Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 49


__ADS_3

Terlonjak shock, Reyno nyaris pingsan lagi saat mendapati dirinya sedang bertelanjang dada. Angin malam yang menusuki bulu-bulu roma, membuat Reyno terpaksa harus bangun dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Sial! Jennie bener-bener, ah!" umpat Reyno saat mengetahui ia telah tertidur di depan pintu rumah. Pria itu melirik jam analog di tangannya, di mana jarum itu menunjukkan pukul 10 malam.


Sebuah kardus kotak menarik perhatian Reyno tiba-tiba. Pria itu menarik benda kotak itu yang ternyata isinya sepotong kue coklat. Ada secarik kertas yang sepertinya adalah pesan dari Jennie.


Kue ini makan malam kamu, kalau masih laper minta saja makanan, sama dua wanita yang kamu kasih uang lima puluh juta, itu.


"Arghhhhhhhh!" Reyno menggusar rambutnya frustasi. Dalam hati ia mengumpati Alex, pasti pria itu telah di eksekusi habis-habisan sampai mengungkapkan dosa-dosa Reyno hari ini.


"Brrrrr!" Dinginnya angin malam membuat Reyno menggigil seketika. "Jennie bukan hanya mengusir Reyno, ia juga sengaja tidak memberi Reyno baju agar pria itu tidak bisa kemana-mana. Alamat malam ini Reyno akan tidur di luar rumah tanpa selimut dan kasur empuk.


Dog ... Dog ... Dog ...


Reyno mencoba menggedor pintu, namun tidak ada jawaban apapun dari dalam sana. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Reyno di hukum oleh Jennie. Dulu ia juga pernah di hukum tidur di luar rumah saat pergi ke Bogor tanpa bilang-bilang. Dan ini adalah hukuman Reyno yang ke dua kalinya, tapi yang ini lebih parah karena Reyno harus bertejanjang dada dan hanya mengenakan boxer tipis. Dulu setidaknya ia masih diberi selimut dan bantal.


"Sial! Sial!" Reyno memeluk badannya dengan kedua tangan, lalu berjalan menuju pos satpam untuk mencari bantuan.


"Malam, Pak Rey!" sapa kedua satpam itu takut-takut. Wajah Reyno sudah seperti hewan buas yang hendak makan orang.


"Berikan aku baju," ketus Reyno yang saat itu menahan malu sekaligus dingin. Tak beda jauh dengan Reyno, kedua satpam itu juga menahan tawa saat melihat boxer kuning bergambar sepongebob milik Reyno. Apa lagi di gaian belakangnya ada patrick yang sedang menjulurkan lidah. Astaga, kok ada lelaki begini. Pikir Satpam itu.


"Maaf Tuan, nona Jennie melarang kami memberi bantuan apapun pada Tuan," ujar satpam itu ketakutan. Entah masalah berat apa yang sedang menimpa mereka, yang jelas pak satpam merasa kesal karena harus ikut terlibat.


"Yang bayar kalian siapa?" bentak Reyno geram. Ia sudah bertolak pinggang. Matanya melotot dan membuat satpam itu diambang kebimbangan.


"Tuan Rey," ujar salah satu satpam itu.


"Yang bayar Tuan, tapi penguasa sesungguhnya adalah nona Jennie," ujar satu satpam lagi yang mulutnya agak nyinyir.


"Istriku memang berkuasa! Tapi kalau aku marah, kalian akan kupecat!"


"Waduh! Bahaya..." Si satpam nyinyir bicara.


Mereka berdua melemparkan pandangan ke segala arah. Asal tidak melihat boxer spongebob ketat dengan tonjolan besar di antara pangkal paha Reyno. Biasa, pria kalau sedang kedinginan selalu bangun. Bahkan di saat sikonnya yang tidak tepat begini.


"Berikan sarungmu, aku kedinginan. Kalau aku mati hipotermia kalian pasti akan masuk penjara," ancam Reyno geram. Pria itu sudah duduk di kursi jaga milik satpam, seolah mengklaim bahwa ini tempat duduk barunya.


"Berikan saja sarungnya,' bisik pak satpam yang merasa tidak nyaman melihat boxer Reyno.


Bawaaanya selallu ingin ketawa, dan kalau hal itu sampai terjadi, bossnya bisa saja menuntut mereka dengan tuduhan pencemaran nama baik. Si papa manja berhati sensitif itu kan gila.


"Ini Tuan sarungnya, tapi jangan bilang-bilang kita yang kasih ya, ke Nona."

__ADS_1


"Suka-suka aku!"


"Aduhh!" Satpam yang memberikan sarung tadi langsung menepuk jidatnya karena Reyno tidak mau diajak bekerja sama. Padahal sudah di tolong.


"Sarungnya bau!"


Kedua satpam itu langsung mengumpat di dalam hati saat Reyno berhasil mendapatkan sarung itu dan terpaksa memakainya karena dingin.


Nyess kau, boss ... sarung itu tidak pernah di cuci semenjak beli. Batin si satpam bermulut nyinyir.


