Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Rindu


__ADS_3

william sudah selesai melakukan kunjungan dan pemeriksaan proyek yang belum lama diakuisisi oleh Revikal Group, tempat di mana Reyno bekerja lebih tepatnya. Di sana juga ada beberapa konsep bangunan yang sudah diubah sesuai keinginan Papinya. Semuanya berjalan lancar tanpa kendala. William juga sempat diajak berkeliling di lokasi proyek, namun ia tidak bisa menemukan di bagian mana adiknya berada, mungkin karena banyak sekali pekerja, terlebih mereka semua menggunakan seragam yang sama dan tertutup masker wajahnya. Tentu saja William bingung membedakan yang mana adiknya.


"Tuan William, bagaimana? Apakah anda puas dengan rancangan arsitek kami?" Sang project manager itu bertanya ramah pada William. Mereka sedang berada di ruang VIP yang letaknya di sebelah bangunan kontruksi. Agak jauh dari tempat Reyno bekerja.


"Saya sangat takjub dengan kinerja anda dan lainnya. Konsep bangunan yang kami inginkan berjalan lancar sesuai renca." William menepuk tanggannya bangga.


"Terima kasih Tuan William, saya merasa tersanjung dengan pujian anda. Kami akan berusaha lebih baik lagi," ucap Project Manager itu.


"Emmm." William tampak berfikir. "Tapi bolehkah saya berkeliling di gedung ini sendiri? Saya masih ingin lihat-lihat lagi."


"Boleh saja Tuan, tapi bukan sebaiknya di temani oleh staff kami saja? Agar anda tidak tersesat dan lebih nyaman." Projeck Manager itu bicara takut-takut.


" Tidak perlu. Ada seseorang yang ingin saya temui di sini. Jadi saya ingin menemuinya sendiri, tolong kirimkan daftar pekerja dan bagiannya masing-masing ke email saya."


"Oh baik, Tuan. Maafkan saya yang lancang ini. Saya tidak bermaksud ikut campur urusan anda." Manager Pria itu menunduk takut.


"Tidak pa-pa. Cepat kirimkan semua daftarnya ke email saya."


"Baik Tuan. Saya langsung kirimkan sekarang juga." PM itu berlari ke meja kerjanya sendiri.


***


Setelah mengecek email yang di kirim oleh Sang PM, Wiliiam segera mencari nama adiknya. Pertama-tama ia mencari nama Reyno di daftar pekerja tetap, namun tidak ada nama adiknya di sana. Ya jelas tidak ada, Reyno kan hanya buruh kuli harian. Kemudian ia mengecek daftar bagian pekerja lepas, seperti mandor, wk mandor, tukang, laden dan lainnnya, barulah William menemukan nama Reyno berada di sana. Di tingkatan pekerja paling rendah yang sering orang sebut sebagai, laden.


William langsung menuju lokasi tempat di mana adiknya berada, tak lupa ia mengganti setelan jasnya dengan hoodie santai dan celana joger agar penampilannya tidak terlalu mencolok. Ia juga menutupi wajahnya dengan masker dan memakai topi.


"Siapa kamu!" Reyno sedikit terperanjat saat Wiliam menarik paksa tangannya. "Ikut aku bodoh." Pria itu membawa sang adik untuk masuk ke dalam mobil yang sudah ia siapkan, takutnya keburu di lihat orang lain. Reyno agak memberontak, namun William lebih kuat darinya. William mendorong tubuh Reyno ke dalam mobil. Lantas membuka topi dan maskernya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?" tanya William.


"Kakak!" Reyno mencopot topi proyeknya, anak manja itu langsung menghambur ke pelukan sang Kakak. Tak peduli bajunya kotor dan bau, yang penting ia bisa memeluk kaka kandung sekaligus saingan cintanya. "Kak, aku kangen baget sama kamu!"


Cih! Ternyata masih tidak berubah, manja dan suka peluk-peluk orang sembarangan.


"Ambil baju di belakang, cepat ganti bajumu. Buang seragam baumu itu!" gertak William sambil memegangi hidungnya.


"Jangan kak, ini baju seragam yang harus ku pakai setiap harinya." Reyno tersenyum jenaka. Tidak seperti yang William pikirkan, Reyno masih tetap adiknya yang manja dan menyebalkan. Hanya saja ia lebih bertanggung jawab sekarang, buktinya mau kerja serabutan begini.


