Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- UNTITLED


__ADS_3

Pagi itu, suhu di Korea jauh lebih hangat dari biasanya. Reyno tak henti-hentinya tersenyum menatapi sang istri yang duduk bengong di samping kirinya. Seolah setiap momen yang terjadi di antara mereka tidak bisa dilewati tanpa dinikmati. Begitulah Reyno mensyukuri anugerah Tuhan yang tiada tara.


Satu minggu sudah berlalu, waktunya untuk mereka kembali ke Indonesia. Kedua anak kembarnya juga sudah rindu berat. Mereka tak henti-hentinya bertanya kapan mama Panda dan papa Teddynya akan pulang. Meskipun oleh-oleh yang Reyno kirim sudah datang terlebih dahulu, tetap saja semua itu belum lengkap jika si pemberi oleh-oleh belum sampai ke rumah.


Setelah menyelesaikan sarapan di salah satu restaurant cepat saji yang ada di bandara, Jennie dan Reyno langsung Ceck-in dan menuju waiting room bersama para penumpang lainnya. Karena satu jam lagi pesawat mereka akan segera take of**f. Meninggalkan Korea dan segala kenangan manis mereka berdua di sana.


"Yank, apa di dalam sini sudah ada juniorku?" Tangan nakal Reyno mulai mengelus bagian perut Jennie—lembut. Di mana wanita itu langsung menepis malu perbuatan sang suami.


"Jangan bercanda, banyak orang!"


"Iskh," decak Reyno sebal. "Aku cuma tanya pun," lanjutnya.


"Aku belum lama ini lepas KB. Biasanya ada efek samping. Apalagi aku pakainya sampai tiga tahunan," tutur Jennie setengah berbisik.


"Apa!" Teriakan Reyno sontak membuat orang lain menoleh pada mereka berdua. Jennie langsung membekap mulut suaminya sambil menundukkan kepala menahan malu.


"Serius ada efek sampingnya?" tanya Reyno setengah berbisik. Mengabaikan para calon penumpang lain yang masih menatap jengkel ke arahnya. Untuk pertama kali, Reyno merasa bodoh karena tidak menyelidiki hal ini sebelumnya. Jujur saja Reyno tidak tahu segala efek samping dari pil KB. Reyno pikir tidak ada efek sampingnya karena dosis pil KB yang terbilang rendah.


"Iya. Biasanya seperti itu, butuh waktu 2-3 bulan. Tergantung kesuburan juga. Ada juga bisa langsung hamil."


Reyno tampak mengangguk paham.


"Ya sudah, kita berdoa saja. Tuhan pasti sudah mempersiapkan sesuatu yang indah di atas sana." Sambil menengadah bangga.


Terdengar percaya diri, namun Reyno memang sangat percaya. Apapun yang ia lakukan di dunia, semuanya ia serahkan pada keputusan Tuhan. Begitu juga hidup dan mati.


*


*


*


Duarr!


Sebuah ledakkan yang cukup keras membangunkan para penumpang yang tengah terlelap di atas tempat duduknya masing-masing. Kumpulan asap mulai mengepul dari kabin belakang pesawat. Membuat semua orang panik seraya menjerit-jerit.


Beberawa awak kabin langsung memeriksa tentang kerusakan yang terjadi di bagian belakang pesawat, sementara seorang pramugari langsung mengumumkan tanda peringatan dalam bahasa inggris untuk menenangkan para penumpang yang ketakutan.


"Kepada para penumpang yang terhormat, tolong tetap duduk dan kami sarankan untuk tetap mengencangkan sabuk pengaman selama dalam perjalanan."


"Jangan bertele-tele! Cepat katakan apa yang terjadi!" seru salah seorang penumpang dengan nada takut sekaligus emosi.


Tiba-tiba sisi kiri badan pesawat oleng, membuat sang pramugari jatuh tersungkur menubruk penumpang. Namun, sejurus kemudian pesawat berhasil terkendali. Meskipun begitu, tidak sama sekali menyurutkan teriakan para penumpang yang panik ketakutan.