"Belikan aku makanan, pakai uang kalian."


"Hah?" Ya Tuhan, sedang tanggal tua minta traktir rakyat jelata. Dasar boss laknat! Gerutu si satpam satunya lagi dalam hati.


"Tapi uang saya tinggal 50ribu, Tuan. Tidak cukup untuk beli makan." Karena satpam itu tahu seperti apa selera orang kaya. Temannya yang nyinyir juga tidak bisa diandalkan.


"Kata siapa tidak cukup. Belikan aku makanan di warteg," ucap Reyno datar. Ia masih kesal pada Jennie yang mengusirnya dengan keadaan telanjang.


"Warteg?" Kedua satpam itu menyerngitkan dahinya, heran. Bersamaan dengan mulut yang menganga tidak percaya.


"Iya warteg, sana bapak beli. Aku sudah kelaparan sedari tadi "


"Baik-baik, Tuan."Satpam itu langsung buru-buru pergi. Meninggalkan Reyno dengan teman yang satunya lagi. Boss Reyno tidak lapar saja suka menyebalkan, apa lagi kalau lapar. Mending beli makan cari makan. Pikir satpam muda itu.


"Jangan lupa, nasinya harus yang baru matang. Sama bala-bala anget 3 biji."


Dueeer. Pak satpam seperti merasakan ledakkan bom atom dasyat. Jam sepuluh malam begini, mana ada bakwan anget dan nasi yang baru matang.


"Astaga! Menyiksa saja!" gerutu satpam itu saat sudah agak menjauh dari jangkauan seorang Reyno.


Sekarang hanya tinggal ada Reyno dan satpam nyinyir itu.


"Pijitin saya, dong," suruh Reyno mengayunkan nada manja.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, satpam itu langsung menggerakkan jari jemarinya. Memijit Reyno dengan gerakkan selembut putri Solo.


"Kira-kira siapa ya, yang membantu istriku untuk mengangkat tubuhku sampai keluar. Tidak mungkin kan, Jennie mampu mengangkat laki-laki yang sedang tidur tanpa bantuan orang lain."


Merinding takut, tubuh satpam itu bergetar-getar seperti terkena sengatan listrik. Ia sudah paham kalau bossnya pasti lebih pintar dari yang satpam itu pikirkan. Jangan-jangan juga, request membeli nasi menyusahkan tadi adalah bentuk balas dendamnya.


"Anu, Tuan. Saya di suruh nona besar, kalau tidak mau nanti saya akan digilas di jalan aspal," kilahnya mencari pembelaan.


"Jadi kau lebih memilih di gilas di atas bara api?" tanya Reyno berapi-api.

__ADS_1


Satpam itu merinding takut. Otaknya berputar-putar untuk mencari topik pembicaraan yang tidak menyinggung.


"Begini Tuan, sebagai laki-laki kita lebih baik menerima hukuman yang diberikan oleh istri. Bagaimanapun juga Tuan salah, mengelak akan semakin memperkeruh suasana."


"Heuh. pintar sekali bicaramu," seru Reyno sebal.


"Saya kan sudah pengalaman, Tuan Hehehe."


Mendengar itu, Reyno hanya mendengkus sebal seraya menahan bau sarung yang apek parah. Tak lama satpam yang satunya lagi datang dengan wajah kesal.


"Tuan, nasinya tidak ada yang baru matang. tapi masih hangat kok."


"Kenapa?" tanya Reyno dengan wajah datar.


"Sudah malam, penjaga wartegnya tidak mau memasak nasi baru," jawab satpam apa adanya.


"Kenapa tidak mau!" tanya Reyno tanpa berdosa.


Ya Tuhan, bossnya kalau lagi ngambek banyak tanya sekali sih. Siapa yang mau masak nasi jam setengah sebelas malam begini?


"Masih banyak stock nasi, jadi tunggu habis dulu," jawab satpam asal-asalan. Untung dia pintar.


"Ya sudah, bala-balanya ada kan?"


"Sudah habis juga, Tuan."


"Terus aku mau makan!" Gebrakan meja yang sengaja Reyno banting kuat-kuat membuat mereka semua terperanjat takut.


"Ada pete bakar dan ayam bakar, Tuan" Sialan, sudah minta traktir banyak maunya. Pikir si satpam.


"Aku gaj doyan pete, sukanya jengkol," cebiknya kesal. "Aku gak mau makan!"


Astaga. Seperti anak kecil saja, tidak mau makan yang terserahmu. Kenapa laporan ke aku, batin satpam nyinyir yang emosi sendiri.


"Ya sudah, saya beli jengkol ya, Tuan. Saya ke warteg lagi beli jengkol."


Satpam itu segera pergi dengan hati yang bersungut-sungut. Meninggalkan Reyno dan satpam nyinyir berdua saja.


"Terusn pijitinnya, kalau gak enak tangan kamu aku potong."


Deg. Boss kecil ini selalu punya kejutan mengerikan ya, batin si satpam nyinyir yang sudah tidak berani nyinyir lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2