Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Reyno Mual


__ADS_3

"Ya Tuhan," kejut bunda saat pandanganya terarah pada meja makan. Ada Reyno dan Jennie yang sudah duduk menunggunya di sana, namun bukan itu masalahnya. Bunda salah fokus pada Reyno yang sedang telanjang dada. Apa anak itu ingin pamer tubuhnya yang bagus. Keterlaluan!


"Kenapa tidak pakai baju, Reyn?" tanya bunda disertai nada halus. Mendekat dengan membawa semangkuk sup dari arah dapur.


"Kenapa lagi? Tentu saja karena keinginan anak tersayang, Bunda. Reyno juga dinging gak pakai baju begini," ujarnya sambil menggigil.


"Jennie, jangan keterlaluan begitu sama suami kamu. Kasian Reyno, nanti masuk angin," ucap bunda menasehati.


"Jennie suka, Bun." Wanita nyidam selalu menang. Bunda memilih diam walau dalam hati kasihan pada menantu satu-satunya. Juga ingin tertawa setiap kali melihat bibir Reyno yang mengerucut manyun.


"Gak apa, Bun. Asal Jennie bahagia, sakitpun Reyno tidak masalah."


"Nah, begitu dong, itu baru suami aku tersayang," ucap Jennie seraya mentowel dua choco chips yang menempel di dada Reyno. Lalu tergelak seolah dunia miliknya sendiri. Tidak malu bahkan tak menganggap ada bunda di depannya.


Sementara bunda hanya menggeleng melihat kelakuan anaknya yang aneh bin ajaib. "Kalau begitu Bunda ke dapur dulu, mau buatin wedang jahe untuk Reyno, kasiah tuh, bibirnya pucat karena kedinginan." Lantas bunda pergi dan menghilang di balik pintu dapur.


"Kamu kedinginan?" Reyno Hanya mengangguk ketika Jennie bertanya, sama sekali tidak berani protes atau mengeluh sedikitpun.


"Sini aku peluk," ucapnya sambil mengepangkan tangannya. Reyno mendekat dan masuk ke dalam dekapan Jennie. "Kamu semakin ganteng kalau lagi gak pakai baju begini, keren!"


Hahaha. Ingin rasanya Reyno tertawa miris. Telanjang tanpa adanya kegiatan menyenangkan sama saja bohong. Huh. Sabar, sabarlah calon papah muda. Istri sudah di depan mata, namun menyentuhpun Reyno tak berani.


"Huekk ... Huek ... Huekk." Tiba-tiba Reyno merasa mual saat bibi datang membawa tempe mendoan yabg baru saja matang. Pria itu langsung berlari menuju kamar mandi terdekat.


Jennie yang panik langsung mengikuti Reyno ke kamar mandi, memijit leher belakang pria itu dengan gerakan pelan.


Segelas air putih yang baru saja Reyno minum keluar tanpa sisa, usus-usus Reyno serasa tertarik dan tenggorokannya mendadak pait. Tubuhnya langsung lemas tak berdaya, ditaruhnya kepala itu ke pundak Jennie dengan manja.

__ADS_1


"Pusing, Sayang," lirihnya dengan nada lemah. Jennie menenangkan pria itu, mengelus punggung Reyno seperti anak kucing.


"Reyno kenapa?" tanya bunda yang baru datang, memegang segelas wedang jahe di tangannya. "Masuk angin?"


"Tidak Bunda, Reyno tiba-tiba mual pas gak sengaja nyium bau tempe mendoan yang baru matang. Gak kuat rasanya. Reyno mau ke kamar aja," ucap Reyno, masih belum bergeming dari pundak sang istri.


"Itu namanya efek nyidam, sabar ya, memang seperti itu kalau istri lagi hamil. Terkadang yang mual malah pihak laki-laki."


"Kalau begitu bagus lah, bunda. Istri aku gak perlu sengsara ngrasain mual yang nyiksa begini."