"Bodoh! Aku akan membawamu pulang, kau pikir aku akan tinggal diam melihat adikku menderita seperti ini." William menggeram marah. Cara penyampaian bentuk perhatian seorang William pada adiknya terbilang cukup unik. Galak, tapi sebenarnya sayang.


"Ini kenapa lagi?" Tiba-tiba matanya tertuju pada telapak tangan Reyno yang kasar dan banyak luka lecet, ada beberapa luka yang hanya di balut handsaplas yang Reyno beli di warung.


"Tangan Reyno keseringan megang batu, semen, sama bobok bangunan pakai godam, Kak. Jadi kasar dan lecet begini. Dan untuk pulang, sepertinya Reyno belum bisa. Hidup aku sudah cukup bahagia. Reyno tidak mau kembali lagi ke rumah Papi." Wajah Reyno terlihat ceria setiap kali menjawab. Sama sekali tidak ada raut sedih di sana.


"Kaka! Terima kasih ya, sudah perhatian sama Reyno. Tapi aku merasa hidup aku sudah cukup bahagia." Anak itu memeluk kakanya. Bagaimapun juga mereka memiliki aliran darah yang sama, sesering apapun mereka bertengkar, tetap akan berbalik lagi pada perasaan semula.


"Sudah-sudah. Aku bukan brother complex!" Menghempaskan tubuh Reyno. Pria itu mulai mengemudikan mobilnya, keluar dari area kontruksi bangunan.


"Reyno mau dibawa ke mana, Kak? Aku masih jam kerja. Nanti kalau Reyno dipecat gimana?" Menahan kakaknya yang sedang menyetir.


"Gedung ini sudah diakuisisi perusahaan Papi. Tidak ada orang yang berani memecat kamu." Masih terus melajukan mobilnya. "Kita mau kerumah sakit, obatin luka-luka kamu.


"Oh jadi Papi yang sengaja mengambil alih gedung itu. Huhh. Gara-gara Papi, Reyno jadi sering kerja lembur untuk merubah desain. Kan jadi kerja dua kali." Mencebik kesal.


"Makannya pulang saja, kaka yang akan membujuk papi agar menyudahi hal gila ini."

__ADS_1


"Tidak mau, kak. Hentikan mobilnya, Reyno mau balik kerja lagi."


"Jangan membantah!"


"Kak, Reyno tahu kaka sayang sama Reyno, tapi aku sudah bahagia kak, tidak mau pulang."


"Reyn, tolong kesampingkan egomu. Pekerjaan begini sama sekali tidak pantas untukmu. Kalau kamu memiliki pekerjaan yang layak, kaka tidak akan sebawel ini. Mulai besok kamu harus berhenti. Kaka akan mengirimkan surat pengunduran dirimu. Cari kerja yang lain saja."


"Kak...," lirih Reyno dengan wajah sedih. Ia menatap William yang terus mengemudikan mobilnya. "Kalau Reyno keluar, bagaimana dengan Jennie? Pekerjaan ini adalah penyelamat hidupku. Jennie hampir mati kelaparan karena aku jadi pengangguran cukup lama. Aku tidak mau mengalami hal seperti itu lagi. Pekerjaan apa saja yang penting aku bisa menghidupi istri aku.


Apa begitu seorang pria yang sudah menikah? Reyno sama sekali tidak seperti adikku yang biasanya. Buru-buru William menyadarkan diri dari lamunannya.


"Hmmm. Bagaimana Kabar Sweetheartku? Apa kau menjaganya dengan baik." Masih santai mengemudi. Reyno yang mendengar William menyebut istrinya dengan panggilan itu langsung kesal, tapi ia punya senjata ampun. Untuk mematikan harapan kecil di hati William.


"Jennie baik-baik saja. Kami saling menjaga satu sama lain. Bahkan sekarang Jennie sudah menjadi milikku seutuhnya."


Shirtttt! William mengerem mobilnya secara mendadak.


"Apa maksudnya menjadi milikmu seutuhnya?" William meremat pengemudi dengan emosi, sampai kuku-kuku di jarinya memutih semua.


"Tentu saja aku sudah wik-wik dengan dia. Kaka ini bodoh atau gimana?" Mencebik tanpa dosa.


"Beraninya kau!" Meninju setir pengemudi.


Aku benar-benar ingin mencekik setan kecil ini sekarang juga. 🤣


***

__ADS_1


__ADS_2