Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Judi balap liar


__ADS_3

***


Sampailah mereka di sebuah bangunan besar seperti gudang, Jennie memarkirkan motornya diantara deretan motor sport lainya. Ini adalah arena balap liar, di mana jalan yang akan mereka pakai adalah transportasi milik warga. Namun mereka membayar royalty kepada warga sebagai bentuk rasa terima kasih, karena sudah mengizinkan mereka menggunakan jalan ini untuk balapan.


Tempatnya sangat sepi, terpencil dan letaknya sangat jauh dari perkotaan. Sengaja para pembalap liar memilih tempat ini, karena yang paling aman dan jauh dari jaringan polisi. Ada banyak sekali pemuda yang datang ke tempat ini. Dari berbagai kota-kota besar, dan yang terbanyak berasal dari kota Jakarta dan Bandung.


“Jennie ... Jennie ... Jennie ....” Beberapa teriakan dan sorak penghuni di sana saling bersautan, memanggil nama Jennie saat mereka turun dari motor.


Sementara Reyno hanya mengikuti dengan perasaan takut. Cowok itu terus diam dan mengikuti kemanapun Jennie melangkah, sebelumnya Jennie sudah mewanti-wanti agar cowok itu diam saja kalau sudah sampai nanti. Untungnya ia mau menuruti perkataan Jennie.


“Selamat datang Queen!” Hendra. Pria yang menjadi sahabat Jennie sejak kelas satu sma. “Akhirnya kamu datang juga.” Biasanya Hendra memberanikan diri untuk memeluk Jennie, namun karena ada monyet di sampingnya, ia tidak mau melakukan itu. Percayalah, wajah marah Reyno lebih menakutkan dari ibu macan yang baru melahirkan.


“Kenalin ini Hendra, dia teman aku, dari jakarta juga.” Menoleh pada Reyno. “Ini suami yang aku ceritain waktu itu, Hen.”


“Ohh ... Salam kenal, Bro.” Menjabat tangan Reyno agak kasar. “Beruntung banget kamu bisa dapetin Queen Kita. Ayo duduk, anggap saja rumah sendiri.”


Rumah sendiri apanya, rumah hantu maksudnya? Tempatnya serem begini.


“Iya, terima kasih.” Reyno menjawab seadanya.


“Kamu sama hendra dulu, ya. Aku mau pemanasan buat balapan nanti sore.” Menepuk bahu Reyno. “Hen, titip suami aku, ya. Jangan sampai lecet.” Jennie segera berlari sebelum Reyno protes. Persetan dengan nanti, yang penting fokus balapan terlebih dahulu.


Cowok itu hanya memandangi kepergian Jennie dengan berat hati. Ada sekitar sepuluh laki-laki di sana, dan semuanya tidak ia kenal. Reyno membuka ponselnya untuk menutupi perasaan canggung.


“Jiahhh, pengantin baru emang dasar, ya. Ditinggal istrinya sebentar langsung murung begitu. Tenang aja, gak akan ada yang berani gondol istri kamu.” Meledek Reyno sambil terkekeh.


Sok akrab banget, sih!


“Nama kamu siapa, tadi?” Hendra mulai mengajak Reyno mengobrol. Walau sebenarnya enggan, tapi Jennie sudah menitipkan cowok itu padanya.


“Reyno!” jawabnya jutek.


“Asli Jakarta?” Hendra bertanya lagi.


“Iya.”


Satu teman Hendra mendekat, menyapa Reyno dengan gaya urakannya.


“Hallo Bro!” Lagi-lagi pundak Reyno di tepuk agak kasar. Cowok itu bahkan meringis kesakitan.


“Sakit tau!” balasnya tambah jutek.

__ADS_1


“Masa sakit? Badan gede begitu, kayak cewek aja.”


“Ya memang tangan Reyno sakit, kok!” Tambah semakin jutek.


“Idiiiih, laki kok manggil namanya sendiri. Jijik banget, dah!” Mencibir geli setengah merinding.


“Sttt ... Jangan ganggu, pergi sana!” Hendra mengusir temannya agar menjauh pergi. “Jangan peduliin orang di sini. Cuek aja, mereka memang begitu, urakan.”


“Hmmm.” Berdeham malas.


Reyno kembali memainkan ponselnya, ia tidak mau berbicara kepada siapapun. Hanya menjawab pertanyaan jika ada orang yang bertanya pada dirinya.


Sampai tidak terasa hari sudah menjelang malam, namun Jennie belum juga datang. Reyno sudah gusar, cowok itu sudah menghubungi ponsel Jennie berkali-kali, namun tidak ada jawaban sama sekali.


“Hendra!” Akhirnya Reyno memberanikan diri untuk bertanya.


