
Suhu tubuh Reyno memanas seketika kala melihat dokter laki-laki sedang memeriksa tubuh istrinya. Bahkan dokter itu sudah memegang bagian intim milik Jennie menggunakan tangannya. Perasaannya mendadak kacau sekacau-kacaunya.
Bagian itu .... Gila, itu adalah tempat favorit milik Reyno. Bisa-bisanya dokter tidak tahu diri itu menyentuh tempat paling privasi yang selalu Jennie jaga hanya untuk suaminya.
"Anda mau mati, ya!" Reyno menyeret paksa dokter itu ke luar dari ruang persalinan.
Bugh!
Satu pukulan keras melayang. Sudut bibir dokter itu mengeluarkan cairan merah pekat akibat tinjuan maut Reyno berikan.
Kau harus mati di tanganku dokter keparat. Batin Reyno murka.
Bugh! Bugh Buhg!
Reyno meninju dokter itu secara membabi buta. Hatinya sudah benar-benar dipenuhi kegelapan. Hilang sudah kebanggannya sebagai lelaki pertama yang pernah menyentuh tubuh istrinya. Kini, tubuh istrinya sudah di sentuh orang lain juga, mungkin juga dokter keparat itu bukan hanya menyentuh, tapi juga menikmati bagian intim milik istrinya.
"Tuan, tolong hentikan! Se ... se ... sepertinya Anda salah paham, Tuan." Berhubung dokter itu tahu siapa Reyno, ia tidak mau melawan. Sang dokter lebih melilih untuk menikmati pukulan-pukulan yang Reyno berikan. Sesakit apapun itu.
"Salam paham kepalamu!" Tinjuan satu kali lagi menghatam perut dokter itu hingga ia merasakan mual di bagian perutnya.
"Tolong selesaikan ini dengan kepala dingin, Tuan Muda."
"Beraninya kau berbicara seperti itu. Saat kau menyentuk milik wanita, apa kau pernah memikirkan seperti apa perasaan suaminya. Bagaimana jika istrimu sendiri yang diperlakukan seperti itu oleh pria lain? Bagaimana, hah?"
Astaga. Pria imut ini sungguh pintar merangkai kata. Kenapa aku jadi merasa bersalah. Di mana jiwa prfesionalku sebagai dokter. Gerutunya di dalam hati.
Bila itu terjadi pada pria lain, mungkin saja mereka merasakan kemarahan yang sama seperti Reyno. Bedanya, mereka pasrah dan menahan amaranya demi keselamatan sang istri, sementara Reyno melupkan semua emosinya yang ia rasakan sepuas-puasnya.
"Tolong ... tolong ..."
__ADS_1
Bunda sudah keluar menjerit-jerit. Minta tolong ke sana- ke mari. Tidak lama kemudian ada dua satpam melerai perdebatan mereka. Kedua tangan Reyno langsung di cengkram kuat. Satpam itu memutar kedua tangan Reyno ke belakang dan memperlakukannya seperti seorang maling. Detik kemudian, kedua tangan Reyno terbogol di belakang punggungnya.
"Beraninya kalian memborgol tanganku. Lepaskan! Atau aku bakar rumah sakit ini," teriak Reyno yang sudah sangat hilang kendali. Matanya memerah bersamaan dengan air bening yang keluar dari sudutnya.
"Tenang, Reyn ... tenang. Pikirkan istrimu yang ada di dalam sana. Dia sedang berjuang untukmu, Nak." Bunda yang sudah menangis panik mencoba menenangkan Reyno sebisa mungkin.
"Bagaimana Reyno bisa tenang, Bunda. Pria itu sudah menodai istriku. Melihat dan menyentuh apa yang seharusnya menjadi milikku seorang. Dia pantas mati!" Ah, Reyno bisa gila bertahun-tahun jika membayangkan hal itu. Masalahnya, ia melihat dengan sangat jelas apa yang dokter itu lakukan. Membelai lembut bagian intim milik Jennie, memasukan jari-jemarinya. Heuh. Saat itu juga Reyno langsung membuat keputusan, Aku atau kamu yang mati, Dokter!
Satpam masih menahan bahu Reyno, kalau tidak ia pasti sudah menggunakan kakinya untuk menghajar dokter itu.
"Tuan Muda, saya adalah dokter, itu sudah merupakan pekerjaan saya. Bukan bermaksud melecehkan istri Anda. Ini adalah profesional kerja." Dokter itu menjelaskan, semabari meringis sakit karena pukulan Reyno cukup kuat. Sekalem apapun lelaki, kalau sudah mengamuk pasti mengerikan.
Salah satu suster keluar mencoba menyampaikan pesan Jennie dari dalam ruang persalinan.