Cuaca yang tadinya cerah berubah parah. Langit mendadak hitam disertai petir yang datang saling sambar-menyambar. Mungkin ledakan pada bagian pesawat juga disebabkan oleh petir tersebut. Meskipun sudah ada perkiraan cuaca, tetap saja manusia hanya bisa berupaya tanpa dapat mengatasi cuaca yang mendadak berubah.


"Tolong tenang, petugas sedang memeriksa keadaan. Harap tenang, saya mohon!" teriak sang pramugari yang sudah berpindah tempat ke tengah-tengah. Rasanya ingin menangis mengatur ratusan orang di dalam pesawat. Ia harus berteriak melawan jeritan ratusan manusia yang panik dan menangis.

__ADS_1


Berdiri tepat di samping kursi Reyno dan Jennie. Ia terus berusaha menenangkan kepanikan penumpang yang menimbulkan efek bahaya jika sampai mereka tidak terkendali. Hanya sebagian penumpang yang mau mengerti. Salah satunya Reyno dan Jennie yang tak hentinya berpelukan.


"Bagaimana bisa tenang? Kita sedang berada di perairan luas. Jika sampai terjadi apa-apa. Semuanya pasti akan mati," serang penumpang lainnya.


Pramugari itu hanya diam. Ia sendiri juga tidak ingin menemui situasi macam ini. Keringat mulai bercucuran karena ini juga merupakan pengalaman buruk pertama untuk pramugari tersebut.


Jennie menggenggam tangan pramugari cantik yang berdiri di sampingnya. Pramugari itu menoleh dengan senyuman. Padahal, Jennie dapat merasakan bahwa seluruh tubuh pramugari itu gemetar ketakutan. Selayaknya manusia normal lainnya, ia juga memiliki rasa khawatir pada keselamatan dirinya sendiri. Namun sekali lagi, pramugari itu harus terlihat tenang demi meredam kepanikan para penumpang.


Tidak ada manusia yang tidak takut mati.


Asap yang mengepul dari arah belakang perlahan lenyap, penumpang sedikit lebih tenang walau ada sebagian yang masih teriak histeris.


Mereka dapat merasakan bahwa keadaan pesawat masih belum stabil. Terkadang oleng dan dapat dikendalikan kembali. Tidak ada yang tahu persis dengap apa yang terjadi pada penerbangan pesawat KOI AIR 574 pagi ini . Semua awak kabin dan petugas kompak menutupi demi meredamkan kepanikan para penumpang.


Selang beberapa waktu kemudian, dua pramugari datang memberikan intruksi agar para penumpang memakai jaket pelampung yang sudah disediakan di bawah kursi masing-masing. Tak lupa mereka mengingatkan agar jangan mengembangkan pelampung saat di dalam pesawat.


Seorang pramugari terus-menerus berteriak menjelaskan intruksi. "Semua penumpang harap pakai rompi darurat yang ada di bawah kursi duduk penumpang sebagai antisipasi jika pesawat ini jatuh. Pakaiakan dulu rompi pada tubuh Anda, baru Anda memakaikannya pada anak-anak dan lansia. Mohon jangan mengembangkan rompi atau jaket pelampung di dalam pesawat, termasuk saat terjadi kecelakaan atau kondisi darurat. Kembangkan jaket pelampung saat Anda sudah berhasil meninggalkan pesawat."


Intruksi terus dilakukan sesuai standar yang ada. Meski dalam hati mereka terdapat perasaan ketar-ketir apakah penumpang di pesawat ini masih dapat melihat matahari terbenam sore nanti.


"Tolong jangan bodohi kami! Cepat katakan apa yang terjadi. Apakah pesawat ini akan segera jatuh?" Bapak paruh bayah itu berteriak selagi para penumpang memakai rompinya masing-masing.


Para pramugari itu hanya bisa menenangkan tanpa menjelaskan. Karena memang prosedur kerja mereka seperti itu.


"Woi Pak Tua, lebih baik kita berdoa saja untuk keselamatan." Seorang ibu membela sang pramugari sembari menangis.


Banyak penumpang semakin panik dan ingin mengembangkan jaket pelampung di pesawat segera, padahal itu justru membahayakan. Meskipun begitu, para pramugari terus berusaha keras untuk memberikan edukasi darurat di dalam pesawat.


Keadaan di pesawat itu sungguh kacau balau. Reyno sibuk menenangkan istrinya di tengah tegangnya kejadian itu.