“Kenapa Jennie belum kembali juga? Bukanya dia bilang hanya mau pemanasan sebentar.” Masih mengutak-atik ponselnya, menghubungi Jennie yang tidak mau mengangkat panggilanya.


“Dia pasti langsung ke arena balap, sebentar lagi juga selesai, biasanya sore begini sudah pulang.”


Kekhawatiran Reyno semakin menjadi, saat hari sudah mulai gelap, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.


“Eh, busetttt! Oke ... Oke ... Aku tanyakan pada orang yang berjaga di arena balap.” Hendra menyingkir dari hadapan Reyno, cowok itu segera menelpon temanya yang stand by di lokasi balapan.


Saat Hendra sedang sibuk menghubungi tiba-tiba Jennie datang ke markas, keadaanya sudah berbeda dari sebelumnya. Cewek itu seperti habis jatuh dari motor, ada lecet di beberapa lengan dan pipinya. Reyno juga melihat, namun anehnya ia tidak berkomentar sama sekali.


“Kamu ngga pa-pa?” Hendra segera menyambut kedatangan Jennie dengan raut wajah khawatir. “ Ko bisa begini?”


“Tadi ada aku sedikit tergelincir, tapi menang tiga putaran, hehehe.” Jennie menyeringai bahagia.


Bagi Jennie ataupun Hendri, jatuh saat sedang balapan motor adalah hal biasa. Asal masih bisa bangun dan melanjutkan pertandingan kembali. Namun tidak dengan Reyno yang melihat keadaan Jennie terluka, cowok itu langsung berubah tidak senang melihat banyak memar di tubuh istrinya.


Hanya Jennie yang mengerti, diamnya Reyno adalah sinyal bahaya. Di mana batas kesabaran cowok itu sudah habis.


“Aku pulang dulu ya, Hen! Makasih buat hari ini.” Menepuk bahu Hendra tiga kali. Sementara Reyno sudah berjalan di depan terlebih dahulu.


“Hmmm ... Reyn, mau langsung pulang atau makan dulu di luar?”


“Pulang!”


Mati, pasti dia marah banget.

__ADS_1


Akhirnya motor Jennie melaju pulang, selama dalam perjalanan Reyno terus diam. Bahkan beberapa kali ia tidak menjawab pertanyaan Jennie. Ya, dia marah melihat tubuh Jennie terluka, marah sejadi-jadinya.


Oke. Sampailah mereka di kontrakan ternyaman sedunia. Cowok itu langsung masuk ke dalam kamar, membanting tubuhnya dengan kasar.


“Reyn!” Jennie menarik tangan Reyno agar mau duduk. Namun cowok itu terus tengkurap tanpa bergeming.


“Kamu marah ya, maafin aku. Pasti kamu bete banget nungguin aku di sana.” Masih belum sadar dengan kesalahan yang ia buat.


“Tapi aku menang loh, Reyn. Kamu ngga mau ngasih ucapan selamat?” Bertanya dengan wajah sok jenaka.


“Hari ini aku dapat uang satu juta lima ratus, loh.”


Reyno semakin geram karena Jennie tak kunjung menyadari kesalahanya. Cowok itu bangun kembali, menusuk Jennie pipi memar Jennie dengan telunjuknya.


“Awkkk!” Gadis itu memekik kesakitan.


“Sakit?” tanya Reyno, raut kesal masih tercetak jelas di wajahnya.


“Iya lah, sakit. Ini kan memar,” balas Jennie sambil mengelus pipinya.


“Kalau sakit kenapa masih mau balapan?” Reyno mulai menunjukan sikap peduli, walau dengan logat marah-marah. “Mulai besok jangan balapan lagi!”


“Hah?” Jennie terperanjat kaget. “ Aku ngga pa-pa kok, Reyn. Ini ngga sakit!”


Kamu kayak Bunda aja, liat aku luka dikit langsung ngelarang untuk balapan.


“Aku ngelarang kamu balapan motor lagi.”


“Tapi, Reyn —.” Cowok itu menyela cepat. “ Aku suami kamu!"”Agak membentak.


Oke. Kali ini Jennie tidak membantah. Reyno menggunakan kata suami sebagai senjata yang paling mematikan.


“Terus kita mau makan apa? Hanya balapan cara tergampang untuk dapat uang, satu putaran aja dapat lima ratus ribu.”


“Besok Reyno mau cari kerja, kamu ngga usah balapan lagi.”


Makin terkejutlah seorang Jennie. Cowok seperti Reyno ingin bekerja. Tidak salah dengar kan? Apa kalian dengar juga? Reyno mau kerja. Ini bukan mimpi kan?


***


Vote nya dong... Pemirsa... Hehe.

__ADS_1


__ADS_2