
Kejadian bermula saat Farhan menyuruh semua staff pergi dan ingin berbicara empat mata dengan Lisa. Gadis yang telah menyamat menjadi kariawan patr time.
Jangan lemah Farhan, meskipun gadis itu adalah anak yatim piatu, tetap saja dia salah. Begitulah Farhan menguatkan hatinya yang sudah goyah.
"Saya akan memecat temanmu."
"Tuah, tolong ampuni saya, dan jangan pecat teman saya Bella. Ini semua salah saya, tidak seharunya saya menggantikan pekerjaan Bella, saya akan sangat senang jika Tuan mau memaafkan saya." Lisa menunduk takut. meremas jari-jemarinya dengan tubuh gemetar.
"Siapa kamu? Apa kita teman dekat sebelumnya? Untuk apa aku menyenangkan gadis ceroboh sepertimu. Apa lagi kita tidak saling kenal. Hei Nona, sayangnya aku bukan orang sebaik itu." Farhan bicara acuh tak acuh. Bahkan tidak melirik gadis itu sama sekali.
"Hehehe. Barang kali suatu saat nanti kita berjodoh Tuan," cengir Lisa sok jenaka. Padahal dalm hatinya takut sekali.
"Jaga bicaramu jika masih ingin hidup, Nona!" bentak Farhan emosi. "Arghghhh!" Farhan memegangi kepalanya yang mendadak kambuh sakit lagi.
"Tuu ... tuan... anda kenapa?" Lisa langsung mendekat. Gadis itu panik melihat Farhan yang seperti orang mau mati.
"Kepalaku sakit sekali," keluh Farhan sambil menggemerutukan giginya karena terlalu sakit.
"Saya punya obat sakit kepala, tunggu sebentar Tuan!" Lisa berlari mengambil air putih, lalu memberikan obat sakit kepala pada Farhan. "Minum obat ini saja Tuan."
Tanpa pikir panjang Farhan langsung meraih obat yang Lisa berikan. Namun naasnya, obat yang Lisa beri di warung itu sudah kedaluarsa. Gadis itu juga tidak tahu prihal obat yang kedaluarsa.
Tak berapa lama kemudian, Farhan langsung muntah-muntah, ada bercak kemerahan di seluruh tubuhnya. Farhan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Saat William, Jennie dan Reyno datang, Farhan sedang marah-marah pada staff hotel yang membawanya kerumah sakit. Lisa si gadis penyamar itu kabur, semuanya sudah mencari, namun tidak ada yang tahu keberadaan Lisa. Bella temannya juga sudah di hubungi, namun ia mengatkan bahwa Lisa hanyalah teman jauh, yang Bella sendiri tidak tahu di mana alamat rumah gadis itu.
Farhan terus marah-marah pada William, si Bodoh yang telah membawakan gadis itu padanya. Jennie dan Reyno mencoba menenangkan Farhan, namun usahanya gagal. Maka di sanalah mereka sekarang. Duduk di ruang tunggu karena d usir Farhan. Hanya William dan Jennie di sana, karena Reyno sedang memeriksakan tangannya yang luka-luka.
"Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak tahu kalau ujung-ujungnya akan seperti ini. Farhan pasti sangat murka, bisa-bisa semua atmku di blokir olehnya." William terlihat menggusar rambutnya beberapa kali.
"Bagaimana ini Sweetheart?" William menyandarkan bahunya di pundak Jennie. Pria itu bersikap selayaknya mereka masih berpacaran dulu.
__ADS_1
Apa-apaan sih, dia. Nanti kalau Reyn sampai lihat, aku bisa mati. Benar saja, belum selesai Jennie menggerutu, Reyno sudah datang dengan sorot mata membunuhnya.
"Kakak!" Reyno teriak. "Baru ditinggal sebentar langsung nempel-nempel begitu." Reyno langsung duduk di tengah-tengah, anak itu mengelap pundak Jennie yang disandari William tadi.
"Yeh, si Anak Kecoa, ganggu orang sedang nostalgia saja." William mendengkus kesal sambil menendang kaki adiknya. Reyno menatap William kesal dengan gayak kesal yang jatuhnya imut.