Jerit pilu semakin menggema di mana-mana. Semuanya saling bertanya tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tangisan dan doa terus dipanjatkan. Nama Tuhan diseru-serukan saat dalam situasi saat ini. Berharap ada keajaiban dan semua kembali normal.


"Apa kita semua akan mati?" Jennie bertanya dengan bibir gemetar. Ia tak henti-hentinya berdoa di dalam hati. Wajah anak-anaknya yang polos terus menjadi pemicu bahwa wanita itu belum siap untuk mati.


"Aku tidak mau mati di sini, Reyn. Aku masih ingin merawat anak-anak." Jantung terus berdebar hebat. Suara teriakkan tak hentinya menggema di mana-mana. Membuat Jennie mencicit dalam pelukan suaminya.


"Tenang Sayang, aku ada bersamamu. Jika kita mati, itu sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa. Kita di sini tidak sendiri, ada 204 penumpang dan beberapa awak kabin yang bertugas," terang Reyno sambil mengelus punggung belakang istrinya.


"Tapi bagaimana dengan anak-anak di rumah? Siapa yang akan merawat mereka nantinya, Reyn? Cilla dan Cello masih kecil. Masih butuh aku dan kamu." Mau bagaimanapun juga, Jennie adalah seorang ibu. Hatinya menjerit ngilu jika harus membayangkan kedua anaknya hidup tanpa orang tua. Jutaan rasa khawatir pada anak-anaknya melebihi ketakutan menghadapi mati yang sudah di depan mata.


Ibu dua anak itu menangis. Tubuhnya terus gemetar ketakutan meski Reyno sudah memeluk dan menenangkannya.


"Mereka adalah titipan Tuhan, Sayang. Meskipun tidak ada kita bersama mereka, Cilla dan Cello masih memiliki banyak orang yang menyayangi mereka. Percayalah padaku, khawatirkan dirimu sendiri sebelum mengkhawatirkan orang lain," ujar Reyno yang terus menenangkan kepanikan sang istri. Samahalnya dengan pramugari, ia juga merasa takut jika harus menghadapi kematian.


"Aku mohon tenang Sayang. Pasrahkan dirimu pada Tuhan."


"Tidak bisa, Reyn," bantah Jennie. Isak tangisnya tak dapat berhenti sama halnya dengan penumpang lainnya. Awan gelap beserta petir yang menyambar menemani jerit ketakutan seluruh penumpang.

__ADS_1


Reyno berseru di telinga Jennie agar sang istri dapat mendengar semua ucapannya.


"Mereka akan menikah dan menemukan kebahagiaan masing-masing. Sama halnya dengan aku dan kamu. Di manapun kita berada, kita masih dapat mendoakan mereka berdua. Kamu tenang saja, aku yakin Tuhan sudah memiliki rencana lain." Air mata Reyno jatuh bersamaan dengan takdir maut yang sudah berada di depan mata.


Tidak ada siapapun orang yang siap menjumpai kematian. Tidak juga ada orang yang mau ditawari mati sekalipun surga adalah jaminannya.


Pesawat kembali oleng. Semua yang ada di dalam pesawat itu menjerit pilu. Sampai pesawat tiba-tiba kehilangan tekanan udara dan membungkam semua mulut penumpang. Masker oksigen mulai diturunkan. Di mana para penumpang langsung menyambar sebelum mereka mengalami hipoksia atau hilangnya oksigen yang mengalir ke tubuh.


Keadaan pesawat semakin kacau. Kapten dan pilot sedang berusaha mati-matian untuk menstabilkan penerbangan agar dapat kembali normal. Namun nahas, pesawat hilang kontak karena cuaca yang mendadak buruk di luar perkiraan.


Ledakan pesawat dari kabin belakang juga mengakibatkan daya listrik tiba-tiba padam. Sehingga transponder tak berfungsi lagi dan hilang dari radar sekunder. Menyisahkan jerit kelam ditengah gelapnya pesawat tersebut.


Radar primer atau utama sendiri digunakan untuk mengetahui lokasi pesawat. Radar primer ini terdiri dari sinyal elektromagnetik yang memantul pada benda apapun yang mereka temui. Dengan begitu, radar ini bisa menunjukkan lokasi pesawat secara fisik di luasnya langit. Sementara radar sekunder bekerja dengan mengirimkan sinyal ke transponder pesawat.