Sontak aura terkejut membungai sekeliling wajah Jennie, mulia banget sih, suami kecil yang satu ini. Jadi tambah sayang, kan.


"Aku bawa Reyno ke kamar dulu ya, Bun. Kasian dia, sudah lemas banget badannya."


"Suruh minum wedang jahe dulu nih, baru ke kamar. Nanti sarapan kalian biar diantar bibi ke kamar," ucap Bunda.


Setelah meminum wedang jahe, Reyno pun diantar Jennie menuju kamar. Lalu menyantap sarapan paginya berdua di dalam sana. Reyno hanya makan sedikit, karena efek mualnya masih terasa sampai sekarang.


"Kamu butuh apa Reyn? Ada yang bisa aku bantu?"


"Butuh peyuk ... tiyum, sama ditayang-tayang," keluhnya dengan nada manja.


Huek, Jennie rasanya ingin muntah mendengar ucapan Reyno. Duh, untung ganteng kamu Reyn, Jadi terselamatkan. Malah terlihat manis dan menggemaskan wajahnya.


Jenniepun naik ke atas ranjang, menghujani kecupan dan mengelus bagian perut Reyno. "Sabar ya Sayangnya aku, itu kan perbuatan jahat kamu karena hamilin wanita. Jangan semangat pas bikinnya aja, tapi giliran udah begini kamu lembek kayak tape."


"Huhh. Kamu mau nenangin apa mau bikin panas hati aku?" protes Reyno tidak terima.

__ADS_1


"Uh. Salah ya? Maaf, deh. Sini aku sayang-sayang biar cepat sembuh."


Dengan telaten, Jennie kembali memijat kepala Reyno. Memberikan sentuhan-sentuhan menenangkan di bagian kepala dan perutnya. Lalu si bayi besar mulai bertingkah, tangan nakalnya mulai menyentuh beberapa bagian sensitif milik Jennie. Plak! Jennie menepuk tangan Reyno kasar


"Tangan kamu ya, Reyn," geramnya sembari menggelengkan kepala. "Jadi sebenarnya kamu sakit apa engga, sempat-sempatnya mesumin aku begini," protes Jennie. "Otak kardus!" imbuhnya kemudian


"Cuma pegang, pelit banget sih!"


"Bukan begitu, tapi kan kamu lagi sakit?"


"Hanya sakit mual, yang di bawah masih sehat, kuat 10 ronde kalo ada sarana tempatnya." Buahaha. Jennie tergelak nendengar ucapan Reyno, apa lagi bibirnya mengerucut jadi tambah imut dan menggemaskan.


"Cie .... Kamu pengin ya?"


Apaan? Gak peka, malah godain aku.


"Kalo pengin emang kamu mau?" protesnya dengan kalimat telak.


"Ya engga mau," tolaknya Jennie tanpa dosa. "Kamu main solo aja, Sayang." Tangan Jennie menunjuk kamar mandi, ada seringai tawa yang ia tahan.


Cih! Beraninya kamu menyarankan seperti itu. Untung lagi hamil, coba kalau tidak. Aku habisin kamu sampai ke tulang.


"Ih, ngambek ya?"


"Siapa yang ngambek? Daripada main solo mending main ke rumah janda," balas Reyno sok memanasi.


Pipi Jennie langsung memerah, aura di sekitarnya berubah hitam dan mencekam. Selanjutnya, ada kemarahan yang tidak bisa di jelaskan, namun dapat teratasi dengan kegiatan ranjang yang sudah lama tidak terjadi. Reyno dapat jatah setelah sekian lamanya.

__ADS_1


***


Kalian bosen gak sih, sama bonus chaptermya, emang udah gk ada konflik lagi, jadi begini, tunggu season dua baru mulai fokus konflik, niatnya aku mau bikin edukasi pernikahan, dan pemecahan solusi, ada yang minat baca gak? Ya buat, pengetahuan aja, sih. Mau gak?


__ADS_2