"Kak, Reyno tahu kalau kita saling menyayangi. Tapi bukan berarti kaka bisa seenaknya deketin istri Reyno." Bergantian menatap Jennie. "Kamu juga, kenapa mau di deketin sama William? Sudah tahu dia playboy cap Beurit. Masih saja di ladenin."
"Hah?" Jennie menohok. "Apaan beurit?"
"Tikus!"
"Hahaha." Jennie tergelak. "Kamu kok jadi tahu bahasa sunda sih, Reyn." Jennie sok menepuk pundak Reyno, berharap bisa mengalihkan pembicaraan bertema cemburu itu.
"Jangan ketawa! Aku masih marah sama kamu!" bentak Reyno sambil mencebik kesal. Usaha pertama Jennie gagal, yang bisa ia lakukan adalah menjelaskan yang sesungguhnya, walau ia yakin Reyno tidak akan percaya.
"Bukan gitu loh, tadi aku itu belum sempat menghindar, tapi sudah ketahuan duluan sama kamu." Jennie menjelaskan pada Reyno. Memasang wajah seimut mungkin agar suaminya gemas dan tidak marah lagi. Namun pria itu semakin kesal mendengar bantahan istrinya. Tuh kan, benar. Pasti ujung-ujungnya Jennie selalu salah.
"Jadi ini salah aku?" Melotot sampai bola matanya mau keluar. Jennie langsung panik ketika menyadari kemarahan Reyn naik dua level lebih seram. Meski wajahnya masih tetap imut, sih.
"Tidak ... tidak. Ini salah aku, aku yang kurang waspada."
Jennie memalingkan wajahnya. Kalau sudah dalam posisi seperti ini, rasanya Jennie ingin pura-pura mati saja. Reyno masih tetap Reyno, orang yang selalu menganggap asumsinya yang paling benar. Dan William, dia tidak akan mau bertanggung jawab dengan kekacauan yang ia buat sendiri.
Drrtttt. Ponsel Reyno berdering. Jennie langsung menghembuskan nafas lega, akhir ia terselamatkan dari rajukan maut seorang Reyno.
"Hallo Pak!" Sepertinya pak mandor yang menelpon. Jennie mencoba mendekatkan telinganya agar dapat mendengar pembicaraan mereka.
Kamu di mana Reyn, kok mendadak hilang? Pak mandor bertanya dari balik sana.
"Maaf pak, istri saya sakit," ucap Reyno sambil melirik Jennie. Pria itu tersenyum jenaka sambil menaik-turunkan alisnya. Padahal baru saja tadi ia ngambek-ngambek tak jelas, namun semuanya mendadak hilang saat Pak Mandor solidnya menelepon.
__ADS_1
Sakit apa?
"Muntah-muntah pak," Melirik Jennie lagi. Reyno tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Entah apa yang sedang dipikirkan anak itu.
Wah ... wah ... sepertinya gawang pertahanan istrimu sudah jebol ya?
Pak Mandor tergelak. Jennie yang mendengarnya mendadak merona malu. Apaan sih, mereka ini? bahasanya begitu mulu.
"Bapak bisa saja. Hehehe...," Sambil merangkul Jennie gemas. Sementara Jennie hanya diam acuh tak acuh. Apa lagi William, mungkin ia sedang mencoba mengeluarkan jurus menghilang agar tak melihat adiknya yang tak henti-hentinya pamer.
Bapak punya pantun buat kamu nih, Reyn. Ranjang bergerak, ranjang berdecit.
"Artinya apa Pak?"
Atuh gera di gaskeun, Reyn. Pak Mandor tergelak sambil tertawa xixixixi. Pantun ala bapak-bapak memang tidak perlu nyambung, yang penting artinya xxx.
Hah. Jennie menohok. Apa-apaan sih, mereka!
"Hahaha. Beurang-beurang makan opak. Berangkat, Pak!" Reyno tergelak, suara pak mandor yang tertawa di balik sana juga dapat di dengar oleh William dan Jennie.
"Sweetheart?" William memanggil Jennie. Namun matanya menatap Reyno sambil geleng-geleng heran.
"Apa?"
"Suamimu punya masalah hidup apa, sih?"
Jennie mengedikkan bahunya jengah. "Entahlah."
***
Jangan lupa follow my ig untuk mengetahui jadwal update @anarita_nvltoon
__ADS_1