Nah, transponder sendiri merupakan sinyal pemancar radio di kokpit yang berhubungan dengan radar di darat. Sinyal tersebut kemudian mengirim sinyal kembali yang menunjukkan lokasi pesawat berada dan beserta kecepatannya.


Seharusnya, apabila cuaca tidak mendadak buruk, lokasi pesawat tetap bisa diketahui, artinya pesawat tidak akan hilang kontak. Namun karena pesawat mulai tak terkendali akibat cuaca dan kecepatan yang sangat tinggi, maka pesawat akan hilang dari dua sistem radar baik primer maupun sekunder.


Jerit pilu masih menggema walau sudah tidak sekuat tadi. Sebagian ada yang sudah tak sadarkan diri karena kehabisan oksigen. Semuanya berlomba-lomba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Masker yang mulai habis isinya itu membuat sebagian orang panik. Kematian benar-benar sudah ada di depan mata. Bukan mati tenggelam, melainkan mati karena kehabisan oksigen.


"Ren maafkan aku," lirih Jennie dengan nafas tersendat-sendat. Wanita itu nyaris tak sadarkan diri karena kehabisan oksigen.


"Aku juga minta maaf. Tenanglah, mati adalah sesuatu yang datang tiba-tiba meskipun kita belum siap. Semua manusia sudah mendapatkan takdirnya masing. Mari kita berdoa, tutup mata kamu dan semuanya akan baik-baik saja." Reyno menukar maskernya dengan milik Jennie karena ia tahu bahwa oksigen di masker Jennie sudah mulai menipis.


Pria itu memeluk tubuh Jennie erat sambil memegangi maskernya. Dan sebaliknya Jennie juga melakukan hal yang sama. Pelukkan hangat itu, mungkin akan menjadi pelukkan terakhir mereka di dunia.


Selanjutnya, mereka akan terus berpelukkan tanpa ada rasa takut. Tanpa rasa sakit dan melupakan tragedi mengerikan yang terjadi hari ini.


Pesawat semakin terjun bebas dari ketinggian sepuluh ribu kaki. Sisi sayap kanan dan kirinya hancur karena tekanan grafitasi akibat kecepatan terjun yang semakin tak terkendali.


Sayangnya, semua penumpang sudah tidak sadarkan diri karena kehabisan oksigen saat pesawat masih mengudara. Masker yang diturunkan hanya dapat menolong kurang dari lima belas menit. Semua yang ada di dalam pesawat saling menyaksikan Sang Malaikat pencabut nyawa merenggut nyawa mereka masing-masing. Melihat betapa mengerikannya mati karena kehabisan nafas.


Selanjutnya, tidak ada kejadian drama seperti yang ada di fillm-film. Hidung pesawat jatuh tepat menabrak permukaan laut. Hancur dan berubah menjadi beberapa puing-puing. 204 penumpang, 9 awak kabin, pilot dan kapten terjebak bersama di dalam badan pesawat yang semakin tenggelam ke dasar perairan—cukup dalam, dingin, dan gelap.


Sungguh semua yang ada di atas pesawat itu tidak ada menyangka bahwa hari ini akan menjadi ajal bagi mereka. Seperti halnya Reyno dan Jennie yang masih sempat bercanda beberapa jam lalu. Mengirim video-video kemesraannya pada sang anak, membicarakan program hamil kedua, juga membahas semua hal manis tanpa berpikir bahwa itu merupakan terakhir kalinya mereka berpijak pada bumi.


Sekali lagi, kecuali Tuhan dan mereka, tidak ada satupun manusia yang tahu betapa mengerikannya tragedi itu. Pesawat sudah hancur di udara karena grafitasi. Nyawa yang satu-persatu terenggut karena kehabisan nafas. Juga tangan dan kaki yang terlepas dari badannya.


Air laut kembali tenang.


Menyisakan duka mendalam yang akan terus dikenang.


Juga aroma maut yang begitu pekat.


Tanpa bisa kita tatap lagi dengan lekat.


***

__ADS_1


__ADS_2