunggah foto paling mesranya dengan Jennie. Keduanya berpelukan dengan perbedaan wajah antara pelangi dan awan hitam. Kemudian ia menunjukan unggahanya pada Jennie.


Ya ampun, instagramku!😭


Apa itu captionya?


Mengarungi luasnya samudra bersama suami tercinta.


Reyno terlanjur bahagia dengan perbuatanya barusan, tanpa ia tahu ada gadis tomboy yang sedang menggerutu di balik layar. Bagaimana tidak? instagram Jennie tadinya hanya ada foto-foto motor, pasti teman-temanya akan mati terkejut kalau lihat postingan alay seperti itu.


"Ya udah, ayok kita jalan sekarang, ya. Kamu ngga lihat banyak yang ngeliatin kita berdua?" Jennie mengedarkan pandanganya agar Reyno mengikuti, Reyno langsung mendongak dan melihat sekeliling."Bener kan? pasti mereka ngira kita itu maling."


"Siapa yang mau maling di rumah sendiri?" Reyno marah lagi, membuat hati Jennie menjerit sekeras-kerasnya.


Mati saja apa aku?


"Eh, bukan begitu-loh, mereka kan gak tau ini rumah kamu. Pokonya kita jalan sekarang ya?" Merayu-rayu lagi.


"Peluk dulu..." Mengepangkan kedua tanganya. Lagi?


Kali ini aku turuti ya, Setan!

__ADS_1


Jennie menyambut pelukan itu, tubuh kecilnya masuk ke dalam dada bidang suaminya. Jiwa tertukar itu saling memberikan kekuatan satu sama lain sekali lagi.


"Jennie ngga akan ninggalin Reyno kan? Hanya Jennie yang Reyno miliki sekarang. Reyno ngga tahu harus bagaimana lagi. Mami dan Papi sudah membuang Reyno." Cowok itu menangis lagi, mengeratkan pelukanya seakan takut kehilangan Jennie.


"Iya-iya. Aku ngga akan ninggalin kamu, kok." Menepuk-nepuk bahu Reyno seperti seorang bayi.


"Mulai sekarang tugas Jennie harus jagain Reyno. Rawat dan lindungi aku bagaimanapun caranya." Reyno berkata dengan tidak tahu dirinya.


"Iya suamiku sayang. Aku akan selalu melindungimu dengan segenap jiwaku."


Cih! Aku benar-benar mengatakan kalimat itu. Geli sekali rasanya.


"Lepas dulu ya, pelukanya. Kita harus segera jalan." Pelukan mereka terlepas, Jennie mengambil helm yang tercantol di kaca spion motornya. "Kamu pakai helm dulu, ya." Memakaikan helm dengan gerakan slow motion di kepala suaminya.


"Kok cuma satu? Jennie-nya ngga pakai helm?" Protes.


"Helm-nya cuma ada satu, Reyno saja yang pakai. Mulai sekarang Jennie yang akan melindungi Reyno, memakai helm ini juga termasuk dari bagian melindungi, kan?." Tersenyum anggun.


"Baiklah, terima kasih sudah bersedia melindungi aku."


Apa aku doang yang merasa sepertinya jiwa kami sedang tertukar?


Jennie mulai menghidupkan motornya, sedangkan Reyno sudah duduk di belakang mengalungkan kedua tanganya pada pinggang Jennie. Cowok itu juga membawa ransel besar Jennie dipundaknya. "Pegangan yang erat ya, sayang." Entah sejak kapan, yang jelas Jennie mulai tidak mengenali dirinya yang dulu. Gadis itu mulai belajar tentang kelembutan sejak mengenal cowok bertulang lembek itu. Motor mulai berjalan dengan semestinya.


"Jennie!" Reyno agak berteriak karena kecepatan motornya terlalu kencang. "Pelan-pelan."


"Ini cuma empat puluh, kok." Gadis itu menurunkan kecepatan laju motornya menjadi 30km/jam. Anggap saja sedang kencan di atas motor.


"Segini saja, jangan terlalu cepat!" Si tukang perintah mulai bicara.


"Iya sayang." Fokus kembali mengendarai motornya.


"Reyno sayang kamu, Jennie." Berbisik di telinga Jennie.


Duh, aku melting deh.


"Jennie juga sayang Reyno," balasnya. Tentu saja harus dibalas dengan semestinya. Mau mati apa Jennie?


"Kita kayak Dilan ya? Romantis.

__ADS_1


Alamak, siapa itu Dilan?


"Coba kalau ada hujan, pasti lebih romantis. Kayak Dilan dan Milea."


"Apa hubunganya sama hujan?"


"Ikhkkk!" Reyno mencebik kesal. "Masa ngga tahu, sih? Jangan-jangan Jennie memang gak tahu sama Dilan dan Milea, ya?" Ketahuan.


Sumpah! Siapa saja tolong kasih tahu aku, siapa itu Dilan dan Milea, aku bisa mati kalau ketahuan bohong.


"Tahu kok, tahu." Bohong. "Cuma ngga tahu apa hubunganya Dilan dengan hujan." Suatu kebohongan, pasti akan menimbulan sebuah perkara buruk. Itulah posisi Jennie sekarang.


"Dilan dan Milea itu naik motor di tengah datangnya hujan."


"Oh, kasihan banget ya, itu Dilan. Untung kita ngga kehujanan kaya mereka. Kita beruntung Reyn," ucap Jennie tidak tahu diri. Reyno langsung mengepalkan kedua tanganya kesal.


"Sudahlah. Kalau ngga tahu, ngga usah sok tahu begitu. Reyno paling malas sama orang yang suka bohong." Suatu kebohongan akan menimbulkan kebohobgan lainya. Itulah yang sedang Jennie lakukan sekarang.


"Tahu, sayang ... Tahu." Bohong tidak baik Jennie.


Reyno mencubit kedua pipi Jennie. "Engggghh...," rintihnya.


"Kalau tahu kenapa gak paham hubunganya Dilan sama hujan?" Kesal sendiri.


Tentu saja seorang Jennie tidak tahu seperti apa romantisnya kehujanan di atas motor. Hujan ya hujan, orang yang kehujanan diatas motor berarti hidupnya sedang sial. Di mana letak romantisnya, coba?


Tolong jelaskan pada Jennie.


Akhirnya keduanya mulai melakukan perdebatan panjang yang tidak berguna sama sekali. Semua ini gara-gara Dilan, bahkan si Dilan tidak mengenal siapa Reyno dan Jennie. Mengapa Repot sekali.


Semoga mereka segera jatuh cinta. Jika ada cinta di tengahnya, mungkin segalan urusan mereka akan terasa lebih mudah.


Namun untuk mengubah perasaan mereka dari abu-abu menjadi merah muda tidaklah mudah. Ini bukan kisah benci yang lama-lama akan menjadi cinta. Hidup ini adalah sebuah takdir ... takdir menghadapi binaan rumah tangga di usia dini lebih tepatnya.


***


Kita mulai memasuki area kebucinan, geysss.


Siapkan air putih banyak-banyak. Oke.

__ADS_1


__ADS_2