Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Tidur Di Kamar


__ADS_3

"Astaga Reyn!" Jennie terkejut bukan main saat melihat penampilan suaminya yang mirip dakocan. Rambut diikat satu dan juga wajah yang putih pucat karena dipoles bedak bayi. Ulah siapa lagi kalau bukan kerjaan anak gadisnya, Cilla.


"Kalian apa-apaan? Papah diapain?" Kesal, mata Jennie melotot tajam pada anak-anaknya.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Cilla dan Cello masih asik bermain bersama sang papa.


Sebuah kesalahan terbesar Jennie adalah menyuruh Reyno menidurkan anak-anaknya. Bukannya tidur seperti yang diharapkan, tapi anak-anak malah mengerjai papanya dengan cara mendandaninya.


"Lagi main calon-calonan, Ma! Papa tantik kan?" pamer si kecil Cilla dengan gaya centil sambil memegangi alat make up mainan miliknya. Jennie sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan bapak dan kedua anak-anaknya.



Sementara sang papa hanya senyum-senyum seraya memakan camilan coklat milik anaknya. "Yang penting mereka anteng kan, Ma! Gak rewel kayak kalau Mama yang asuh. Pasti ada aja acara ribut dan teriak-teriak."


"Gak ada yang penting yang pentingan. Sekarang papa keluar, biar mama yang tidurin anak-anak aja," tandas Jennie cemburut malas.


"Ya sudah, lagian papa sudah bacain empat buku cerita. Tapi mereka gak mau tidur, mau gimana coba?" Reyno bangkit dari posisi duduknya, lantas keluar menuju kamarnya sendiri.


Cilla dan Cello sangat dekat dengan papanya, maka dari itu saat Jennie menyuruh Reyno menidurkan anak-anaknya, bukannya mereka tidur seperti yang Jennie harapkan, tapi malah mengajak papanya bermain hingga waktu tidur mereka terlewatkan.


Tepat pukul sepuluh semua anak-anak piranha itu terlelap. Jennie bangun dan memutat pinggangnya dua kali hingga terdengar bunyi 'celetuk'. Lantas memijit lehernya belakangnya yang sedikit terasa pegal.

__ADS_1


"Kalian udah makan?" Pintu kamar anak-anak dibuka. Kedua bibi asuh yang menjaga mereka bersiap-siap untuk masuk.


"Sudah Nona, kita ke dalam dulu ya." Mereka membawa dua teremos dan beberapa botol susu yang sudah di isi dengan susu bubuk.


"Ok, Cilla belum diganti popoknya. Nanti tolong ganti ya," ucap Jennie kemudian berlalu.


Meskipun Cilla dan Cello memiliki dua pengasuh, namun urusan utama anak-anak tetap harus diurus oleh Jennie. Para pengasuh itu hanya bertugas membantu Jennie jika pekerjaannya tidak terpegang. Total ada 2 asisten rumah tangga, 2 pengasuh anak-anak, dan 2 satpam penjaga yang bertugas menjaga dan mengatur urusan taman.


"Hoamm!" Jennie menguap dan ingin segera membanting tubuhnya di atas kasur. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat ikan sialan itu ada di dalam kamar. Aquariumnya terpajang sempurna seperti ratu baru yang menggeser tahta si permaisuri utama.


"Ya Tuhan, Reyn! Kamu beneran mau punya istri kedua ikan ya?" decak Jennie sebal. Matanya terjutu pada aquarium besar yang ada di pojok kamar. Lantas beralih kembali pada sang suami yang cengengesan dengan gaya bodoh. "Bisa-bisanya kamu bawa ikan itu masuk ke dalam kamar. Setelah siang tadi kamu ciumin ikan kayak pacar kamu sendiri," seru Jennie berteriak murka.


"Stttt." Reyno berlari cepat menuju istrinya yang sedang emosi. Lantas memeluk dan mengelus punggung belakang Jennie.


"Aku gak mau tidur sekamar sama ikan!" teriak Jennie kesal.


Entah apa yang sedang Reyno pikirkan hingga Reyno berani membawa ikan itu masuk ke dalam kamar. Rasanya ingin teriak di bawah bantal. Geregetan, gemas sekaligus kesal dengan tingkah suaminya yang ada-ada saja.


"Ya, ampun. Baru ikan, gimana kalau beneran ada istri kedua!" goda Reyno sambil menggerakan alisnya naik turun.


"Kamu otomatis mati!" ancam Jennie, matanya melotot tajam dengan kilatan-kilatan penuh kebencian. Membuat si suami melihat bibirnya ke dalam dengan nyali yang mendadak ciut.

__ADS_1


Setelah memijit pelipisnya yang terasa nyeri, Jennie memilih pasrah menghadapi kelakuan suaminya. Wanita itu berjalan cepat, lantas membanting tubuhnya di samping Tayo.


Beginilah repotnya jika punya suami penyayang segala hal. Apapun yang Reyno suka selalu mendapatkan hak istimewa. Seperti Tayo dan Dumbo si ikan emas. Untungnya Reyno tidak sayang pelakor.


"Tidur di lantai, ya ... jangan tidur di samping aku. Kamu bau ikan. Atau kalau gak kamu nyemplung ke aquarium, gih. Temenin istri kedua kamu!" ketus Jennie yang mulai malas meladeni pola tingkah suaminya.


"Mana bisa, aku mau tidur bareng kamu, kasian enoki aku nanti mati kalau terus dianggurin." Lantas ikut menubruk Jennie yang sudah berbaring di ranjang terlebih dahulu.


Kekacauan Reyno masih berlanjut, setelah lelah menidurkan kedua anak-anakanya, kini Jennie harus berusaha menidurkan enoki di bawah sana yang sudah mulai memberontak.


Reyno menjatuhkan dagunya di pundak Jennie. Memainkan pita piama dan memberi kode-kode agar Jennie segera membuka penutup yang menghalangi tubuhnya.


"Aku capek, Reyn!" tandas Jennie cepat. Di mana si suami langsung menenggelamkan kepalanya di anatara bantal. Merajuk-rajuk seperti anak kecil minta permen.


Mendongak lagi, Reyno tidak mau menyerah sebelum apa yang ia inginkan terwujud. "Aku udah gak dikasih jatah dua hari, loh. Kok kamu tega banget sama aku, ikh! Gimana besok mau semangat kerja? Padahal laporan keuangan menumpuk. Barang produksi yang masuk juga banyak yang belum dicek ulang. Tapi aku gak dapat jatah semangat."


Jennie masih bergeming dengan wajah yang melengos kesal.


"Aku tahu kamu kesel gara-gara Dumbo. Iya, besok aku keluarin Dumbonya di samping pintu kamar. Gak akan aku taruh di kamar lagi."


Mengalah lebih baik dari pada tidak dapat jatah. Bagaimanapun hati ibu singa tetap harus Reyno jaga. Agar segala urusannya lancar, termasuk jatah dua hari sekali yang harusnya Reyno dapatkan malam ini.

__ADS_1


***


__ADS_2