"Tuan, istri Anda menyuruh saya untuk menyampaikan pesannya pada Tuan. Katanya, jika Tuan tidak mau berhenti mengamuk, istri Anda tidak akan mau bicara dengan Anda satu bulan." Bukannya padam, amarah Reyno langsung meninggi seketika.
"Jadi istriku lebih membela dokter sialan ini?" Matanya memicik tajam pada sang dokter yang sedang terpuruk menahan sakit di lantai. Deru napas Reyno semakin memburu. Pria itu sudah merasa sangat frustasi, putus asa, bahkan kebingungan sedari tadi, eh, ini malah dibuat cemburu oleh si dokter gila. Hatinya benar-benar kacau balau.
Heuhh. Dokter itu menghela lemas saat Reyno masuk ke dalam. Dua satpam itu menolong sang dokter, sementara suster dan bunda ikut ke dalam, takut Reyno ngamuk lagi di ruang persalinan.
"Dokter! Anda tidak apa-apa, Dok?" Kedua satpam itu membantu sang dokter untuk berdiri, lalu membawanya ke ruang pengobatan agar luka-lukanya cepat di tangani.
"Saya tidak apa-apa, mungkin ini adalah karma saya karena menjabat sebagai dokter OBGYN. Mungkin pria kecil itu juga wakil yang di pilih Tuhan untuk membalas para ayah-ayah lainnya yang cemburu karena istrinya di sentuh-sentuh olehku. Saya mungkin juga marah bila istri saya diperlakukan seperti itu oleh pria lain," ujarnya sembari meringis sakit.
Reyno masuk ke dalam, menghampiri sang istri yang sedang berbaring tenang, sepertinya kontraksinya belum datang lagi, wajah Jennie tidak terlihat sepeti orang yang kesakitan soalnya.
"Kenapa kamu mau diperiksa dokter itu, Je? Bukannya aku sudah bilang waktu itu, jangan mau di periksa oleh dokter laki-laki. Kalau dia naksir kamu gimana?"
Ya Tuhan, pikiranmu, Reyn. Mana ada seperti itu. Ini memang salahku. Sudah tahu suamiku ini mahluk astral. Beraninya memutuskan hal ini tanpa kesepakatannya. Jennie menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Eum, maaf Sayang. Katanya dokter itu adalah dokter yang paling bagus dan profesional di rumah sakit ini. Makannya aku mau melahirkan sama dia," lirihnya dengan perasaan bersalah.
"Aku bisa nyuruh papi buat cariin dokter wanita yang bagus, Je. Kenapa harus laki-laki?"
"Maaf, Reyn."
"Kamu selihkuh, Je. Kamu tega sama aku!"
Astaga. Salah satu perawat yang mendengar ucapan Reyno langsung merasa menjadi wanita paling sial sedunia. Drama keluarga macam apa ini? Istri mau melahirkan dibilang selingkuh.
"Maaf ya, Reyn. Aku salah, aku gak nurut sama kata-kata kamu. Aku menghianati kepercayaan kamu," lirih Jennie pada suaminya.
Ini istrinya punya masalah hidup apa, sih? Malah minta maaf, sudah tahu suaminya yang salah. Anak ABG dinikahin ya begini. Bucin. Gerutu sang suster dalam hati, kesal.
Wajah mereka memang masih terlihat seperti umur 16 tahunan, wajah jika sang suster berpikir seperti itu.
"Hati aku sakit, kamu tau ngga, sih!? Lelaki mana yang sanggup lihat istrinya di pegang-pegang bagian itunya sama pria lain."
Cukup, ya, Mas. Atau siapapun kamu. Jangan lebay, Please. Dia itu dokter.... Woi. Jika bukan karena tugas, perawat itu mungkin sudah kabur dari tempat ini.
"Maaf ya, Reyn. Aku udah suruh ganti dokternya, kok."
Maaf ... maaf mulu Mbaknya, ampun deh.
"Aku kayak gini itu karena sayang sama kamu. Gimana bisa kamu relain tubuh kamu dipegang lelaki lain, sedangkan ciuman pertamaku, malam pertamaku, dan semua anggota tubuh aku hanya kamu yang merasakannya, Je."
Cukup! Aku sudah tidak kuat dengan drama percintaan anak muda ini. Satu kali lagi mendapat pasien seperti ini, lebih baik aku risaint dan jualan cilok.
Suster itu pergi menjauh dari kedua pasangan konyol Reyno dan Jennie. Meredakan jiwa jomlonya yang meronta-ronta sedari tadi.
__ADS_1
***
Aku capek, nulis, likenya dong ..🤣